Bismillahhirrahmanirrahim: بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم – Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ – ...

Minggu, 22 Mei 2011

antara Lailatul Qadr & Itqun Minan

Begitu cepat waktu bergulir. Tidak terasa kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Marilah kita merenungkan sejenak, sudah maksimalkah ibadah yang dilakukan selama Ramadhan ini? Akankah kita meraih kesuksesan dan menjadi alumnus Ramadhan dengan predikat “mumtaz” (taqwa)? Alangkah meruginya apabila seseorang tidak bisa memaksimalkan kesempatan Ramadhan untuk beribadah dan kembali bergelimang dosa setelah bulan agung tersebut berlalu. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. menyatakan bahwa orang-orang yang bertemu dengan Ramadhan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah Swt. termasuk golongan yang merugi. Bagi seorang Muslim, seyogyanya Ramadhan menjadi bulan yang sangat dirindukan karena penuh dengan keagungan, keberkahan, dan ampunan Allah Swt. Kita dianjurkan untuk menyambut Ramadhan dengan sepenuh hati, suka cita, kesiapan ruhiyah dan jasadiyah, serta dengan pengetahuan yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Sehingga kita tidak menjadikan ibadah apapun pada bulan Ramadhan sebagai rutinitas tahunan, tetapi lebih dari itu, Ramadhan dapat dijadikan sebagai bulan peningkatan keimananan dan ketaatan kepada Allah Swt. untuk bekal bagi sebelas bulan berikutnya. Sebagai wahana latihan keikhlasan, kesabaran, kepekaan sosial, hamasah, dan konsistensi dalam ibadah, hendaknya seorang Muslim meluruskan niat serta berupaya untuk menyempurnakan ikhtiar ibadahnya dalam melewati hari perhari pada Ramadhan sebagai ladang amal shalih sejak hari pertama hingga akhirnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Salman al-Farisi disebutkan bahwa awal Ramadhan adalah rahmah, pertengahannya maghfirah, dan penghujungnya itqun minnan naar (pembebasan dari api neraka). Untuk meraih semuanya kita mesti melaluinya secara berurutan. Pembebasan dari api neraka tidak akan tercapai sebelum diperoleh maghfirah Allah Swt. Maghfirah tidak akan direngkuh, sebelum mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah Swt. Ketiga hal tersebut adalah hadiah rabbani yang telah dijanjikan oleh Allah Swt. Dalam sebuah hadits qudsiy, Allah Swt. menyatakan bahwa setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, karena puasa untuk Allah Swt. dan akan diganjar secara langsung oleh-Nya. Terkait upaya untuk memaksimalkan ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, sebaiknya kita mengisi hari-hari tersebut dengan mengoptimalisasikan ibadah secara “ihsan” kepada Allah Swt. karena di dalamnya terdapat satu malam, Lailatul Qadr, yang dimuliakan kedudukannya oleh Allah Swt (khairummin alfi syahrin). Pada malam tersebut, jika ada seorang hamba yang memohon ampunan, maka Allah akan mengampunkan dosanya. Mengenai keutamaan malam tersebut, dalam Surat al-Qadr, Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur'an pada malam Lailatul Qadr. Tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan. Selamatlah malam itu hingga terbit fajar." Oleh karena itu, suri tauladan kita, Nabi Muhammad Saw. begitu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai ikhtiar untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadr melebihi waktu-waktu yang lainnya. Istri Rasulullah Saw., Ummul Mu’minin Aisyah Ra. berkata, “Rasulullah Saw. sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” Jika Rasulullah Saw. saja, seorang kekasih Allah Swt. yang telah dijamin masuk surga, masih melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk meraih malam Lailatul Qadr, lantas bagaimana dengan kita, seorang hamba yang tidak dapat dipungkiri banyak melakukan kekhilafan dan dosa? Kita tentu memiliki kebutuhan yang luar biasa, melebihi Rasulullah Saw., untuk mendapatkan keridhaan dan maghfirah Allah Swt. sehingga terbebas dari api neraka (itqun minnan naar). Sudah selayaknya barangkali bagi kita untuk menghidupkan hari-hari, baik siang maupun malam, pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sebagai upaya taqarrub ilallah. Dengan merahasiakan kapan Lailatul Qadr dan hanya mengisyaratkannya pada sepuluh malam terakhir, bahkan lebih spesifik pada malam-malam ganjil, Allah Swt. seakan-akan memotivasi kita agar meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah pada sepuluh terakhir Ramadhan. Hal tersebut barangkali sebagai ujian untuk mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang benar-benar beriman dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih kemuliaan malam tersebut. Bahkan Rasulullah Saw. secara spesifik mendorong kita, “Carilah dia (Lailatul Qadr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil,” (hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Lailatul Qadr adalah malam yang memiliki kemuliaan luar biasa. Allah Swt. melipatgandakan kebaikan di malam tersebut bagi orang-orang mu’min agar meraih kesempurnaan untuk mencapai surga. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu kitab tafsir, asbabun nuzul ayat mengenai Lailatul al-Qadr, bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka sebagai nafhat rabbaniyah bagi umat Nabi Muhammad Saw., Allah Swt. memberikan satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan untuk beribadah kepada Allah Swt. dan meraih keridhaan-Nya. Dengan demikian, dianjurkan bagi seorang muslim untuk menghidupkan malam tersebut dengan sebaik-baiknya ibadah kepada-Nya, antara lain sebagai berikut: a. I'tikaf, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw. Ummul Mukminin 'Aisyah Ra. menyatakan bahwa Rasulullah Saw. selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. b. Qiyamul Lail (shalat malam). Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadr dengan qiyamul lail karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lain," (HR. Bukhari). c. Berdoa dan berdzikir, Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra. bahwa beliau berkata: "Saya bertanya: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah Lailatul Qadr, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: "Ucapkanlah: "Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu 'anni (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya." Terakhir, patut juga kita renungkan sebuah ungkapan, "Laa takun Ramadhaniyyan, walaakin kun Rabbaniyyan.” Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan. Maksudnya, peningkatan ibadah dan nilai-nilai spritual yang lain harus tetap dijaga secara konsisten sepanjang waktu, meskipun Ramadhan kembali berlalu dari kita mengikuti kehendak Allah Swt. sebagai Dzat Yang Maha Penentu. Semoga kita berhasil meraih kemenangan dan menjadi hamba-Nya yang bertaqwa dan terbebas dari api neraka, minal muttaqin wa ‘uttaqaa’ minnan naar, Allahumma amin.