" Allah akan senantiasa
memberikan bimbingan kepada orang-orang yang beriman untuk mengeluarkan
dari alam kegelapan menuju ke alam yang penuh dengan cahaya yang terang
benderang "
(QS.2:257).
Sesungguhnya Allah telah
mengilhamkan kepada manusia jalan yang baik/taqwa (dalam bentuk cahaya
yang terpatri di dalam lubuk hati sanubari yang paling dalam = IMAN) dan
buruk (fujur) dan Allah senantiasa akan menyempurnakan cahaya-Nya yang
ada pada manusia bila mereka selalu mengasah/melatih untuk menggunakan
segala macam ni'mat yang telah diberikan, walau orang-orang yang berada
di alam kegelapan (orang-orang yang memiliki amalan/perbuatannya jauh
dari agama atau yang lebih dikenal dengan istilah kafir/kufur atau
berbuat musyrik/syirik) membencinya dan tidak senang bila cahaya Allah
terpancar di dalam diri setiap orang yang beriman, sebagaimana firman
Allah swt : "Yuriiduuna Liyuthfiuu Nuurollahi Biafwahihim Wallohu
Mutimmuu Nuurihi Walau Karihal Kafirun (Orang-orang kafir/musyrik itu
selalu berusaha ingin memadamkan cahaya-cahaya Allah di dalam diri
manusia dengan do'a-do'a dan ucapan-ucapan mereka, akan tetapi Allah swt
senantiasa menyempurnakan cahaya-Nya sehingga terhunjam lebih dalam di
hati orang yang beriman kepada-Nya)". (QS.61:8).
"Kafir" adalah orang
yang ingkar kepada Allah, sedang "Kufur" adalah perbuatannya, dan
"Musyrik" adalah orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu,
sedang "Syirik" adalah suatu bentuk perbuatan yang mengandung
makna menduakan/persekutuan.
Banyak orang Islam yang
melakukan perbuatan-perbuatan kufur dan syirik/mempersekutukan Allah
tanpa disadari, salah satu contoh : seseorang yang bila mendapatkan
kesuksesan atau keberuntungan, lalu dia berkata karena kegigihan dan
hasil usahanya semata, maka sebenarnya orang tersebut telah melakukan
suatu bentuk perbuatan yang kufur, bisa juga telah berbuat syirik,
karena telah meniadakan rahmat Allah yang telah memberikannya rizqi yang
berupa keberhasilan.
Jadi sangat penting sekali
cahaya bagi kehidupan ini karena dengan adanya cahaya berarti terkandung
pula energy di dalamnya, semakin besar dan terang cahaya tersebut
berarti semakin banyak pula kandungan energynya, sampai-sampai fisikawan
dunia peraih hadiah noble di bidang fisika (Albert Eistein) membuat
suatu rumusan : E = MC2 yang
berarti : Energy = Massa X Cepat X Cahaya, jadi sangat
masuk akal rumusan ini baik secara keilmuan maupun secara tingkah laku
manusia di alam jagat raya ini, contoh : bila kita melihat setiap
peperangan antara Muslim dan Kafir, pada akhirnya selalu dimenangkan
oleh kaum Muslimin karena dinilai lebih berEnergy/memiliki Energy yang
sempurna, sebagaimana penjabaran di bawah ini dari kasus di atas :
M = massa/pasukan
perang,
C = cepat dalam
menghadapi tantangan lawan/musuh, dan
C = cahaya
keimanan yang selalu terpatri di dalam hati para pejuang,
tapi ada pengecualian bila
setiap pasukan muslim tidak memiliki nilai cahaya keimanan maka akan
sama dengan kaum kafir bahkan pasukan muslim pun akan terkalahkan,bahkan
lebih parah dan banyak lagi contoh lainnya.
Maka dari itu, penting
sekali makna cahaya (baik hakekat cahaya maupun kiasan saja yang berupa
keimanan) dalam menerangi kehidupan kita, apalagi cahaya tersebut
digunakan untuk amal kebajikan seperti sistem pengobatan alternatif yang
dilakukan di yayasan Nur Syifa' yaitu pasien dibimbing untuk
menghidupkan hati nuraninya agar menerima getaran dan percikan cahaya
Allah (Nur-Ilahi) yang sudah terkandung dalam dirinya dan yang dialirkan
oleh Bpk. HM. Bambang Irawan dan Ibu Hj. Retno Dewi ke dalam diri si
pasien, apalagi adanya program pembersihan dan pelatihan buka Aura
yaitu dengan menghadirkan dan membangkitkan cahaya Allah yang telah ada
di dalam diri sehingga menampilkan suatu gerakan-gerakan yang lembut
yang seakan-akan membawa kita terbang melayang. Itulah Nur-Ilahi.
Oleh sebab itu,
manfaatkanlah anugerah yang Allah telah berikan kepada kita dan
berlatihlah selalu agar cahayanya lebih terang-benderang dan dapat
membimbing kita menjadi Insan Kamil (manusia sempurna).
Allah swt dalam Al-Qur'an
menyatakan bahwa :
"Allah
(pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah
adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita
besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang
bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon
yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah
timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya
(saja) hampir-hampir menerangi, walaupuntidak disentuh api. Cahaya di
atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa
yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".(QS.15:35)
Wallohu a'lam