Bismillahhirrahmanirrahim: بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم – Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ – ...

Senin, 23 Mei 2011

kekuasaan yang lupa

Satu kata yang selalu bisa menjadi topik yang panas, kata itu adalah KEKUASAAN. Apa sih kekuasaan, Kekuasaan menurut Max Weber (sosiolog dan ahli ekonomi politik berkebangsaan Jerman) adalah kemungkinan yang membuat seseorang di dalam suatu hubungan social berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan keinginannya sendiri dan menyingkirkan segala halangan yang melintas di hadapannya. Beraneka ragam cara mendapatkan kekuasaan, tidak usah aku tulispun pastilah semuanya tahu. Bagaimana caranya, terutama untuk mendapatkan kekuasaan didalam suatu Negara, baik kekuasaan diparpol ataupun kekuasaan di system pemerintahan. Tapi aku gak mau nulis masalah kekuasaan terlalu dalam takut kalau salah, aku cenderung ingin menilik sesuatu yang mungkin sering dilupakan setelah kekuasaan itu tergapai. Sesuatu yang hanya ramai di bicarakan jadi topic ketika ingin mendapatkan kekuasaan, sesuatu itu adalah kemakmuran rakyat kecil (miskin), rakyat yang selalu merintih saat sakit, rakyat yang selalu merintih saat hujan, rakyat yang selalu ingin bunuh diri ketika melihat anak-anaknya hany mengikuti mereka berkeliaran dijalan padahal mereka menginginkan anak mereka sekolah, mereka menginginkan anak mereka tidak menjadi pemulung, tidak menjadi gelandangan yang hanya bisa meraup nasi. images-4Sebenarnya gak ada yang mau sakit, tapi kalau sakit sudah datang kita harus berobat, kalau kita ada uang pasti langsung saja berangkat, tetapi kalau tidak punya uang……”. Masih sering aku mendengar banyak sekali orang-orang miskin kesulitan berobat dengan alasan mereka tidak punya uang (pastinya), ada program jaminanan kesehatan untuk orang miskin tapi tidak tahu kenapa masih banyak yang mengeluh tidak dilayani dengan baik, tidak dilayani seperti layaknya orang sakit yang membawa uang yang banyak, bahkan yang paling miris ketika mendengar kata-kata “aku tidak bisa berobat karena aku orang miskin”. Uft….. Rumah beratapkan langit, ketika hujan langitpun mengguyurkan air ke anak-anak mereka, mereka harus berlari mencari atap lagi untuk bisa berteduh. Air matapun mengucur ketika mereka melihat langkah-langkah mereka semakin gontai, langkah mereka semakin tidak menentu karena kehidupan semakin sulit, kehidupan semakin tidak bisa diajak kompromi. Umur terus menggerogoti, anak-anak mereka masih ikut berkeliaran tanpa ilmu tanpa ada yang peduli betapa pedihnya melihat anak-anak mereka tidak bisa mengenyam pendidikan. Akhirnya dalam benak mereka berkata “anakku terimalah warisan dari orang tuamu ini, kamu tetap menjadi pemulung, kamu tetap menjadi pengemis, kamu tetap berkeliaran di jalan, tidak usah mimpi mendapatkan kekuasaan, tidak usah bermimpi menjadi presiden, tidak usah bermimpi menjadi anggota DPR (sang wakil rakyat), kamu hanyalah anak pemulung, anak orang miskn yang hanya bisa tidur beralaskan kardus bekas, yang hanya bisa makan kalau hasil memulungmu bisa terjual”miskin1 Anda bapak-bapak, ibuk-ibuk yang sekarang berkuasa, dengarkanlah rintihan orang miskin yang semakin menjerit, dengarkanlah bahwa orang miskin sekarang kesulitan membeli beras karena mahal, dengarkanlah bahwa anak-anak kami akan tetap jadi orang miskin kalau kami engkau singkirkan, engkau lupakan. “Tidak usah dulu memikirkan mencerdaskan bangsa, tapi pikirkanlah dulu perut kami, kesehatan kami, kesejahteraan kami. Kalau semua itu bisa, kami yakin pendidikanpun akan bisa kami raih”. images-5Semoga engkau tergugah para penguasa, jadilah air yang bisa berjalan ketika menurun, tetapi bisa meresap jauh kedalam, janganlah engkau selalu berjalan ke atas mencari sesuatu yang lebih tinggi, menurunlah sesekali, lihat dibawahmu ada yang harus engkau perhatikan.