Fir’aun, sebagaimana yang direkam oleh Al-Quran menyatakan:“Wahai
kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah)
sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak
melihat(nya)?” (Qs. Az-Zukhruf [43]: 51).
Ketika Allah memberikan tawaran kepadanya (lewat rasul-Nya
Musa) untuk membersihkan dirinya dari kesesatan dan diseru kepada
jalan Tuhan: agar ia takut kepada-Nya. Bahkan, Musa memberikan mukjizat yang besar kepadanya. Ia malah mendustakannya dan mengumpulkan “hamba-hamba” paksaaannya dan berkata: “Wa ana rabbukum al-a’laa” (Akulah tuhanmu yang paling tinggi”) (Qs. An-Naazi`aat [79]: 18-24).
Sosok Haman, adalah seorang teknokrat
Fir’aun yang tidak tahu kebesaran Tuhannya. Ia dibodohi oleh Fir’aun
untuk membuat tangga-tangga ke atas langit: untuk melihat Tuhan Musa.
Seharusnya ia lebih tahu akan kemampuannya: tidak bisa melakukan itu.
Bukankah Fir’aun, sebagai “tuhannya”, juga tidak bisa membuatnya? Tapi
memang maksud mereka (hanya) ingin “memfitnah Allah”, jadi segala hal
seolah-olah mungkin untuk dikerjakan.
Tokoh Qarun, adalah konglomerat yang tidak tahu bersyukur. Kemewahan dan kekayaan yang dimilikinya malah menjadikan dia sebagai “pemimpin” para konglomerat yang tidak mau berzakat; tidak menyantuni fakir-miskin, panti-panti asuhan dan panti jompo.
Karena mereka diajarkan oleh Qarun bahwa orang-orang yang miskin itu
disebabkan oleh perbuatan mereka: malas untuk mencari rezeki dari
Allah. “Mana mungkin kami berikan harta kami dengan cuma-cuma?
Harta ini kan milik kami, jerih-payah kami, hasil keringat dan banting-tulang kami. Maka wajar dong kami menikmatinya”. Itulah mungkin yang biasa dikatakan oleh “keturunan” Qarun hingga hari ini, dan hingga hari Kiamat tiba.
Tentu lain lagi dengan Karl Marx. Ia
memfitnah Allah dengan mendustakan agamanya. Ia ke mana-mana
mengkampanyekan bahwa agama adalah ‘candu’ dan ‘opium’ masyarakat. Maka
berduyun-duyunlah orang meninggalkan agama. Pada gilirannya orang-orang
itu mengikuti slogan Nietzsche: “Tuhan sudah mati!” Memang, pada awal
abad 19, ateisme benar-benar telah menjadi agenda. Kemajuan sains dan
teknologi melahirkan semangat otonomi dan independensi baru yang
mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan.
Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl
Marx, Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun
tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat
buat Tuhan.
Manusia, selalu saja lupa akan kebesaran
Allah. Ia paling ingat kepada Allah ketika merasa susah, ketika sakit,
ketika ditimpa musibah. Fir’aun sendiri ketika menjelang ajalnya di
tengah laut malah memanggil-manggil Tuhannya:
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil
melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya,
karena hendak menganiayai dan menindas (mereka); hingga ketika Fir’aun
itu itu hampir tenggelam, ia berkata: “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan
melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk
orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (Qs. Yunus [10]: 90). Itulah Fir’aun, ketika maut menjelang ia baru mengaku Muslim.
Dalam Al-Quran dengan gamblang dijelaskan tipe manusia seperti ini:
“Manusia tidak jemu memohon
kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka, mereka menjadi putus asa
lagi putus harapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat
dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, “Ini
adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kimat itu akan datang. Dan
jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan
memperoleh kebaikan di sisi-Nya.” Maka Kami benar-benar akan
memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan
dan Kami akan rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami
memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri;
tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa” (Qs. Fushshilat [41]: 49-51).
Manusia memang rentan untuk lupa diri
dan “lupa daratan”. Kalau sudah berkuasa, ia selalu membuat kerusakan
di muka bumi: menganggap bahwa ia tidak membutuhkan orang lain dan suka
memutuskan tali silaturahmi. Inilah yang dikecam oleh Allah:
“Maka apakah kiranya jika kamu
berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan
hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh
Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan
mereka” (Qs. Muhammad [47]: 22-23).
Kalau sudah kaya, biasanya manusia
“enggan” untuk memperhatikan orang sekitar. Fakir-miskin seolah-olah
mengganggu pemandangan mereka. Orang-orang yang mengidap penyakit
“kronis”, yang membutuhkan uluran tangan dianggap sebagai usaha untuk
menggerogoti kekayaan mereka. Seandainya kita sadar bahwa Allah Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, kita tidak akan bersikap bakhil kepada
orang.
Kita akan mudah memberi dan tidak
mengharap balasan, kecuali ridha Allah swt. Merupakan rahmat Allah kita
tidak dimintai “pajak udara” atau pajak air. Apa sulitnya bagi Allah
untuk tidak menurunkan hujan dari langit? Apakah tidak bisa Allah untuk
menghentikan udara satu detik saja? Namun Allah memberikan kesempatan
kepada mereka yang memiliki bakat warisan dari Fir’aun, Haman dan Qarun
itu. Apakah ada yang menginginkan hartanya tidak berguna, ketika
menjelang mati, ketika ia ingin bersedekah namun tidak orang yang
menerimanya? Na’udzubillah min dzalik!
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah swt
“menggugat” orang-orang kaya yang lupa diri: yang tidak menyadari
asal-usul kekayaannya. Benar-benar Allah sedang menggugat mereka! Dari Abu Hurairah,
ia berkata: “Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya, pada hari kiamat
Allah akan berkata, “Wahai anak Adam, aku sakit tapi engkau tidak
menjenguk-Ku.” Ia menjawab, “Wahai Tuhan, bagaimana mungkin aku
menjenguk-Mu, padahal Engkau Tuhan semesta Alam.” Allah berkata, “Apakah
engkau tidak tahu kalau hamba-Ku si fulan sakit, tapi engkau tidak
menjenguknya. Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau datang
menjenguknya, niscaya engkau mendapatkan-Ku berada di sisi-Nya? Wahai
anak Adam! Engkau telah Kuberi makan, namun engkau tidak memberi makan
Aku.” Ia menjawab, ‘Wahai Tuhan, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan,
sedangkan Engkau pemilik alam ini?” Allah berkata, “Tidakkah engkau
tahu bahwa hamba-Ku si fulan telah memberimu makan, namun engkau tidak
memberinya makan. Seandainya engkau memberinya makan, pasti engkau akan
menemukannya di sisi-Ku. Wahai anak Adam! Aku telah memberimu minum,
tapi engkau tidak memberi-Ku minum.” Ia berkata, “Wahai Tuhan! Bagaimana
mungkin aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan alam semesta?”
Allah menjawab, “Hamba-Ku si fulan telah memberimu minum, namun engkau
tidak memberinya minum. Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau
memberinya minum, engkau akan mendapatinya di sisi-Ku.” (HR Bukhari).
Tentunya, sebelum hari kiamat datang,
kata Allah, kita harus sudah punya niat untuk bisa berbagi rasa,
tenggang rasa dan tepa selira, perhatian dan harta. Karena jika sudah
tiba hari Kiamat itu, tidak ada lagi yang namanya jual-beli (transaksi),
tidak ada yang namanya teman, juga tidak ada lagi permintaan syafaat
(Qs. Al-Baqarah [2]: 254). Pada hari itu, tidak bermanfaat lagi harta
dan anak-anak yang kita miliki, kecuali yang mendatangi Allah dengan qalbun salim, hati yang bersih (Qs. Asy-Syu’ara [26]: 88-89).
Tentunya sebelum Allah menggugat, masih ada waktu!