Qalbu yang sehat mengembara
dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana.
Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan
putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan
sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan
segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu ��alaihi wasallam
bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan.” (HR. al-Bukhari)
Ketika qalbu seseorang sehat,
maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya,
sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu
tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya
sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.
2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wata��ala
Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah
selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu
wata��ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah,
mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada
kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan
ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan
tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya,
bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah
semata.
Maka qalbu tersebut akan selalu
mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan
ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh
benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain
daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling
dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah
subhanahu wata��ala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul
diutus dan kitab-kitab diturunkan.
Abul Husain al-Warraq berkata,
“Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak
Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah,
bukan selain-Nya.”
Oleh karena itu terputusnya
seseorang dari Allah subhanahu wata��ala�nlebih dahsyat bagi orang-orang
arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah
adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama
manusia.
3.Tidak Bosan Berdzikir
Di antara sebagian tanda
sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah
subhanahu wata��ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi
kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada
orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada
Allah subhanahu wata��ala atau saling mengingatkan dalam kerangka
berdzikir kepada-Nya.
4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir
Qalbu yang sehat di antara
tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka
dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang
bakhil yang kehilangan hartanya.
5. Rindu Beribadah
Qalbu yang sehat selalu rindu
untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata��ala,
sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan
minuman.
6.Khusyu’ dalam Shalat
Qalbu yang sehat adalah jika
dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan
sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan
bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di
dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk
hati dan jiwa.
7.Kemauannya Hanya kepada Allah
Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata��ala.
8. Menjaga Waktu
Di antara tanda sehatnya qalbu
adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma,
melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.
9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa
menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi
perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk
meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba’ah
(mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata��ala
dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu
dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu
wata��ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa qalbu
yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada
sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata��ala, mencintai-Nya dengan
sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah,
amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan
tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap
pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang
diridhai dan dicintai-Nya.
Berkhalwah (menyendiri) untuk
mengingat Allah subhanahu wata��ala lebih dia sukai daripada bergaul
dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya.
Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia
mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera
mengingat firman-Nya,
�Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:27-28)
�Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:27-28)
Dia selalu mengulang-ulang ayat
tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari
Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan
Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat
kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya,
ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan
ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.
Ketika disodorkan kepadanya
perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, “Aku
penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku
mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak
mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.��
Apabila ada takdir menimpanya
maka dia mengatakan, ” Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan
membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau
adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk
bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan
bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada
tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat
memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat
berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari
dari-Mu.��
Dia mempersembahkan segalanya
hanya untuk Allah subhanahu wata��ala, dan dia hanya bersandar
kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia
berkata, “Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat
dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku.” Jika dia kehilangan
sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, “Telah disingkirkan keburukan
dari sisiku.”
Semoga Allah subhanahu
wata��ala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari
penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.
Sumber: Mawaridul Aman al
Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh
Ali bin Hasan bin Ali al-Halabi.
————–
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin
