Kebenaran Ha Datang dari Allah
فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَماَذاَ بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ فَأَنَّى تُصْرَفُوْنَ“Maka itulah Allah Rabb kamu yg sebenarnya. mk tdk ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. mk bagaimanakah kamu dipalingkan ?”
Penjelasan Mufradat Ayat
فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ
“Maka itulah Allah Rabb kamu yg sebenarnya”
Ayat ini menyebutkan tiga dari nama Allah k
yaitu Allah yg mengandung sifat uluhiyyah bagi-Nya Ar-Rabb yg mengandung sifat Rububiyyah bagi dan Al-Haq yg mengandung sifat kebenaran tentang wujud-Nya kebenaran tentang firman-Nya syariat-Nya dan seluruh janji-Nya. Allah telah memberi nama diri dgn “Al-Haq” dlm berbagai tempat dlm Al Qur`an seperti firman-Nya:
ذَلِكُمُ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Yang demikian itu krn sesungguh Allah Dialah yg haq dan sesungguh Dialah yg menghidupkan segala yg mati dan sesungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
فَتَعاَلَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang haq; tdk ada sesembahan selain Dia Rabb ‘Arsy yg mulia.”
Disebutkan dlm Shahih Al-Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbas c
bahwa Rasulullah n
bersabda:
أَنْتَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ
“Engkau adl Al-Haq dan perkataan-Mu haq.”
Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t
memasukkan Al-Haq di antara nama-nama Allah.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t
berkata: “Al-Haq pada dzat dan sifat-Nya. Sehingga Dia adl wajibul wujud sempurna sifat-Nya wujud-Nya adl kelaziman dzat-Nya dan tdk terwujud segala sesuatu kecuali dengan-Nya. Dialah yg senantiasa memiliki sifat keagungan keindahan kesempurnaan dan senantiasa berbuat kebaikan. Firman-Nya adl haq perbuatan haq pertemuan dengan-Nya adl haq para Rasul-Nya adl haq kitab-kitab-Nya adl haq agama haq beribadah hanya kepada adl haq dan segala sesuatu yg dinisbahkan kepada adl haq.”
الضَّلاَلُ
Kata Adh-Dhalal atau Adh-Dhalalah makna adl lawan dari Al-Huda .
Al-Imam Al-Qurthubi t
berkata: “Adh-Dhalal hakekat adl menjauh dari kebenaran. Ibnu ‘Arafah berkata: Adh-Dhalalah di kalangan Arab makna adl menempuh selain jalan yg lurus.”
Terkadang Adh-Dhalal juga diungkapkan atas seseorang yg tdk mengenal Allah k
yg disertai kelalaian walaupun keadaan orang tersebut tdk diliputi kejahilan atau keraguan. Atas penafsiran ini sebagian para ulama memahami firman Allah k
:
وَوَجَدَكَ ضآلاً فَهَدَى
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yg lalai lalu Dia memberikan petunjuk.”
Yaitu “lalai” menurut salah satu penafsiran . Dan ini dikuatkan dgn firman-Nya:
ماَ كُنْتَ تَدْرِي ماَ الْكِتاَبُ وَلاَ اْلإِيْماَنُ
“Dahulu engkau tdk mengetahui apa itu kitab dan apa itu iman.”
Termasuk pula dlm pengertian ini apa yg diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdil Hakam dan Asyhab dari Al-Imam Malik t
tentang ayat ini di mana beliau mengatakan: “Bermain catur dan dadu termasuk dari Adh-Dhalal .”
Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t
berkata: “Maka itulah Rabbmu yaitu yg diibadahi yg disembah yg dipuji yg mendidik seluruh makhluk dgn berbagai keni’matan-Nya. Dialah Al-Haq mk tdk ada lagi setelah Al-Haq melainkan kesesatan. Karena Dia-lah yg bersendiri dlm mencipta mengurusi segala sesuatu. Tidak seorang hamba pun yg merasakan satu keni’matan melainkan berasal dari-Nya dan tdk ada yg mendatangkan kebaikan melainkan Dia tdk ada yg menolak kejelekan kecuali Dia. Dia memiliki Asma`ul Husna dan sifat-sifat yg maha sempurna yg agung penuh kemuliaan dan kesempurnaan. Lalu mengapa kalian berpaling dari beribadah kepada yg demikian sifat-sifat-Nya ? Lalu menyembah sesuatu yg wujud akan sirna tdk mampu mendatangkan manfaat dan mudharat serta tdk pula mampu mendatangkan kematian kehidupan dan kebangkitan? Dia tdk memiliki kekuasaan sedikitpun dan tdk ada sekutu bagi Allah dlm hal apapun. Tidak ada yg berhak memberi syafaat di sisi Allah k
melainkan dgn izin-Nya. mk celakalah bagi yg menyekutukan-Nya dan binasalah bagi yg kafir terhadap-Nya. Telah hilang akal mereka setelah hilang agama mereka bahkan mereka telah kehilangan dunia dan akhirat. Oleh krn hal itu Allah k
berfirman tentang mereka:
كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِيْنَ فَسَقُوْا أَنَّهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ
‘Demikianlah telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang2 yg fasiq krn sesungguh mereka tdk beriman.’ .”
Kebenaran Hanyalah Satu dan Tidak Berbilang
Ayat Allah k
yg mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa jalan kebenaran hanyalah satu dan tdk ada lagi selain dari jalan tersebut melainkan kesesatan dan penyimpangan dari Al-Haq. Al-Imam Al-Qurthubi t
berkata: “Ayat ini memberikan hukum bahwa tdk terdapat kedudukan yg ketiga antara Al-Haq dan bathil dlm masalah ini yaitu dlm mentauhidkan Allah k
. Demikian pula dlm perkara-perkara yg serupa dengan yaitu masalah ushul yg mana kebenaran hanya ada di satu pihak.”
Jika demikian keadaan mk hendaklah seorang muslim selalu berusaha utk mencari jalan keselamatan tersebut yg jumlah hanya satu. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah n
dalam beberapa haditsnya. Di antara adl yg diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud z
ia berkata:
خَطَّ لَناَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا فَقاَلَ: هَذاَ سَبِيْلُ اللهِ. ثُمَّ عَنْ يَمِيْنِ ذَلِكَ الْخَطِّ وَعَنْ شِماَلِهِ خُطُوْطاً فَقاَلَ: هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهاَ شَيْطاَنٌ يَدْعُو إِلَيْهاَ. ثُمَّ قَرَأَ:
Rasulullah n
membuat sebuah garis di hadapan kami satu garis lalu berkata: “Ini adl jalan Allah.” Lalu beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan sebelah kiri garis tadi lalu berkata: “Ini adl jalan-jalan. Di atas tiap jalan itu terdapat setan yg menyeru kepadanya.” Lalu beliau membaca firman Allah: “Dan sesungguh ini adl jalanku yg lurus mk ikutilah. Dan janganlah mengikuti jalan-jalan hingga akan terpisah kalian dari jalan-Nya.1”
Dalam hadits ini ketika menyebutkan jalan Allah Rasulullah n
menyebutkan dgn lafadz mufrad . Namun ketika menyebutkan kesesatan beliau menyebutkan dlm bentuk jamak yg menunjukkan banyak jalan-jalan kesesatan dan banyak jumlah para pengikut setan yg menghalangi manusia utk berjalan di atas jalan Allah k
. Allah k
berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يٌضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُوْنَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang2 yg di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tdk lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tdk lain hanyalah berdusta .”
Demikian pula yg diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c
bahwa Rasulullah n
bersabda:
..وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهاَ فِي الناَّرِ إِلاَّ وَاحِدَةً. فَقِيْلَ لَهُ: ماَ الْوَاحِدَةُ؟ قاَلَ: ماَ أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحاَبِي
“Umatku akan berpecah menjadi 73 golongan semua dlm neraka kecuali satu golongan.” Beliau ditanya: “Siapakah yg satu itu?” Beliau menjawab: “Apa-apa yg aku dan para shahabatku berada di atasnya.”
Hadits tentang perpecahan ini telah diriwayatkan dari beberapa shahabat Nabi n
dalam kitab-kitab sunnah di antara Anas bin Malik Mu’awiyah bin Abi Sufyan ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani g
. Adapun riwayat yg menyebutkan bahwa 72 yg masuk jannah dan satu masuk an-naar adl hadits yg palsu.
Namun aneh riwayat ini justru dishahihkan oleh ahlul ahwa` yg tdk mengerti tentang ilmu hadits dari dasarnya. Di antara adl seorang tokoh Syi’ah Rafidhah Jalaluddin Rahmat sebagaimana yg ditulis dlm kitab sesat Islam Aktual.
Banyak Jalan Menuju Keselamatan
Mungkin di antara kita ada yg mempertanyakan tentang firman Allah k
:
يَهْدِي بِهِ اللهٌ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَاتَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماَتِ إِلَى النُّوْرِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيْهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang2 yg mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan Allah mengeluarkan orang2 itu dari gelap gulita kepada cahaya yg terang benderang dgn seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yg lurus.”
Ayat ini menyebutkan subulus salaam yg berarti jalan-jalan keselamatan. Ayat yg mulia ini sama sekali tdk bertentangan dgn ayat dan hadits yg telah kita sebutkan yg menunjukkan bahwa jalan kebenaran hanya satu. Sebab ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa di dlm Ash-Shirathul Mustaqim tersebut banyak jalan kecil yg semua menuju ke arah satu jalan utama yg besar yaitu jannah Allah k
. Al-Imam Al-Qurthubi berkata dlm menafsirkan ayat ini: “Subulus salaam yaitu jalan-jalan keselamatan yg menuju kepada Darus Salaam yg bersih dari tiap celaan aman dari segala yg dikhawatirkan yaitu jannah.”
Di antara yg menunjukkan hal ini adl hadits yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
اْلإِيْماَنُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً أَعْلاَهاَ قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْناَهاَ إِماَطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَياَءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْماَنِ
“Iman itu 70 cabang lebih yg tertinggi adl ucapan La ilaaha illallah dan yg terendah adl menyingkirkan gangguan dari jalanan. Dan malu adl salah satu cabang dari keimanan.”
Demikian pula hadits yg diriwayatkan Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
كُلُّ سُلاَمَى مَنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ اْلإِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فَيْ دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهاَ أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهاَ مَتاَعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهاَ إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ
“Setiap persendian dari manusia wajib atas sedekah tiap hari tatkala terbit matahari. Engkau berbuat adil dlm menghukumi antara dua orang adl sedekah dan engkau menolong orang utk menaiki kendaraan atau engkau membantu mengangkat barang di atas kendaraan adl sedekah kalimat yg baik adl sedekah dan tiap langkah yg engkau berjalan dengan menuju shalat adl sedekah dan engkau menyingkirkan duri dari jalanan adl sedekah.”
Dan masih banyak hadits-hadits yg menjelaskan tentang banyak jalan menuju kebaikan tersebut. Oleh krn itu Al-Imam An-Nawawi t
membuat satu bab di dlm kitab Riyadhush Shalihin dgn judul Bab: Penjelasan tentang Banyak Jalan Kebaikan.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t
berkata dlm menjelaskan banyak jalan-jalan kebaikan: “Dan yg menunjukkan kepada apa yg kami katakan bahwa di kalangan manusia ada yg engkau dapati senang mengerjakan shalat sehingga dia memperbanyak ibadah shalatnya. Dan di antara mereka ada pula yg senang membaca Al Qur`an sehingga engkau dapati dia banyak membaca Al Qur`an. Dan di antara mereka ada yg senang berdzikir bertasbih bertahmid dan semisal lalu engkau dapati dia banyak berdzikir; dan di antara mereka ada yg dermawan yg senang menginfakkan harta sehingga engkau dapati dia selalu bersedekah berinfak kepada keluarga dan memberikan keleluasaan kepada mereka tanpa melampaui batas. Dan di antara mereka ada yg senang dgn ilmu dan menuntut ilmu yg mana di masa kita merupakan amalan jasmani yg paling mulia. Sebab manusia di masa kita sekarang ini sangat membutuhkan ilmu syar’i krn banyak kejahilan dan merebak orang2 yg sok alim yg mengklaim bahwa mereka adl ulama padahal mereka tdk memiliki ilmu melainkan sangat sedikit. mk kita sangat membutuhkan ilmu yakni ilmu yg mapan kokoh yg dibangun di atas Al-Kitab dan As Sunnah agar mampu membantah berbagai kekeliruan yg tersebar di berbagai kampung dan negara di mana tiap orang yg baru menghafal satu atau dua hadits dari Rasulullah n
lalu berani berfatwa dan bermudah-mudah dengan seakan-akan dia adl Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Imam Ahmad Al-Imam Asy-Syafi’i atau para imam yg lain rahimahumullah. Ini sangat berbahaya jika Allah k
tak merahmati umat ini dgn ada para ulama yg mapan memiliki ilmu dan hujjah yg kuat.”
Namun perlu menjadi perhatian di sini bahwa jalan-jalan kebaikan tersebut tdk keluar dari jalur Ash-Shirathul Mustaqim yg dijalani Rasulullah n
dan para shahabatnya. Dan bukan yg dimaksud di sini adl mengamalkan agama dgn cara-cara bid’ah yg sesat. Sebab kebenaran hanyalah apa yg dari Allah k
. mk batil-lah sebuah pernyataan yg diserukan oleh Hasan Al-Banna beserta para muqallid -nya: “Kita saling tolong menolong terhadap apa yg kita sepakati dan saling memberikan udzur terhadap apa yg kita berbeda.”
Wallahul hadi ilaa sabiil ar-rasyad.
1 Surat Al-An’am ayat 153 red.