Selasa, 14 Juni 2011
Kisah Fatimah
Fatimah duduk termenung di pojok ruangan sambil mendengarkan dua berita yang membuat perasaan dirinya bercampur. Ia merasakan pedih dengan kematian saudaranya Yazid bin Abdul Malik bin Marwan, namun ia juga merasa bahagia dengan terpilihnya suaminya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah kaum muslim, ia bangga sekaligus sedih, dua perasaan yang sulit baginya untuk mengatur sikap hati.
Fatimah tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupan yang ia alami nantinya setelah Umar resmi diangkat menjadi khalifah. Ia mengandaikan sebuah kehidupan mewah yang orang kaya tidak pernah merasakan kemewahan itu. Sewaktu Umar menjadi gubernur di Madinah saja, gaya hidup yang mereka rasakan sangat megah dengan istana raja yang tidak bisa dibayangkan keindahannya. Isyarat yang diberikan kepada Fatimah adalah perintah, diamnya adalah bahasa dan sekali ia bicara selalu ada dan terlaksana.
Umar bin Abdul Aziz memanggil Fatimah istrinya : “wahai Fatimah…aku memiliki jiwa yang selalu menginginkan hal yang lebih agung setelah mendapatkan sesuatu yang istimewa. Dulu aku ingin menjadi gubernur dan aku berhasil, aku ingin menjadi khalifah dan Allah memberikan itu padaku, sekarang aku ingin sesuatu yang lebih agung dan berharga dari khalifah dan itu adalah surga”.
“Lalu apa yang hendak kau perbuat wahai suamiku ?”.
“Aku ingin memulai menata dari dalam, aku ingin memulai mendapatkan surga itu dari keluarga kita. Aku akan memberikan semua harta yang kita miliki kepada baitul mal, karena semua harta ini adalah milik kaum muslimin. Aku juga akan mengembalikan harta saudara-saudaramu kepada baitul mal. Aku memulai dari keluarga kerajaan”.
“Aku takut kau tidak kuat dan tidak ridlo dengan keputusanku ini, aku mengizinkan dirimu untuk pulang ke rumah ayahmu. Aku sangat mencintaimu, tidak ada perempuan lain yang lebih aku cintai selain dirimu. Namun kau tahu sendiri, aku adalah khalifah. Penguasa muslim sedunia, di akhirat nanti Allah akan memberikan pertanggung jawaban padaku tentang muslim yang paling dekat hingga paling jauh. Aku tak mau mendzolimi dirimu”.
“Kau juga pasti tahu, setelah ini aku akan jarang bersenda gurau denganmu sebagaimana dulu, aku sibuk dengan urusan kaum muslimin. Sekali lagi pulanglah. Aku ridlo”, Umar menerangkan pada Fatimah sedetail-detailnya tentang alasan dia mengambil keputusan yang belum pernah diambil oleh pimpinan kaum muslimin sebelumnya.
Namun apa jawab Fatimah ?
“Aku akan setia menemanimu wahai suamiku, aku bersamamu dikala kita hidup glamour dan dengan kemewahan yang lebih, saat inipun aku berada disampingmu. Berbuatlah sebagaimana kau ingin perbuat. Aku adalah istrimu. Aku ridlo”.
Umar : :”Aku memiliki sebidang tanah kecil yang aku beli dengan hasil keringatku bekerja, kita akan hidup disana dan hak yang kita ambil dari gaji khalifah nantinya hanya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan primer saja, selebihnya adalah milik umat islam”.
“Aku ridlo suamiku”, Fatimah menjawab dengan lembut dan tegas, ia adalah wanita yang ayahnya adalah khalifah dan saudaranya juga khalifah; penguasa umat islam sedunia.
####
Lihatlah saudaraku….Seorang perempuan yang bernama Fatimah yang selama hidupnya menikmati gemerlapnya dunia dengan kemewahan yang seorang kayapun tidak bisa membayangkan keindahannya rela menjadi orang miskin yang si miskin tidak bisa membayangkan kemismikinan itu.
Saya tidak yakin, seorang perempuan sholihahpun akan kuat dengan cobaan keputusan yang diambil oleh suami seperti Umar bin Abdul Aziz. Umar meninggalkan dunia bukan karena ia bangkrut dan dunia meninggalkannya, namun karena ia menginginkan yang lebih baik dari pada dunia. Tentu hal ini sebuah keputusan yang berat.
###
Pernah suatu ketika ada perempuan Mesir berkunjung ke Damaskus ingin bertemu dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Rakyat di sana menunjukkan rumah beliau. Ketika masuk rumah, Fatimah menyambut perempuan Mesir itu dengan ramah dan waktu itu Fatimah duduk di karpet yang di sana sini sudah banyak tembelan dan jahitannya, padahal dia adalah istri seorang khalifah.
Perempuan Mesir itu melihat seorang laki-laki sederhana yang sedang membetulkan dinding rumah, lalu ia berkata pada Fatimah : “wahai sayyidah Fatimah…kenapa anda tidak membuat penutup dengan laki-laki asing tukang bangunan itu untuk menjaga pandangan dengan kita wanita?”.
Fatimah tersenyum dan menjawab dengan anggun :”Dia adalah Umar bin Abdul Aziz, pemimpin umat islam . Perempuan Mesir itu malu mendengar jawaban Fatimah dan semakin ta’dzim dan bangga dengan Umar bin Abdul Aziz.
Suatu hari Umar ingin sekali makan anggur dan bertanya pada istrinya Fatimah : “Istriku…aku ingin sekali makan anggur, kita punya uang tidak ?”. Fatimah tidak menjawab dan malah menangis : “Masya Allah…suamiku..engkau adalah khalifah dan pemimpin orang-orang besar di dunia, namun kau tidak memiliki uang yang cukup untuk sekedar membeli anggur”.
“wahai istriku…Lebih baik kita sabar menahan cobaan di dunia karena kita tahu, kita tidak akan kuat dengan dahsyatnya cobaan dan siksaan di alam setelah dunia”, jawab Umar dengan berusaha untuk tetap tegas walaupun merasakan ada rasa kasihan pada istrinya.
Ketika seorang pedagang kain langganan Umar datang kepadanya, menawarkan sebuah baju seharga 5 dirham kepada beliau, Umar berucap : “Kain ini sangat bagus, seandainya lebih kasar dari ini akan lebih bagus lagi”. Seketika sang penjual mengatakan dengan nada heran : “Masya Allah…wahai amirul mukminin…dulu ketika engkau menjabat sebagai gubernur di Madinah aku menawarkan kain seharga 5000 dirham kau berkata baju ini bagus, seandainya lebih halus akan lebih bagus lagi, dan sekarang kau katakan sebaliknya”.
Dalam kehidupannya yang sederhana sekali, Umar melihat dipergelangan tangan Fatimah ada gelang emas yang dipakai dan cincin emas di jarinya. Umar berkata pada Fatimah : “Istriku….aku akan memberikan gelang dan cincin itu pada baitul mal, aku mengerti itu adalah pemberian ayahmu dan uang yang ayahmu perolaeh tentu dari harta umat islam. Jika kau ridlo aku sangat bersyukur dan jika kau menolak, pulanglah ke rumah orang tuamu”.
Fatimah menjawab dengan tersenyum : “Aku memilih dirimu wahai suamiku…lakukanlah jika itu dapat mendatangkan ridlo Allah kepada kita”.
Suatu hari Umar bercerita pada penasehatnya bahwa ia tidak bisa tidur di malam hari karena memikirkan mati, penasehatnya malah menjawab dengan nada menakutnakuti Umar : “Kau tidak bisa tidur pada malam hari karena memikirkan mati, lalu bagaimana keadaanmu nantinya ketika mati dan ulat-ulat memakan tubuhmu yang lemah, bagaimana nantinya yang akan kau perbuat, apa yang akan kau pertanggung jawabkan di hadapan mahkamah Tuhan, apalagi kau adalah pimpinan negara?”.
Seketika Umar pingsan. Fatimah langsung menyuruh pengawal istana untuk mengeluarkan penasehat dari ruangan. Fatimah menangis dan terus menangis hingga Umar sadarkan diri. Ketika sadar Umar betanya pada Fatimah : “wahai istriku tercinta…kenapa kau menangis?”. “Aku menyaksikan sendiri kau jatuh pingsan di depan mataku dan aku merasakan rasa takut dalam batinku. Aku menangis karena aku takut kehilangan dirimu”, jawab Fatimah.
Lihatlah…betapa Umar sangat menjaga hak dan kewajiban yang ia miliki sebagai pimpinan negara yang luasnya hampir 2/3 dunia dan Fatimah selalu menghibur serta sabar dalam kehidupan sederhana yang suaminya pilih.
###
Setelah Umar wafat, saudara Fatimah yang bernama Yazid II bin Abdul Malik menggantikan posisi Umar menjadi khalifah. Fatimah menyaksikan sendiri kakaknya itu membagi-bagikan harta milik kaum muslimin kepada saudara-saudaranya. Semua harta yang dulu diambil oleh Umar dan diberikan ke Baitul Mal, oleh Maslamah diambil kembali. Ketika tiba giliran memberikan harta kepada Fatimah, Fatimah menjawab dengan tegas :
“Aku dulu mentatai suamiku dikala dia hidup, saat inipun aku tetap mentaatinya walaupun ia mati. Aku setia kepadanya”.
Lihatlah kawan………..semoga Allah meridloi mereka. Lihatlah sekali lagi….mereka adalah BENAR-BENAR MANUSIA.