Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ” (QS Ibrahim : 7).
Rasulullah saw bersabda : “Orang dermawan, dekat dengan Allah,
dekat dengan manusia, dan dekat dengan syurga, sedangkan orang bakhil
(pelit), jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka.
Sungguh Allah SWT lebih mencintai hambanya yang bodoh tapi dermawan,
dibandingkan dengan ahli ibadah (pandai) tapi pelit (bakhil) ” (Al Hadits-Riwayat Abu Hurairah).
Rasulullah saw bersabda: “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal,
Kalian tidak akan tersesat bila kalian berpegang teguh kepadanya yakni:
Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadits)“. (HR Muslim).
Hidup ini memang seperti pergantian siang dan malam. Siang dengan
ciri khasnya terang dan malam dengan ciri khasnya gelap. Bagi orang yang
sudah tahu ilmunya, tentu tidak ada masalah dengan pergantian siang dan malam.
Misalnya, ketika sudah tahu bahwa siang
itu harus bekerja dan beraktivitas, maka ditunggulah siang. Dan karena
tahu bahwa malam itu waktunya tidur, istirahat atau berusaha shalat
tahajjud, maka datangnya malam sangat dinantikan.
Memang alangkah indahnya jika kita senantiasa mengetahui apa yang
harus dilakukan terhadap apa yang akan kita hadapi, karena yang kasihan
adalah orang yang tidak siap menghadapi siang ataupun malam. Misalnya,
siang takut terkena tagihan dan malam takut tidak bisa tidur.
Begitu pula dalam menghadapi hidup ini. Orang yang tidak tahu
rumusnya, maka dia akan selalu tegang. Mempunyai uang takut hilang,
tidak punya uang takut tidak bisa membeli apa-apa. Musim mutasi takut kehilangan jabatan, sudah punya jabatan takut dipindahkan lagi.
Belum punya suami takut tidak punya suami, sudah punya takut suami
menikah lagi. Belum punya usaha takut tidak punya penghasilan, sudah
punya usaha takut usahanya ambruk. Selalu takut, takut, dan terus
ketakutan, lalu sesudah itu mati. Lantas, kapan bahagianya?
Sesungguhnya, setiap orang pasti mendambakan ketenangan batin. Sebab
jika hati tenang, maka kita akan merasa lebih nyaman dalam melakukan
berbagai macam aktivitas baik duniawi maupun ukhrowi.
Sebenarnya, Allah SWT telah mengajarkan pada kita langkah nyata untuk
mendapatkan ketenangan hati, yaitu dengan dzikir. Sebagaimana
firman-Nya, “Ingatlah dengan dzikir mengingati Allah, hati akan tenteram.” (QS Ar Ra’d: 28).
Dengan selalu mengingat Allah, hati akan tenteram. Sebaliknya, ketika
kita jarang ingat pada Allah, hati akan kering dan gersang. Dengan kata
lain, sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin hidup dalam tenterarn hati
akan sangat terlihat dari berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk
berdzikir kepada Allah.
Orang-orang yang tertambat hatinya kepada Allah, apa pun yang ia
lihat, ia dengar, dan ia rasakan, selalu dikorelasikan dengan Dzat
Pencipta alam semesta ini. Seorang ahli dzikir akan jatuh dalam damai
yang mendalam ketika merenungi hakikat pertumbuhan hidup manusia, sejak
masih dalam rahim kemudian lahir hingga saat ajal tiba.
Ketika dalam rahim, janin manusia, sejak masih dalam rahim kemudian
lahir hingga saat ajal tiba. Ketika dalam rahim, janin manusia lemah
tidak berdaya, namun semakin besar semakin kuat hingga sampai di puncak
kekuatannya. Dan ketika semakin tua kekuatan itu mulai pudar, hingga
manusia seolah kembali ke tingkat kekuatan bayi yang lemah. Semua ini
tidak terjadi melainkan karena kuasa Allah SWT.
Semakin banyak mengingat Allah, maka kadar keimanannya akan semakin
bertambah. la tidak akan takut diancam oleh apa dan siapa pun makhluk
yang ada di dunia ini. la hanya merasa takut akan ancaman dan murka
Allah.
Orang yang telah mencapai derajat ini tidak pernah merasa waswas
dalam bertindak. Tiap-tiap sesuatu yang dia hadapi dijadikan sebagai
ladang amal. Bahkan dalam bertransaksi sekalipun ia akan memikirkan
keuntungan bagi orang lain, la tidak khawatir dengan harga yang dipatok
pedagang.
la akan merasa bahagia jika mampu berbagi rezeki
dengan orang lain, la sangat yakin bahwa yang mengatur rezeki adalah
Allah dan ia akan berjuang sekuat tenaga agar rezeki itu jatuh ke tempat
yang barakah. la tidak takut hartanya akan habis, sebab yakin bahwa
Allah akan memberi kelapangan rezeki bagi siapa pun yang berhati murah
dengan banyak berderma.
Tentu saja, berdzikir harus senantiasa dilakukan setiap saat, sebab bila seseorang hanya mengingat Allah ketika shalat saja, maka ia akan selalu gelisah di luar shalat.
Ada yang ingat Allah hanya ketika ia mendapat ancaman saja. Bahkan
ada yang benar-benar tidak tahu siapa itu Allah selama hidupnya. Naludzubillahi min dzalik.
Orang yang tidak kenal Allah, sehebat apa pun ia, sebanyak apa pun
harta yang dimilikinya, serta setinggi apa pun derajatnya di mata
manusia, sungguh ia akan selalu dicekam gelisah.
Upaya untuk terus berdzikir hendaknya diiringi dengan sabar dan syukur. Sebab kedua aspek tersebut dapat menghindarkan kita dari kebiasaan marah terhadap sesuatu yang telah mengecewakan hati.
Padahal kemarahan yang kita luapkan bisa jadi karena tidak
tercapainya keinginan atau harapan tinggi yang kita miliki. Memang, jika
kita terlalu berharap untuk mendapatkan sesuatu, kita akan kecewa saat
tidak mendapatkannya. Makin banyak keinginan, maka makin banyak peluang
kita untuk marah.
Semestinya, kita harus siap menerima kenyataan, bahwa hidup ini penuh
risiko dan tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Mengapa? Sebab ketika kita mempunyai rencana, maka Allah juga mempunyai
rencana.
Dalam Al Quran surat Al Hadiid ayat 22-23, Allah SWT berfirman, “Tiada
suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri meiainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka
cita’terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Secara sederhana, ayat di atas menyiratkan bahwa sesungguhnya apa pun
yang terjadi di dalam dunia dan kehidupan setiap manusia sesungguhnya
telah Allah tentukan. Dengan demikian, maka kita tidak perlu terlalu
bersedih ketika ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebaliknya,
kita juga tidak boleh terlalu gembira melampaui batas ketika memperoleh
kesenangan.
Namun, jika Allah telah menentukan semua hal, lantas apakah kita
sudah tidak memiliki pilihan lagi? Tentu saja tidak demikian, karena
Allah telah melengkapi manusia dengan software untuk memilih apa yang
ingin kita pilih.
Setiap manusia
memiliki potensi untuk menjadi baik maupun untuk menjadi buruk. Mau
lurus maupun bengkok, mau di jalan Allah atau di jalan sesat.
Jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, berarti kita harus
meyakini bahwa itulah takdir terbaik dari Allah. Sepanjang kita sudah
berusaha meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, tentu apa pun yang
kita peroleh tidak akan sia-sia.
Bukankah tidak sedikit orang yang ikhtiarnya sangat luar biasa namun
belum juga memperoleh keberhasilan? Tugas kita hanya dua, luruskan niat
dan sempurnakan ikhtiar.
Betapapun luar biasanya kecintaan seseorang terhadap dunia, sadarilah
bahwa semua itu fana belaka. Kita tidak akan hidup selamanya, ada kampung akhirat yang senantiasa menanti. Karena itu, sudah sewajarnya bila setiap episode kehidupan kita jalani dengan penuh rasa syukur.
Episode mempunyai kekayaan, jalani dengan ahli sedekah. Episode tidak memiliki harta kekayaan, jagalah diri kita dengan terus bekerja sebaik-baiknya dan tidak meminta-minta belas kasih orang lain. Saat datang episode dipuji, kita berusaha sekuat tenaga agar senantiasa rendah hati.
Episode dihina, bersyukur karena itu mungkin pertolongan Ailah agar
kita mau mengevaluasi diri. Episode sehat, perbanyaklah ibadah. Episode
sakit, tingkatkan kesabaran sebab bisa jadi itu adalah lahan penggugur
dosa.
Kita harus senantiasa ber-husnudzhan terhadap ketentuan-ketentuan
Allah yang menimpa diri kita, Jika kita merasa banyak berbuat kekhilafan
dan dosa, yakinlah bahwa ampunan Allah lebih besar lagi daripada dosa-dosa yang kita perbuat.
Kita harus optimis bahwa Allah akan mengampuni kita. Dan tentu saja,
kita juga harus optimis bahwa kita mampu terus memperbaiki diri. Justru
sikap optimis itulah etika kita kepada Allah, sebab ketika kita diuji
oleh Allah dengan aneka kesulitan justru supaya kita berpegang teguh
kepada pertolongan Allah.
Strategi berikutnya, kita harus selalu berlatih mengenal diri
sendiri. Sebab jika seseorang ingin baik, maka ia terlebih dahulu harus
mengetahui sesuatu yang ingin dia rubah menjadi baik. Pengetahuannya
bisa ia dapatkan dari perenungan, dan jawaban dari orang yang kita
tanyai tentang diri kita.
Latihan kedua adalah upaya untuk memperbaiki. Setelah kita tahu
kondisi kita, maka kita usahakan untuk meminimalisasi bahkan
menghilangkan kekurangan yang kita miliki. Bila perlu, kita tulis dalam
daftar semua keburukan yang kita miliki dan rumuskan formula-formula
untuk memperbaikinya.
Sumber : Buletin Al-Salaam, Februari 2010