Bismillahhirrahmanirrahim: بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم – Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ – ...

Senin, 25 Juli 2011

HAMNAH BINTI JAHSY RA

Saat itu 7 Syawal tahun ketiga Hijriyah. Satu tahun telah berlalu sejak kemenangan kaum muslimin di Perang Badar. Kaum muslimin kembali bersiap menghadapi peperangan yang akan berlangsung di Bukit Uhud. Di antara kaum muslimin, sepasang suami-istri yang mulia juga tampak bersiap menghadapi perang tersebut. Merekalah Mush’ab bin Umair ra, yang dikenal sebagai duta pertama umat Islam serta sang istri, Hamnah binti Jahsy ra, yang tak lain adalah saudari istri Rasulullah saw, Zainab binti Jahsy ra.

Tak hanya Hamnah, saudara laki-lakinya yaitu Abdullah binti Jahsy ra juga bersiap menyongsong perang tersebut. Pada Allah ia lantunkan do’a agar syahid pada perang ini.

Tak lama terlihatlah iring-iringan pasukan kaum muslimin dipimpin Rasulullah saw menuju Uhud untuk menghadapi tentara kafir Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Di garis belakang tampak Hamnah binti Jahsy bersama 13 orang muslimah lainnya bersiap menjalankan tugas yang tak kalah penting dalam perang tersebut. Merekalah yang akan menyokong perjuangan pasukan muslimin dengan memberi air untuk yang haus dan mengobati luka para anggota pasukan.

Ketika perang mulai berkecamuk, korban luka pun mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Hamnah binti Jahsy mulai sibuk melakukan tugasnya. Keterlibatan Hamnah dalam perang Uhud dikuatkan oleh seorang sahabat bernama Mu’awiyah bin Ubaidullah bin Abi Ahmad bin Jahsy yang mengatakan, “Saya melihat dengan kedua mata saya, Hamnah binti Jahsy memberikan air minum pada orang-orang yang kehausan dan mengobati orang-orang yang terluka.”

Tatkala perang berakhir, suasana duka menyelimuti Uhud. Rasulullah mengalami luka parah dan banyak sahabat yang syahid. Tak seperti di Badar kala kemenangan menjadi milik kaum muslimin, kali ini kekalahanlah yang didapat. Yang lebih menyedihkan lagi kekalahan itu disebabkan oleh ketidakpatuhan sebagian kaum muslimin terhadap perintah Rasulullah saw.

Sesampainya di Madinah para wanita mulai mendatangi Rasulullah saw untuk mendapatkan kabar tentang keluarga mereka yang ikut berperang. Di antara mereka juga tampak Hamnah binti Jahsy yang telah menunaikan tugasnya. Ia belum mengetahui nasib keluarganya yang ikut berperang. Ketika tiba giliran Hamnah, Rasulullah berkata, “Wahai Hamnah, harapkanlah pahala bagi saudaramu, Abdullah bin Jahsy.” “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuni dosanya,” ucap Hamnah beristirja’. Jasad Abdullah ditemukan dengan bagian tubuh yang terpotong-potong.

Rasul kemudian berkata lagi, “Wahai Hamnah, harapkanlah pahala bagi pamanmu, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib.” Kembali Hamnah beristirja’. Seperti halnya Abdullah bin Jahsy, Hamzah pun ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh yang tercabik-cabik.

Lalu Rasulullah kembali berkata pada Hamnah, “Wahai Hamnah, harapkanlah pahala bagi suamimu, Mush’ab bin Umair.” Kali ini Hamnah tak kuasa menahan kepedihan hatinya. Mulutnya memekik pilu. Terbayang putrinya yang kini harus menjadi yatim. Ketika ditemukan kondisi Mush’ab bin Umair juga sangat mengenaskan dengan kedua tangan telah terpotong karena mempertahankan panji kaum muslimin.

Hanya keimananlah yang mampu membuat Hamnah tetap bersandar pada Allah. Ia memahami betul bahwa anggota badan yang hilang dan tubuh yang tercabik itulah yang akan menjadi saksi kesungguhan iman saudara, paman, dan suaminya di hadapan Ailah swt.