Tak hanya Hamnah, saudara laki-lakinya yaitu Abdullah binti Jahsy ra juga bersiap menyongsong perang tersebut. Pada Allah ia lantunkan do’a agar syahid pada perang ini.
Tak
lama terlihatlah iring-iringan pasukan kaum muslimin dipimpin
Rasulullah saw menuju Uhud untuk menghadapi tentara kafir Quraisy yang
dipimpin Abu Sufyan. Di garis belakang tampak Hamnah binti Jahsy bersama
13 orang muslimah lainnya bersiap menjalankan tugas yang tak kalah
penting dalam perang tersebut. Merekalah yang akan menyokong perjuangan
pasukan muslimin dengan memberi air untuk yang haus dan mengobati luka
para anggota pasukan.
Ketika
perang mulai berkecamuk, korban luka pun mulai berjatuhan dari kedua
belah pihak. Hamnah binti Jahsy mulai sibuk melakukan tugasnya.
Keterlibatan Hamnah dalam perang Uhud dikuatkan oleh seorang sahabat
bernama Mu’awiyah bin Ubaidullah bin Abi Ahmad bin Jahsy yang
mengatakan, “Saya melihat dengan kedua mata saya, Hamnah binti Jahsy
memberikan air minum pada orang-orang yang kehausan dan mengobati
orang-orang yang terluka.”
Tatkala
perang berakhir, suasana duka menyelimuti Uhud. Rasulullah mengalami
luka parah dan banyak sahabat yang syahid. Tak seperti di Badar kala
kemenangan menjadi milik kaum muslimin, kali ini kekalahanlah yang
didapat. Yang lebih menyedihkan lagi kekalahan itu disebabkan oleh
ketidakpatuhan sebagian kaum muslimin terhadap perintah Rasulullah saw.
Sesampainya
di Madinah para wanita mulai mendatangi Rasulullah saw untuk
mendapatkan kabar tentang keluarga mereka yang ikut berperang. Di antara
mereka juga tampak Hamnah binti Jahsy yang telah menunaikan tugasnya.
Ia belum mengetahui nasib keluarganya yang ikut berperang. Ketika tiba
giliran Hamnah, Rasulullah berkata, “Wahai Hamnah, harapkanlah pahala
bagi saudaramu, Abdullah bin Jahsy.” “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi
raaji’un. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuni dosanya,” ucap Hamnah
beristirja’. Jasad Abdullah ditemukan dengan bagian tubuh yang
terpotong-potong.
Rasul
kemudian berkata lagi, “Wahai Hamnah, harapkanlah pahala bagi pamanmu,
Hamzah bin ‘Abdil Muththalib.” Kembali Hamnah beristirja’. Seperti
halnya Abdullah bin Jahsy, Hamzah pun ditemukan dalam kondisi
mengenaskan dengan tubuh yang tercabik-cabik.
Lalu
Rasulullah kembali berkata pada Hamnah, “Wahai Hamnah, harapkanlah
pahala bagi suamimu, Mush’ab bin Umair.” Kali ini Hamnah tak kuasa
menahan kepedihan hatinya. Mulutnya memekik pilu. Terbayang putrinya
yang kini harus menjadi yatim. Ketika ditemukan kondisi Mush’ab bin
Umair juga sangat mengenaskan dengan kedua tangan telah terpotong karena
mempertahankan panji kaum muslimin.
Hanya
keimananlah yang mampu membuat Hamnah tetap bersandar pada Allah. Ia
memahami betul bahwa anggota badan yang hilang dan tubuh yang tercabik
itulah yang akan menjadi saksi kesungguhan iman saudara, paman, dan
suaminya di hadapan Ailah swt.