AHLU SUNNAH MENJADI INCARAN GOLONGAN LAIN
Benteng kaum Muslimin diserang dari dalam, kira kira begitulah ungkapan yang dirasakan umat ini atas kejahatan ahli bid’ah khususnya Syiah terhadap Islam, Sunnah dan Ahlu Sunnah. Pengkhianatan dan kekejaman yang dilakukan oleh ahli bid’ah terhadap Islam dan kaum Muslimin sangat banyak terjadi. Ini tidak lain dilandasi oleh keyakinan mereka yang mengkafirkan dan menghalalkan darah orang-orang yang berada di luar kalangan mereka. Kurangnya penghormatan mereka terhadap kehormatan, harta dan darah kaum Muslimin dan kesembronoan mereka dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap siapa saja yang tidak sepaham menjadi alasan mereka melakukan semua itu.
Benteng kaum Muslimin diserang dari dalam, kira kira begitulah ungkapan yang dirasakan umat ini atas kejahatan ahli bid’ah khususnya Syiah terhadap Islam, Sunnah dan Ahlu Sunnah. Pengkhianatan dan kekejaman yang dilakukan oleh ahli bid’ah terhadap Islam dan kaum Muslimin sangat banyak terjadi. Ini tidak lain dilandasi oleh keyakinan mereka yang mengkafirkan dan menghalalkan darah orang-orang yang berada di luar kalangan mereka. Kurangnya penghormatan mereka terhadap kehormatan, harta dan darah kaum Muslimin dan kesembronoan mereka dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap siapa saja yang tidak sepaham menjadi alasan mereka melakukan semua itu.
Tercatat di awal sejarah Islam dua
kelompok bid’ah yang melakukannya, yaitu, Syiah dan Khawârij. Akibat
dari tindakan pengkhianatan mereka tersebut banyak Sahabat Nabi
Radhiyallahu ‘anhum yang terbunuh. Mereka tak segan-segan menghalalkan
darah Sahabat Radhiyallahu a’nhum, para Ulama dan orang shalih dengan
alasan yang mengada-ada tanpa rasa takut dan rasa malu sedikit pun
terhadap Allâh Azza wa Jalla.
Sejak awal kemunculan kelompok-kelompok
bid’ah ini selalu yang menjadi incaran dan targetnya adalah Ahlu Sunnah.
Kelompok-kelompok bid’ah itu rela melupakan perbedaan-perbedaan di
antara mereka walaupun dalam masalah yang prinsipil untuk bekerja sama
dalam mematikan Sunnah dan menghancurkan Ahlu Sunnah, begitulah sejarah
berbicara. Khususnya pada abad ke-4 Hijriyah ketika mulai berdirinya
daulah Syiah di beberapa wilayah, terutama di daerah-daerah pegunungan.
Seiring dengan semakin gencarnya gerakan dakwah mereka ditambah lagi
semakin lemahnya daulah Ahlu Sunnah pada masa itu.
SYIAH, MUSUH DALAM SELIMUT
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah telah menjelaskan fenomena ini dalam kitabnya ketika menyebutkan biografi salah seorang tokoh Syiah yaitu Ibnu Nu’mân : “Ibnu Nu’mân ini adalah seorang tokoh Syiah dan pembela mereka. Ia punya kedudukan di kalangan penguasa-penguasa daerah karena mayoritas penduduk di daerah-daerah tersebut pada masa itu mulai condong kepada tasyayyu’ (Syi’ah). Di antara muridnya adalah asy-Syarîf ar-Râdhi dan al-Murtadhâ.”[1]
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah telah menjelaskan fenomena ini dalam kitabnya ketika menyebutkan biografi salah seorang tokoh Syiah yaitu Ibnu Nu’mân : “Ibnu Nu’mân ini adalah seorang tokoh Syiah dan pembela mereka. Ia punya kedudukan di kalangan penguasa-penguasa daerah karena mayoritas penduduk di daerah-daerah tersebut pada masa itu mulai condong kepada tasyayyu’ (Syi’ah). Di antara muridnya adalah asy-Syarîf ar-Râdhi dan al-Murtadhâ.”[1]
Beberapa sekte, seperti Ismâ’îliyah,
Buwaihiyah, Qarâmithah dan lain-lainnya memakai jubah Syiah ini untuk
meraih tujuannya. Contoh kasusnya adalah yang terjadi di Afrika utara,
salah seorang juru dakwah Syiah yang bernama Husain bin Ahmad bin
Muhammad bin Zakariya ash-Shan’âni yang berjuluk Abu ‘Abdillâh asy-Syî’i
masuk ke wilayah Afrika seorang diri tanpa harta dan tanpa satu pun
orang yang mendampinginya. Ia terus melakukan kegiatan dakwah di sana
hingga ia berhasil menguasainya. [2]
Abu ‘Abdillâh asy-Syîi’i inilah yang
berhasil meyakinkan kaum Muslimin untuk menerima ‘Ubaidullâh al-Qaddah
sebagai imam dakwah sehingga mereka membaiatnya. Lalu ‘Ubaidullâh ini
menggelari dirinya sebagai al-Mahdi dan mendirikan daulah ‘Ubaidiyah
yang kemudian lebih dipopulerkan dengan sebutan sebagai daulah
Fâthimiyyah. Padahal pada hakekatnya merupakan daulah yang beraliran
bathiniyah.
Di antara kejahatan yang dilakukan oleh
‘Ubaidullâh ini, suatu kali kudanya masuk ke dalam masjid. Lalu
rekan-rekannya ditanya tentang hal itu, mereka menjawab, “Sesungguhnya
kencing dan kotoran kuda itu suci, karena ia adalah kuda al-Mahdi (yakni
‘Ubaidullâh). Pengurus masjid mengingkari hal itu. Maka mereka pun
membawanya ke hadapan ‘Ubaidullâh al-Mahdi, dan akhirnya ia menghabisi
pengurus masjid tersebut. Ibnu ‘Adzâra t berkata,“Sesungguhnya di akhir
hayatnya ‘Ubaidullâh ini ditimpa sebuah penyakit yang mengerikan yaitu
adanya cacing yang keluar dari duburnya dan kemudian memakan
kemaluannya. Begitulah keadaannya hingga kematian merenggutnya.” [3]
Abu Syâmah rahimahullah berkomentar
tentang ‘Ubaidullâh ini dengan berkata, “Ia adalah seorang zindiq
(kafir), khabîts (sangat buruk), dan merupakan musuh Islam. Menunjukkan
diri sebagai Syiah dan berupaya keras untuk menghilangkan agama Islam.
Ia banyak membunuh Fuqahâ’, ahli hadits, orang orang shalih dan banyak
manusia lainnya. Anak keturunannya tumbuh dengan pola pikir seperti itu
dan apabila ada kesempatan mereka akan menunjukkan taringnya, jika tidak
maka mereka akan menyembunyikan diri.” [4]
Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Duhai
kiranya kalau ia hanya seorang penganut Syiah saja, tetapi ternyata di
samping itu ia juga seorang zindiq.” [5]
Para ulama yang telah mereka bunuh di
antaranya adalah Abu Bakar an-Nâbilisi, Muhammad bin al-Hubulli, Ibnu
Bardûn yang dibunuh oleh Abu ‘Abdillâh asy-Syî’i. Sementara Ibnu Khairûn
Abu Ja’far Muhammad bin Khairûn al-Mu’âfiri tewas di tangan ‘Ubaidullâh
al-Mahdi.
Di antara penguasa mereka yang telah
banyak membunuh para Ulama adalah al-‘Adhid, penguasa terakhir Bani
‘Ubaid. Ibnu Khalikân rahimahullah berkata tentang orang ini, “al-‘Adhid
ini orang yang sangat kental Syi’ahnya, sangat keterlaluan dalam
mencaci maki Sahabat Nabi, apabila ia melihat seorang Sunni (Ahlu
Sunnah), ia menghalalkan darahnya.” [6]
Salah satu sekte yang menimpakan berbagai
bala terhadap Ahlu Sunnah adalah Buwaihiyah. Sekte ini dinisbatkan
kepada Buwaihi bin Fannakhasru ad-Dailami al-Fârisi. Berkuasa di Irak
dan Persia lebih kurang satu abad ketika kekhalifahan ‘Abbasiyah sedang
melemah di Baghdad. Sekte ini juga menunjukkan kefanatikannya kepada
ajaran Syi’ah. Bahkan mereka memotivasi orang orang Syiah di Baghdad
untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan terhadap Ahlu Sunnah.
Hampir tiap tahun terjadi pertikaian dan benturan-benturan antara kaum
Syiah dan Ahlu Sunnah. Sehingga banyak korban jiwa jatuh dan menimbulkan
kerugian materiil yang besar, toko-toko dan pasar-pasar dibakar. Untuk
menunjukkan hegemoni dan dominasi mereka atas Ahlu Sunnah, pada tahun
351H kaum Syiah di Baghdad dengan dukungan dari Mu’izzud Daulah
mewajibkan masjid-masjid untuk melaknat Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu dan
tiga Khalifah Râsyid (Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhum
). Sebuah ketetapan yang tak mampu dicegah oleh kekhalifahan
‘Abbasiyah.[7]
Bahkan pada tahun 352 H, Mu’izzud Daulah
menyuruh kaum Muslimin untuk menutup toko-toko mereka, mengosongkan
pasar, meliburkan jual-beli dan menyuruh mereka untuk meratap. Para
wanita disuruh keluar tanpa penutup kepala dan wajah dicoreng-moreng,
lalu berkeliling kota sambil meratap dan menampar-nampar pipi atas
kematian Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Maka kaum Muslimin pun
melakukannya, sementara Ahlu Sunnah tidak mampu mencegahnya karena
banyaknya jumlah kaum Syiah dan kekuasaan kala itu berada di tangan
mereka (di tangan kaum Buwaihiyyun). [8] Sehingga Imam adz-Dzahabi
rahimahullah sampai berkomentar, “Sungguh telah terlantar urusan agama
Islam dengan berdirinya daulah Bani Buwaihi dan Bani ‘Ubaid yang
bermadzhab Syiah ini. Mereka meninggalkan jihad dan mendukung kaum
Nasrani Romawi dan merampas kota Madâin.” [9]
Di antara sekte Syiah adalah Syiah
Ismâ’iliyah. Setelah wafatnya Ja’far bin Muhammad ash-Shâdiq, kaum Syiah
terpecah dua kelompok. Satu kelompok menyerahkan kepemimpinan kepada
anaknya, yaitu Mûsâ al-Kâzhim, mereka inilah yang kemudian disebut Syiah
Itsnâ ‘Asyariyah (aliran Syiah yang meyakini adanya imam yang berjumlah
dua belas orang, red). Dan satu kelompok lagi menyerahkan kepemimpinan
kepada anaknya yang lain, yaitu Ismâ’il bin Ja’far, kelompok ini
kemudian dikenal sebagai Syiah Ismâ’iliyah. Kadang kala mereka
dinisbatkan kepada madzhab bathiniyah dan kadang kala dikaitkan juga
dengan Qarâmithah. Akan tetapi, mereka lebih senang disebut Ismâ’iliyah.
[10] Adapun Qarâmithah sendiri adalah penisbatan kepada Hamdân Qirmith.
Kemudian pengikut-pengikutnya dikenal dengan sebutan Qarâmithah. Di
antara tokoh mereka yang menimpakan fitnah besar terhadap kaum Muslimin
adalah Abu Thâhir Sulaimân bin Hasan al-Janâbi.
Mereka inilah yang bersekutu bersama kaum
Nasrani dan Tatar untuk melawan Islam dan kaum Muslimin. Ketika mereka
sudah memiliki kekuatan dan berhasil mendirikan daulah Bahrain, mereka
melakukan aksi-aksi yang membuat bulu kuduk merinding; berupa
perampasan, pembunuhan dan pemerkosaan. Bahkan kekejaman seperti itu
tidak pernah dilakukan oleh bangsa Tatar maupun kaum Nasrani sekalipun.
Pada tahun 312 H, mereka menghadang kafilah haji yang hendak kembali ke
Irak. Mereka merampas kendaraan kafilah itu, bekal-bekal dan harta benda
yang mereka bawa, dan meninggalkan rombongan haji begitu saja sehingga
kebanyakan dari mereka mati kehausan dan kelaparan. [11]
Dan pada tahun 317 H, mereka menyerang
jamaah haji di Masjidil Harâm, dan membunuhi para jamaah yang berada
dalam masjid lalu membuang mayat mayat ke sumur Zamzam. Mereka membunuh
orang orang di jalan-jalan kota Mekah dan sekitarnya. Jumlah korbannya
mencapai tiga puluh ribu jiwa. Bahkan ia merampas kelambu Ka’bah dan
membagi-bagikannya kepada pasukannya. Ia menjarah rumah-rumah penduduk
Mekah dan mencungkil Hajar Aswad dari tempatnya untuk ia bawa ke Hajar
(ibukota daulah mereka di Bahrain).[12]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah merekam
kekejaman yang dilakukan oleh Abu Thâhir al-Janâbi al-Bâthini ini dengan
berkata, “Ia menjarah harta penduduk Mekah dan menghalalkan darah
mereka. Ia membunuhi manusia di rumah-rumah mereka hingga yang berada di
jalan-jalan. Bahkan menjagal banyak jamaah haji di Masjdil Haram dan di
dalam Ka’bah. Lalu pemimpin mereka, yakni Abu Thâhir –semoga Allâh Azza
wa Jalla melaknatnya- duduk di pintu Ka’bah, sementara orang-orang
disembelihi di hadapannya dan pedang-pedang berkelebatan membantai
orang-orang di Masjidil Haram pada bulan haram (suci) di hari Tarwiyah
yang merupakan hari yang mulia. Sementara Abu Thâhir ini berseru, “ Aku
adalah Allâh, Allâh adalah aku. Aku menciptakan makhluk dan akulah yang
mematikan mereka.
Orang-orang pun berlarian menyelamatkan
diri dari kekejaman Abu Thâhir ini. Di antara mereka bahkan ada yang
bergantung pada kelambu Ka’bah. Namun itu tidak menyelamatkan jiwa
mereka sedikit pun. Mereka tetap ditebas habis dalam keadaan seperti
itu. Mereka dibunuhi meskipun mereka sedang bertawaf…”
Beliau melanjutkan, “Setelah pasukan
Qarâmithah ini melakukan aksi brutal mereka itu –semoga Allâh melaknat
mereka- dan perbuatan keji mereka terhadap para jamaah haji, Abu Thahir
ini menyuruh pasukannya agar melemparkan mayat-mayat yang tewas ke sumur
Zamzam. Dan sebagian lain dikubur di tempat-tempat mereka di tanah
haram bahkan di dalam Masjidil Haram. Lalu kubah sumur Zamzam pun
dirobohkan. Kemudian Abu Thâhir memerintahkan agar mencopot pintu
Ka’bah, melepaskan kelambunya, untuk ia koyak-koyak dan bagikan kepada
pasukannya.”[13]
Dan jangan lupa juga pengkhianatan mereka
terhadap Khalifah al-Musta’shim billâh yang dilakoni oleh Muhammad bin
al-Alqami dan Nâshiruddîn ath-Thûsi, yang anehnya kedua orang ini
dianggap pahlawan oleh orang-orang Syi’ah.
Keruntuhan kota Baghdad yang kala itu
merupakan ibukota Daulah Abbasiyah di tangan pasukan Tatar tak lepas
dari konspirasi yang dilakukan oleh Ibnul Alqami dan ath-Thûsi. Hal ini
didorong dendam kesumat Ibnul Alqami ini terhadap Ahlu Sunnah. Pasalnya,
pada tahun 656 H terjadi peperangan hebat antara Ahlu Sunnah dan Syiah
yang berujung dengan takluknya kota Karkh yang merupakan pusat kegiatan
kaum Syiah dan beberapa rumah sanak keluarga al-Alqami menjadi korban
penjarahan. Ia sangat berambisi meruntuhkan kekuatan Ahlu Sunnah dan
menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya, walaupun harus
bersekutu dengan pasukan musuh dan berkhianat terhadap khalifah. Hal itu
ia lampiaskan ketika ia memegang jabatan kementrian bagi Khalifah
al-Musta’shim billâh, ia memberi jalan bagi pasukan Tatar untuk masuk
Baghdad. Peristiwa itu terjadi pada tahun 656 H. Ketika Hulago Khan dan
pasukannya yang berjumlah dua ratus ribu personil mengepung Baghdad dan
menghujani istana khalifah dengan anak panah. Pengamanan sekitar istana
saat itu lemah karena sebelum terjadinya peristiwa ini, Ibnul Alqami
secara diam-diam telah mengurangi jumlah personil tentara khalifah
dengan cara memecat sejumlah besar perwira dan mencoret nama mereka dari
dinas ketentaraan. Pada masa kekhalifahan sebelumnya, yaitu Khalifah
al-Mustanshir, jumlah pasukan mencapai 100.000 personil. Sementara pada
masa al-Musta’shim billâh jumlahnya menyusut menjadi 10.000 personil
saja. Kemudian Ibnul Alqami ini mengirim surat rahasia kepada bangsa
Tatar dan memprovokasi mereka untuk menyerang Baghdad. Ia sebutkan dalam
surat rahasia itu kelemahan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah di
Baghdad. Itulah sebabnya bangsa Tatar dengan sangat mudah dapat
merebutnya. Ketika pasukan Tatar mulai mengepung Baghdad sejak tanggal
12 Muharram 656 H, saat itulah Ibnul Alqami melakukan pengkhianatannya
untuk kesekian kali. Dialah orang pertama yang menemui pasukan Tatar.
Lalu ia keluar bersama keluarganya, pembantu serta pengikutnya pada
saat-saat kritis itu untuk menemui Hulago Khan dan mendapat perlindungan
darinya. Kemudian ia membujuk Khalifah agar ikut keluar bersamanya
menemui Hulagokan untuk mengadakan perdamaian, yaitu memberikan separoh
hasil devisa negara kepada bangsa Tatar.
Maka berangkatlah Khalifah bersama para
qadhi, Fuqâha’, tokoh-tokoh negara dan masyarakat serta para pejabat
tinggi negara lainnya dengan 700 kendaraan. Ketika sudah mendekati
markas Hulago Khan, mereka ditahan oleh pasukan Tatar dan tidak
diizinkan menemui Hulago Khan kecuali hanya Khalifah bersama 17 orang
saja. Permintaan ini dipenuhi oleh Khalifah. Ia berangkat bersama 17
orang sementara yang lain menunggu. Sepeninggal Khalifah, sisa rombongan
itu dirampok dan dibunuh oleh pasukan Tatar. Selanjutnya Khalifah
dibawa ke hadapan Hulago Khan seperti seorang pesakitan yang tak berdaya
Kemudian atas permintaan Hulago Khan, Khalifah kembali ke Baghdad
ditemani oleh Ibnul Alqami dan Nâshiruddîn ath-Thûsi. Di bawah rasa
takut dan tekanan yang hebat, Khalifah mengeluarkan emas, perhiasan dan
permata dalam jumlah yang sangat banyak. Namun tanpa disadari oleh
Khalifah, para pengkhianat dari Syiah ini telah membisiki Hulago Khan
agar menampik tawaran damai dari Khalifah. Ibnul Alqami ini berhasil
meyakinkan Hulago Khan dan membujuknya untuk membunuh Khalifah. Dan
tatkala Khalifah kembali dengan membawa perbendaharaan negara yang
banyak untuk diserahkan, Hulago Khan memerintahkan agar Khalifah
dieksekusi. Dan yang mengisyaratkan untuk membunuh Khalifah adalah Ibnul
Alqami dan ath-Thûsi.
Dengan terbunuhnya Khalifah pasukan Tatar
leluasa menyerbu Baghdad tanpa perlawanan berarti. Maka jatuhlah
Baghdad ke tangan musuh. Dilaporkan bahwa jumlah orang yang tewas saat
itu lebih kurang dua juta orang. Tidak ada yang selamat kecuali Yahudi,
Nashrani dan orang-orang yang meminta perlindungan kepada pasukan Tatar,
atau berlindung di rumah Ibnul Alqami dan orang-orang kaya yang menebus
jiwa mereka dengan menyerahkan harta kepada pasukan Tatar. [14]
SEBUAH PELAJARAN BERHARGA
Melalui rekaman sejarah yang telah dipaparkan Ulama, menyerahkan amanat dan jabatan kepada kaum Syiah merupakan tindakan bunuh diri yang membahayakan umat. Karena sejarah telah membuktikan pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin, khususnya kepada Ahlu Sunnah.
Melalui rekaman sejarah yang telah dipaparkan Ulama, menyerahkan amanat dan jabatan kepada kaum Syiah merupakan tindakan bunuh diri yang membahayakan umat. Karena sejarah telah membuktikan pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin, khususnya kepada Ahlu Sunnah.
Al-Baghdâdi rahimahullah telah
menjelaskan secara ringkas permusuhan kaum Syiah Bathiniyah ini terhadap
Islam dan kaum Muslimin. Beliau berkata, “Ketahuilah –semoga Allâh
membuatmu bahagia- sesungguhnya bahaya yang ditimbulkan oleh kaum
Bathiniyah terhadap kaum Muslimin lebih besar daripada bahaya yang
ditimbulkan oleh kaum Yahudi, Nashrani maupun Majusi. Bahkan lebih besar
daripada kaum Dahriyah (atheis) serta kelompok-kelompok kafir lainnya.
Bahkan lebih besar daripada bahaya yang ditimpakan oleh Dajjal yang
muncul di akhir zaman. Karena orang orang yang tersesat akibat dakwah
Bathiniyah ini sejak awal mula munculnya dakwah mereka sampai hari ini
lebih banyak daripada orang-orang yang disesatkan oleh Dajjal pada waktu
munculnya nanti. Karena fitnah Dajjal tidak lebih dari empat puluh
hari, sementara kejahatan kaum Bathiniyah ini lebih banyak lagi daripada
butiran pasir dan tetesan hujan.” [15]
Kaum Bathiniyah ini sengaja memilih
ajaran Syiah sebagai alat untuk beraksi karena adanya kecocokan dengan
ambisi dan keinginan mereka. Karena mereka tidak menemukan jalan masuk
kepada Islam kecuali dengan menampakkan ajaran Syiah ini dan menisbatkan
diri kepada agama Syiah. Abu Hamid Al-Ghazâli t mengungkapkan, “Telah
sukses diadakan pertemuan di antara pengikut-pengikut ajaran Majusi dan
Mazdakiyah dari kalangan kaum Tsanawiyah yang mulhid (kafir) serta
sekelompok besar kaum filsafat mulhid –ad-Dailami menambahkan- dan
sisa-sisa pengikut ajaran Kharamiyah serta kaum Yahudi. Mereka disatukan
dengan satu slogan yaitu membuat tipu daya untuk menolak Islam. Mereka
berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah mengalahkan kita dan menghapus
agama kita. Carilah sekutu untuk menghadapinya karena kita tidak mampu
secara frontal untuk menghadapi mereka. Kita tidak bisa berhasil merebut
kekuasaan yang ada di tangan kaum Muslimin dengan senjata dan
peperangan. Karena kekuatan mereka dan banyaknya personil pasukan
mereka. Demikian pula kita tidak mampu untuk beradu argumentasi dengan
mereka karena mereka memiliki Ulama, fudhala’ dan ahli tahqiq. Tidak ada
cara kecuali melakukan makar dan tipu daya. Kemudian mereka membuat
rancangan dan program untuk mencapai tujuan ini. Dan di antara cara yang
mereka tempuh adalah masuk ke tengah kaum Muslimin melalui jalan
tasyayyu’ (ajaran Syi’ah). Walaupun mereka juga menganggap bahwa kaum
Syiah ini sesat, hanya saja mereka itu adalah orang yang paling dangkal
akalnya, paling konyol logikanya, paling mudah untuk menerima
perkara-perkara yang mustahil, paling percaya dengan riwayat-riwayat
dusta yang mereka buat, serta yang paling mudah untuk menerima
riwayat-riwayat palsu. Apalagi dalam ideologi Syiah ini terdapat ajaran
taqiyah (bermuka dua) yang sangat mereka perlukan untuk menjalankan misi
mereka. Maka mereka pun bersembunyi di balik ajaran ini untuk
melemahkan Islam dan kaum Muslimin. Sehingga tampilan luar mereka adalah
Syiah, tetapi batin mereka berisi kekufuran (terhadap Islam). [16]
Itulah sedikit dari fakta sejarah yang
sudah terjadi. Sebenarnya masih banyak lagi sejarah hitam kekejaman ahli
bid’ah ini (kaum Syiah) terhadap Ahlu Sunnah khususnya dan kaum
Muslimin pada umumnya. Kita harus mengambil pelajaran dari masa lalu
agar tidak berulang pada masa mendatang. Karena sesungguhnya seorang
Mukmin itu tidak boleh jatuh dalam satu lobang berulang kali,
sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Wallâh a’lam