eramuslim - Setiap insan dalam kehidupan
ini mempunyai fungsi sebagai pemimpin. Minimal kepemimpinan di rumah
tangga atau diri pribadi. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri
sekaligus anak-anaknya, seorang Presiden adalah pemimpin bagi rakyatnya
dan begitu seterusnya, dalam setiap individu manusia yang akhirnya
menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Dewasa
ini kepemimpinan cenderung dimanfaatkan untuk pemuasan hak pribadi yang
ironisnya "Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang
diinginkan"- Mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang
banyak, melupakan "amanat kepemimpinan" yang diamanahkan atas dirinya-
melanggar hak-hak konstitusi yang sudah disepakati bersama, juga kolusi
untuk kepentingan kekuatan kepemimpinannya.
Ibnu Taimiyyah mengatakan
dalam kitab Al siyaasah al syar'iyyah: Bahwa karena kepemimpinan
merupakan suatu amanat maka untuk meraihnya harus dengan cara yang
benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanatkan itu juga harus
dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula dalam menunjuk
seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata,
tapi lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme dan keaktifan. Peka
dalam menerima solusi-solusi yang membangun atau menerima kritik-kritik
yang menuju kepada perbaikan.
Substansi
kepemimpinan dalam perspektif Islam merupakan sebuah amanat yang harus
diberikan kepada orang yang benar-benar "ahli", berkualitas dan memiliki
tanggungjawab yang jelas dan benar serta adil, jujur dan bermoral baik.
Inilah beberapa kriteria yang Islam tawarkan dalam memilih seorang
pemimpin yang sejatinya dapat membawa ummat kepada kehidupan yang lebih
baik, harmonis, dinamis, makmur, sejahtera dan tentram.
Disamping
itu, pemimpin juga harus orang yang bertaqwa kepada Allah. Karena
ketaqwaan ini sebagai acuan dalam melihat sosok pemimpin yang
benar-benar akan menjalankan amanah. Bagaimana mungkin pemimpin yang
tidak bertaqwa dapat melaksanakan kepemimpinannya? Karena dalam
terminologinya, taqwa diartikan sebagai melaksanakan perintah-perintah
Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwa berarti ta'at dan patuh
-takut melanggar/mengingkari dari segala bentuk perintah Allah-.
Memilih
pemimpin bukan didasari oleh sikap pilih kasih, nepotisme atau
kecendrungan primordial yang sempit. Atau memilih seorang pemimpin yang
gila jabatan, ambisius dalam meraih kursi jabatan atau vested
interested. Tapi hendaknya kepemimpinan diberikan kepada orang yang
"ikhlas" dan dipercaya dalam mengemban amanah. Senantiasa
memperioritaskan kemaslahatan ummat daripada kepentingan pribadi,
kelompok atau keluarga.
Khalifah Abu bakar Assiddiq ra pernah
berpidato saat dilantik menjadi pemimpin ummat sepeninggalan Rasulullah
Saw yang mana inti dari isi pidato tersebut dapat dijadikan pandangan
dalam memilih profil seorang pemimpin yang baik. Isi pidato tersebut
diterjemahkan sebagai berikut:
"Saudara-saudara,
Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik
diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku,
dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah
amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. 'Orang lemah'
diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan
melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' diantara kalian aku pandang lemah
posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka
peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak
menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum
yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt.
Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika
aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi
kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Sholat semoga
Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua".
Ada 7 poin yang dapat diambil dari inti pidato khalifah Abu Bakar ra ini, diantaranya:
1.
Sifat Rendah Hati. Pada hakikatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda
dengan kedudukan rakyatnya. Ia bukan orang yang harus terus
diistimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah
dari yang lainnya karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan
mengemban amanat. Ia seolah pelayan rakyat yang diatas pundaknya
terletak tanggungjawab besar yang mesti dipertanggungjawabkan. Dan
seperti seorang "partner" dalam batas-batas yang tertentu bukan seperti
"tuan dengan hambanya". Kerendahan hati biasanya mencerminkan
persahabatan dan kekeluargaan, sebaliknya keegoan mencerminkan sifat
takabur dan ingin menang sendiri.
2.
Sifat Terbuka Untuk Dikritik. Seorang pemimpin haruslah menanggapi
aspirasi-aspirasi rakyat dan terbuka untuk menerima kritik-kritik sehat
yang membangun dan konstruktif. Tidak seyogiayanya menganggap kritikan
itu sebagai hujatan atau orang yang mengkritik sebagai lawan yang akan
menjatuhkannya lantas dengan kekuasaannya mendzalimi orang tersebut.
Tetapi harus diperlakukan sebagai "mitra"dengan kebersamaan dalam rangka
meluruskan dari kemungkinan buruk yang selama ini terjadi untuk
membangun kepada perbaikan dan kemajuan. Dan ini merupakan suatu
partisipasi sejati sebab sehebat manapun seorang pemimpin itu pastilah
memerlukan partisipasi dari orang banyak dan mitranya. Disinilah
perlunya social-support dan social-control. Prinsip-prinsip dukungan dan
kontrol masyarakat ini bersumber dari norma-norma islam yang diterima
secara utuh dari ajaran Nabi Muhammad Saw.
3.
Sifat Jujur dan Memegang Amanah. Kejujuran yang dimiliki seorang
pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan
kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan. Pemimpin yang
konsisten dengan amanat rakyat menjadi kunci dari sebuah kemajuan dan
perbaikan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi putranya saat
dia berada dikantornya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah
yang terjadi dirumah. Seketika itu Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu
ruangan dan si anak bertanya dari sebab apa sang ayah mematikan lampu
sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap. Dengan sederhana sang
ayah menjawab bahwa lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari
rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan
urusan keluarga.
4. Sifat
Berlaku Adil. Keadailan adalah konteks nyata yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran rakyatnya. Keadilan bagi
manusia tidak ada yang relatif. Islam meletakkan soal penegakan keadilan
itu sebagai sikap yang essensial. Seorang pemimpin harus mampu
menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan seadil-adilnya bukan
sebaliknya berpihak pada seorang saja-berat sebelah. Dan orang yang
"lemah" harus dibela hak-haknya dan dilindungi, sementara orang yang
"kuat" dan bertindak zhalim harus dicegah dari bertindak
sewenang-wenangnya.
5.
Komitmen dalam Perjuangan. Sifat pantang menyerah dan konsisten pada
konstitusi bersama bagi seorang pemimpin adalah penting. Teguh dan terus
Istiqamah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Pantang tergoda oleh
rayuan dan semangat menjadi orang yang pertama di depan musuh-musuh
yang hendak menghancurkan konstitusi yang telah di sepakati bersama.
Bukan sebagai penonton di kala perang..
6.
Bersikap Demokratis. Demokrasi merupakan "alat" untuk membentuk
masyarakat yang madani, dengan prinsip-prinsip segala sesuatunya dari
rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Dalam termin ini pemimpin tidak
sembarang memutuskan sebelum adanya musyawarah yang mufakat. Sebab
dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya dari sebuah kesepakatan
bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik
buruknya bisa ditanggung bersama-sama. Ibaratnya seorang imam dalam
sholat yang telah batal maka tidak diwajibkan baginya untuk meneruskan
sholat tersebut, tetapi ia harus bergeser kesamping sehingga salah
seorang makmum yang berada dibelakang imam yang harus menggantikannya.
7.
Berbakti dan Mengabdi kepada Allah Dalam hidup ini segala sesuatunya
takkan terlepas dari pantauan Allah, manusia bisa berusaha semampunya
dan sehebat-hebatnya namun yang menentukannya adalah Allah. Hubungan
seorang pemimpin dengan Tuhannya tak kalah pentingnya; yaitu dengan
berbakti dan mengabdi kepada Allah. Semua ini dalam rangka memohon
pertolongan dan ridho Allah semata. Dengan senantiasa berbakti
kepada-Nya terutama dalam menegakkan Sholat lima waktu contohnya,
seorang pemimpin akan mendapat hidayah untuk menghindari
perbuatan-perbuatan yang keji dan tercela. Selanjutnya ia akan mampu
mengawasi dirinya dari perbuatan-perbuatan hina tersebut, karena dengan
Sholat yang baik dan benar menurut tuntunan ajaran Islam dapat mencegah
manusia dari perbuatan keji dan mungkar (lihat Q.S.Al Ankabuut : 45 ).
Sifat yang harus terus ia aktualisasikan adalah ridho menerima apa yang
dicapainya. Syukur bila meraih suatu keberhasilan dan memacunya kembali
untuk lebih maju lagi, sabar serta tawakkal dalam menghadapi setiap
tantangan dan rintangan, sabar dan tawakkal saat menghadapi kegagalan.
Dari
rangkaian syarat-syarat pemimpin diatas sedikit dapat kita jadikan
pandangan dalam memilih sosok pemimpin, dan masih banyak lagi
ketentuan-ketentuan pemimpin yang baik dalam perspektif Islam yang bisa
kita gali baik yang tersurat maupun tersirat di dalam Al Qur'an dan
Hadist-hadist Nabi Saw.
Pemimpin
ibarat seorang "supir" bus yang membawa penumpang-penumpangnya pada
suatu tujuan dengan selamat dan memuaskan. Sebagai seorang supir
pastilah harus menguasai dan ahli dalam menyupir serta segala
"tetek-bengek" nya, baik itu teknisi atau perbengkelannya dan mematuhi
aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh polisi pada rambu-rambu
lalu-lintas. Kondektur bus tersebut adalah tim ahli yang juga dibutuhkan
partisipasinya, yang membantu supir dalam mengontrol keadaan bus dan
mendata jumlah penumpang serta menjaga barang-barang bawaan penumpang.
Dalam hal ini kondektur diumpamakan dewan-dewan legislatif yang wajib
berpartisipasi selalu membantu program-program kerja pemimpin dalam
membawa bangsa dan rakyatnya. Kaca spion, lampu, rem dan lainnya
merupakan peralatan yang harus ada dan lengkap untuk menempuh
perjalanan. Peralatan-peralatan seperti kaca spion, setir, klakson dan
lainnya itu seperti perundang-undangan yang disepakati bersama dan layak
untuk dipakai.
Mana mungkin
penumpang akan naik sebuah bus yang tak ada kaca spion, rem, lampu dan
peralatan-peralatan lainnya? Peralatan-peralatan itu juga bisa di-
"utak-atik" dengan selera masing-masing menurut mode dan selera yang
sama-sama disepakati. Kalau bus dengan peralatan-peralatan yang telah
disepakati bersama dapat menghantarkan penumpang ke tujuannya, mengapa
tidak perundang-undangan yang disetujui bersama dapat menjadikan rakyat
kepada tatanan kehidupan yang makmur dan sejahtera? Supir yang sudah
ahli dengan peralatan-peralatan yang lengkap, belum menjadi jaminan
untuk sampai ketujuan kecuali dengan do'a mengharap lindungan Allah. Tak
lebihnya juga, seorang pemimpin dengan dewan-dewan legislatifnya serta
rakyat belum menjamin kemakmuran dan kesejahteraan kecuali dengan ridho
dan hidayah Allah. Disinilah pentingnya ketaqwaan itu, dengan kepatuhan
dan ketaatannya kepada yang Maha Kuasa. Pemimpin hanya bisa mengusahakan
selamat sampai tujuan, namun yang menentukannya tetaplah Allah.
Selanjutnya,
bentuk jalan yang berliku-liku, berlubang, tikungan atau mulus lurus
dan tak putus-putus merupakan kodrat yang ada pada alam ini. Itulah
ibaratnya sunnatullah yang telah Allah tentukan kepada makhluknya. Ada
kanan pastilah ada kiri. Lurusnya jalan pastilah ada tikungan. Mulusnya
jalan pastilah ada lubang-lubangnya. Inilah ketentuan-ketentuan Allah
yang tidak mungkin kita lari dari-Nya. Supir pun harus bisa bersikap
equal menyikapi tuntutan para penumpang yang dianggap sehat dan baik.
Tuntutan penumpang pastilah tidak jauh dari tuntutan keselamatan
bersama. Begitu juga, seorang pemimpin haruslah seimbang dengan
tuntutan-tuntutan rakyat yang tidak menyalahi konstitusi demi kemakmuran
dan kesejahteraan bersama. Tuntutan rakyat biasanya lahir karena
melihat adanya kepincangan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh
pemimpin tersebut.
Begitulah
sepatutnya yang diharapkan dari kehidupan ini pada diri seorang pemimpin
dalam membawa ummat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan bagi hidup
dirinya dan rakyat yang dipimpinnya. Begitu pula, hendaknya dengan
mengacu kepada ketentuan-ketentuan kepemimpinan menurut tuntunan ajaran
Islam seperti yang diuraikan di atas.
Menjelang
Pemilu 2004 nanti diharapkan pada pemimpin untuk komitmen pada
konstitusi yang ada. Dan diharapkan juga ketelitian rakyat dalam memilih
pemimpinnya sesuai tuntunan ajaran islam. Wallahu 'a'lam.
"Kami
telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah mewahyukan kepada mereka
untuk mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan
selalu menyembah (mengabdi) kepada Kami." (QS. Al-anbiya':73)
Sumber:http://www.eramuslim.com/