Cobalah sedikit memberikan perhatiaan saat orang lain menggunakan alasan. Kebanyakan orang menggunakan alasan untuk menutupi kesalahan atau untuk mempertahankan status quo-nya.
“Saya terlambat karena….”
“Saya gagal karena…”
“Saya tidak bisa bisnis karena…”
Polanya sederhana, jika diawali dengan kata negatif, maka alasan akan menjadi kekuatan yang merusak. Mulai sekarang, jangan atau setidaknya kurangi pola kalimat seperti ini dalam kehidupan Anda.
“Tapi alasan saya benar.”
Tanpa sadar, baru saja Anda mengeluarkan alasan yang merusak lagi. Silahkan Anda mau beranggapan benar atau tidak. Namun tetap saja tidak akan memberdayakan diri Anda. Akan lebih baik, Anda memilih alasan-alasan yang membangun.
Caranya mudah, balikan saja pola kalimatnya. Jika alasan mengikuti kalimat negatif menjadi alasan merusak, maka alasan yang mengikuti kalimat positif akan menjadi kalimat yang membangun.
“Saya harus bisnis karena…”
“Saya memilih gembira karena…”
“Saya memilih memberi karena…”
Bagaimana agar alasan memberikan kekuatan yang besar?
- Jadikan pekerjaan Anda sebagai ibadah. Jika pekerjaan Anda sebagai ibadah, meskipun gagal, kita akan tetap mendapatkan pahala selama kita ikhlas. Jadi niatkan untuk beribadah dengan ikhlas.
- Jadikan pekerjaan sebagai salah satu langkah Anda untuk melakukan misi hidup dan mencapai visi Anda.
- Jadikan pekerjaan sebagai salah satu bentuk kontribusi Anda kepada sesama.
Orang boleh beralasan untuk tidak memakai helm saat mengendarai sepeda motor. Apakah alasan itu melindungi dia dari kecelakaan? Anda juga bisa membuat alasan mengapa harus memakai helm. Keduanya ada pada kendali Anda. Anda bisa memilih dan Anda bisa menentukan. Jika Anda mengatakan tidak bisa, yah karena Anda masih punya alasan yang merusak.