Saudaraku, sidang pembaca yang berbahagia. Pengertian ikhlas menurut bahasa artinya tulus hati atau hati yang bersih. Sementara menurut istilah Ikhlas itu artinya yaitu melakukan sesuatu pekerjaan atau melakukan sesuatu perbuatan dengan tulus hati dan semata-mata mengharap ridho Allah SWT.
- Perhatikan firman Allah SWT yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Dan supaya mendirikan shalat
dan menunaikan zakat, yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)
Saudaraku, sidang pembaca sesama muslim. Demikian sekilas saya telah menguraikan setentang pengertian ikhlas
sebelum kita memasuki materi dakwah saya (lewat tulisan) kali ini
sesuai judul artikel religius ini tersebut diatas. Jadi orang yang
ikhlas adalah orang yang beribadah atau beramal shaleh
semata-mata karena ketulusan dan murni mencari ridho Allah. Yaitu yang
beramal tidak ingin dipuji ataupun mencari popularitas. Seseorang yang
beramal berdasarkan nilai ikhlas maka Allah SWT akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Karena
apabila dalam beramal ada satu motif lain yang melandasi pekerjaan
tersebut dan bukan karena Allah SWT, maka amal tersebut berarti sudah
bercampur (isyrah) sehingga yang terjadi adalah riya’, sombong, angkuh
dan sebagainya. Akan tetapi apabila amal perbuatan manusia dilandasi
niat yang tulus semata-mata karena Allah SWT, maka menjadi baiklah
amalnya dan menjadi amal yang sholeh (ikhlas).
- Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tersebut ini :
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya dan bahwasanya tiap-tiap orang tergantung apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedudukan
ikhlas dalam amal perbuatan manusia adalah penting sekali. Karena
ikhlas merupakan syarat diterimanya amal ibadah. Dengan amal yang ikhlas
manusia dapat terhindar dari godaan syetan. Dan ikhlas akan
mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa serta merupakan kunci
diterimanya sebuah do’a. Seperti dikatakan diatas setiap amal manusia
ditentukan oleh niatnya. Seorang akan mendapatkan hasil berdasarkan
niatnya. Niat dapat menentukan jenis, maksud dan tujuan perbuatan. Niat
yang ikhlas merupakan syarat diterimanya amal ibadah, sedangkan amal
ibadah yang tidak ikhlas menyebabkan amal tersebut menjadi sia-sia.
- Perhatikan Firman Allah SWT :
“Dan
siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan diapun mengerjakan kebaikan
dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim
menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa : 125)
- Dan Firman-Nya :
“…Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am : 88)
- Kemudian perhatikan Hadist Nabi SAW berikut ini :
“Allah tidak menerima amalan, melainkan amalan yang ikhlas dan karena untuk mencari keridhoan Allah.” (HR. Ibnu Majah)
Seorang mukmin dalam beramal hendaknya hanya semata-mata mengharap keridhoan-Nya.
Apabila dalam amalnya ada motif lain, misalnya karena kebanggaan, ingin
dipuji atau mencari popularitas maka amal tersebut termasuk riya’.
Riya’ adalah syirik yang sifatnya halus. Suatu amal yang tidak dilandasi
niat ikhlas pada hakikatnya menipu diri sendiri
ataupun berdusta. Jika seseorang beramal tidak ikhlas maka tidak
mendapatkan hasil yang diharapkan, bahkan tercecer ditengah jalan.
Seperti diumpamakan seorang petani yang tidak menuai
hasil panennya karena puso, gabuk atau padinya dimakan wereng. Di dalam
kehidupan sehari-hari sering kita jumpai banyak orang beramal, namun
sulit untuk diketahui dan dibedakan apakah amal itu termasuk ikhlas atau
riya’. Tidak sedikit suatu amal yang lahiriahnya baik tetapi merupakan
racun. Contohnya adalah upaya orang Yahudi untuk memecah-belah kaum
muslimin di Madinah dengan mendirikan Masjid Ad-Dirrar.
Tujuannya untuk menandingi Masjid yang syah. Lalu Rasulullah SAW
memerintahkan untuk menghancurkan Masjid tersebut. Mengapa demikian ?
Oleh karena tujuan pendirian masjid tersebut memang untuk memecah belah
persatuan dan kesatuan umat, sedangkan memecah belah persatuan dan
kesatuan umat dipandang sebagai suatu kejahatan. Hal ini memang berat
karena setiap pekerjaan manusia pada umumnya adalah dorongan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan mengharapkan
pujian serta menolak cacian. Seorang muslim yang sungguh-sungguh dalam
beramal akan melakukan sesuatu yang diridhoi Allah (Mardhatillah).
Pengakuan yang ia cari adalah pengakuan dari Allah. Hanya amal ibadah
dengan mencari keridhoan Allah semata yang dapat mendatangkan
kebahagiaan. Allah SWT dalam menilai seseorang bukan
dari penampakan lahiriahnya saja ataupun status social dan ekonomi orang
tersebut, melainkan dari keikhlasannya.
- Perhatikan sabda Rasulullah SAW :
“Sesungguhnya
Allah tidak akan menilai bentuk tubuh kamu dan tidak pula menilai rupa
kamu, tetapi Allah hanya menilai kepada hatimu (niat yang ikhlas).” (HR. Muslim)
Kecenderungan manusia untuk mendapatkan pengakuan masyarakat akan membuat amal manusia berorientasi
pada pujian dan menolak cacian, kecuali orang yang ikhlas. Iblis yang
dilaknat Allah ternyata senantiasa berupaya menjerumuskan manusia dengan
berbagai cara hingga akhir zaman.
- Firman Allah SWT :
“Iblis berkata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau
telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi dan pasti aku akan
menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.” (QS. Al-Hijr : 39-40)
Dari ayat tersebut di atas jelaslah bahwa iblis akan senantiasa mendorong manusia untuk menuju kesesatan dengan berbagai tipu dayanya, kecuali
terhadap orang yang ikhlas. Orang yang ikhlas pasti akan terhindar dari
godaan syetan. Amal yang ikhlas akan mendatangkan ketenangan karena
bagaimanapun dan apapun hasil dari perbuatannya sukses atau gagal, dia
akan menerimanya dengan ikhlas. Godaan syetan secara lahiriah akan
menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dan kemaksiatan. Namun hal yang
lebih berbahaya adalah godaan hati yang dapat merusak jiwa dan membawa
kepada kekufuran dan kemunafikan. Penyakit jiwa yang sering mendapat
bisikan syetan dalam mengiringi amal manusia adalah riya’ dan sombong
(ujub atau bangga diri). Orang yang ikhlas akan terhindar penyakit
rohani karena seluruh amalnya digunakan hanya untuk mencari keridhoan
Allah semata. Pengakuan yang diperlukan adalah pengakuan dari Allah SWT
karena hanya Dialah yang mengetahui orang yang bertaqwa.
- Sesuai FirmaNya :
“…Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertaqwa.” (QS. An-Najm : 32)
- Dan Firman-Nya :
“Dan
janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Lukman : 18)
Saudaraku,
amal yang ikhlas selalu dilakukan tanpa pamrih sehingga membuat orang
menjadi senang. Orang yang ikhla akan disukai dalam pergaulan karena
apabila ia menolong seseorang maka bantuan itu diberikan tanpa mengharap
imbalan apapun dan tidak diceritakan kepada siapapun. Orang yang ikhlas
akan banyak temannya sehingga apabila ia mendapat kesulitan,
teman-temannya secara sukarela membantu untuk meringankan kesulitan yang
dihadapi. Jika seseorang beramal didasarkan niat yang ikhlas, Allah
akan membalas dengan pahala berlipat ganda. Pahala Allah tidak hanya
diberikan di akhirat dengan syorga yang dijanjikannya, melainkan juga
diberikan kemudahan hidup di dunia.
- Seperti yang difirmankan Allah SWT :
“Dan katakanlah : Bekerjalah kamu maka Allah SWT dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang
nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)
Pertolongan
Allah yang diberikan kepada orang yang ikhlas kadang-kadang datang
secara tidak terduga sehingga kesulitan yang dihadapi orang tersebut
biasanya hilang dengan sendirinya.
Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
dikemukakan sebagai berikut : “Ada 3 (tiga) orang pemuda yang terjebak
(terkurung) dalam sebuah Goa. Mereka berusaha sekuat tenaga dengan
segala kemampuannya untuk mendorong batu yang menutupi
Goa tersebut, tetapi batu itu tidak bergeser sedikit pun, sia-sia usaha
mereka. Mereka menyadari bahwa tidaklah mungkin keluar dari Goa
tersebut, kecuali dengan pertolongan Allah. Setelah itu, mereka berdo’a.
Di dalam do’a mereka menyatakan kebaikan masing-masing yang pernah
dilakukannya dengan ikhlas. Pemuda pertama, menyatakan
dalam do’anya bahwa ia telah berbuat bakti kepada kedua orang tuanya
dengan ikhlas. Jika Allah ridho akan perbuatannya, maka berilah
pertolongan agar ia bisa keluar dari Goa tersebut. Setelah ia selesai
berdo’a maka bergeserlah batu tersebut tetapi mereka belum bisa keluar. Pemuda kedua,
menyatakan dalam do’anya bahwa ia mencintai anak pamannya yang cantik
jelita da ia memperoleh kesempatan untuk melakukan kemasiatan. Namun, ia
tidak melakukannya, ikhlas menjauhi
larangan Allah SWT. Jika Allah meridhoinya ia mohon agar mereka dapat
keluar dari Goa tersebut. Begitu selesai berdo’a lalu bergeserlah batu
tersebut lebih besar, tetapi mereka belum dapat keluar. Pemuda ketiga,
menyatakan dalam do’anya bahwa ia mempunyai pegawai (buruh) yang sudah
lama tidak datang, padahal upahnya (gajinya) belum diambil. Lalu upah
tersebut ia belikan seekor kambing dan kambing tersebut berkembang biak.
Beberapa tahun kemudian buruh tersebut datang untuk meminta upahnya
lalu kutunjukkan kambing-kambing tersebut dan aku berikan semua
kepadanya. Jika Allah meridhoinya (perbuatan tersebut) maka
selamatkanlah dan keluarkanlah kami dari Goa tersebut. Setelah selesai
berdo’a batu itu pun bergeser lebih lebar lagi sehingga mereka terbebas dan dapat keluar dari Goa tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian saudaraku, amal yang ikhlas telah membebaskan mereka dari kesulitan, Allah SWT Maha Mengetahui dan pasti memberikan balasan dan pahala atas setiap amal perbuatan ikhlas yang dilakukan oleh hamba-Nya.
- Sebagaimana Firman-Nya :
“Barang
siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan
melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan
seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS.Al-Zalzalah : 7 - 8)
- Dan Firman-Nya :
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman : 60)
Saudaraku,
sesama muslim. Dalam kehidupan modern semakin banyak tuntutan yang
perlu dipenuhi oleh masyarakat sehingga kebutuhan hidup semakin
meningkat pula. Kebutuhan hidup yang sebelumnya bersifat sekunder berubah menjadi kebutuhan primer.
Peningkatan dalam kebutuhan menimbulkan persaingan dalam hidup yang
telah membawa manusia kepada ketidak pastian dan kegelisahan. Ketidak
pastian dan kegelisahan inilah yang akan mempengaruhi struktur social dan ekonomi suatu masyarakat. Untuk menghindari kegelisahan dan ketidak pastian orang harus
ikhlas. Amal yang ikhlas akan melahirkan ketenangan dan ketentraman
serta mendatangkan kebahagiaan. Orang yang ikhlas dalam beramal shaleh
senantiasa bermuara pada keridhoan Allah SWT sehingga
ia tidak terpengaruh pada hasil pekerjaan tersebut. Bagaimanapun hasil
perbuatan yang ia lakukan, sukses atau gagal, semua diserahkan kepada
Allah. Ia tawakkal dan ikhlas menerimanya.
Apabila orang melakukan amal perbuatan secara tidak ikhlas ia senantiasa terpengaruh pada lingkungannya. Hal ini membuat manusia dalam beramal selalu ingin dipuji dan takut dicela. Kecenderungan ini menempatkan manusia dalam posisi yang tidak stabil, gelisah dan stress
bahkan dapat mengakibatkan frustasi. Kegagalan manusia dalam melakukan
persaingan hidup dapat menimbulkan perasaan putus asa dan frustasi,
padahal frustasi itu akan membawa akibat buruk dan dapat menimbulkan
penyakit. Demikian juga putus asa merupakan suatu dosa bahkan dapat
mengantarkan manusia kepada kekufuran.
- Perhatikan Firman Allah SWT :
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf
dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
kafir.” (QS. Yusuf : 87)
Saudaraku sesama muslim, Prof. Dr. Zakiah Darajat menyatakan bahwa penyakit terbesar yang banyak diderita masyarakat modern saat ini adalah Stres dan Frustasi. Sementara menurut Prof. Dr. Rudy Syarif
bahwa stress dan frustasi akan memperburuk tubuh manusia yaitu seperti
terkena eksim pada kulit, radang pada ginjal, penyakit jantung, kanker
dan asma yang dikenal sebagai psikomatik. Hal ini semua
adalah akibat dari melakukan perbuatan amal yang tidak ikhlas. Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia sering tidak mampu memecahkan persoalan
hidupnya. Disinilah keterbatasan manusia sehingga satu-satunya harapan
adalah bergantung kepada Allah. Komunikasi yang paling efektif antara
seorang hamba dan Allah adalah melalui do’a. Dalam do’a hamba Allah
dapat mengemukakan persoalan hidupnya dan Allah yang Maha Kuasa pasti
akan mengabulkan do’a setiap hamba-Nya.
- Firman Allah SWT :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a, apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka berikrar kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)
Setiap
do’a yang dipanjatkan oleh orang mukmin pasti dikabulkan oleh Allah.
Cepat atau lambatnya do’a itu terkabul ditentukan oleh kodrat dan iradat
Allah. Apabila ada satu do’a yang belum sempat dikabulkan didunia maka
pasti akan dicatat dan dibalas-Nya diakhirat kelak.
Dikabulkan atau tidaknya suatu do’a yang dipanjatkan hamba Allah tidak
tergantung pada lamanya do’a atau fasih dan hafalnya do’a diucapkan,
melainkan ditentukan keikhlasan orang tersebut dalam berdo’a. Keikhlasan hati dan kemantapan sertra kekhusu’an seseorang yang berdo’a merupakan konci
diterimanya sebuah do’a. kekhusus’an dan ikhlas dalam berdo’a merupakan
sesuatu yang sulit dilakukan. Namun disitulah letak rahasia dan
kekuatan do’a yang dikabulkan Allah.
Untuk
menjadi manusia yang ikhlas (mukhlis) memang sulit karena syetan
senantiasa mempengaruhi dan menggoda manusia. Apabila syetan gagal
menggoda manusia untuk melakukan kejahatan dan kemaksiatan maka ia
mengubah taktik dan strateginya dengan jalan membisikkan manusia supaya
dalam beramal menjadi riya’ dan ujub atau sombong.
Apabila
manusia telah tergetar hatinya dalam mendengar bisikan syetan, maka
hancurlah amalnya. Oleh karena itu, manusia harus berlindung kepada
Allah dari bisikan syetan dan menjauhi kemusyrikan karena musyrik
merupakan dosa besar.
- Firman Allah SWT :
“Dan
(ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi
pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah,
sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang
besar.” (QS. Lukman : 13)
Untuk
menghindarkan diri dari godaan syetan, manusia harus berlindung kepada
Allah dan meningkatkan amal ibadah secara ikhlas. Untuk memiliki sikap
ikhlas, manusia harus melatih dan membiasakan dirinya hidup ikhlas dalam
mewarnai setiap perbuatan sehari-hari. Adapun cara melatih jiwa agar
ikhlas sebagai berikut :
- Meningkatkan iman dan taqwa dengan jalan memperbanyak kegiatan pembinaan mental rohani.
- Meningkatkan, memperbanyak dan memanfaatkan setiap kesempatan beramal shaleh dalam kehidupan sehari-hari.
- Menghindarkan diri dari pergaulan lingkungan non-agamis. Lingkungan sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang sehingga suasana lingkungan yang non-agamis hendaknya dihindari.
- Mengamati dengan seksama bagaimana indahnya kehidupan orang-orang yang ikhlas dan usahakan untuk senantiasa dekat dan bergaul dengannya.
- Instropeksi diri dan tobat. Perhatikan kehidupan sendiri dan nilailah amal yang pernah dilakukan. Apakah sudah sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya ? Apakah masih banyak amal yuang salah? Segeralah bertaubat dan ingatlah bahwa kehidupan akhirat sangat ditentukan oleh amal shaleh, yaitu amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas sewaktu berada di dunia!
Saudaraku,
sidang pembaca yang terhormat. Saya sudahi sampai disini dakwah saya
(lewat tulisan) kali ini. Jumpa lagi kita, Insya Allah dengan dakwah
saya lewat tulisan tentu saja dengan materi dan judul yang lain. Semoga
tulisan ini bermanfaat, terima kasih atas segala perhatian dan mohon
maaf apabila terdapat kesalahan. Wa’afwa minkum, wassalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh.