IBNU HIBBAN meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik. Intinya, kelak di hari kiamat, ada segolongan umat
Muhammad yang melesat terbang dari kubur mereka langsung menuju sorga, tanpa hisab. Para malaikat bertanya,
“Amal apa yang pernah kalian lakukan selama di dunia?“ Mereka menjawab,
“Bila kami dalam keadaan bersepi, rasanya malu kami melakukan maksiat.
Di samping itu, kami ridha menerima bagian sedikit yang diberikan Allah
kepada kami “.
Dalam
kitab ‘Cinda dan Rindu ‘ ( terjemahan ) karya Imam Ghazali, diceritakan
ada seorang ahli ibadah di zaman Bani Israil yang sepanjang tahun
pekerjaannya melulu beribadah. Satu malam ia bermimpi, mendengar
seseorang berkata “Kelak ada seorang wanita pengembala yang menjadi
temanmu di sorga“. Ketika bangun, ia cari wanita itu dengan bersusah
payah. Setelah ketemu, ia ajak untuk menginap di rumahnya selama tiga
hari. Si Abid ( ahli ibadah ) itu ingin tahu amalan apa yang
dikerjakannya di waktu malam. Ternyata si wanita itu hanya tidur. Si
Ahli ibadah, siang berpuasa sunat, sedangkan si Gembalawati, itu tidak.
Setelah genap tiga hari, si Abid bertanya mengenai kebiasaan sehari-hari
wanita itu. Ia menjawab, “Jika saya berada dalam kesulitan, saya tidak
pernah berharap berada dalam kelonggaran. Kalau kebetulan sakit, tidak
beharap segera sembuh. Kalau sedang berada di bawah terik matahari, saya
tidak berharap berada dala keteduhan“. Mendengar ungkapan itu, si Abid
berkata, “Ya, benar. Itulah soalnya. Demi Allah, yang begitu itu tidak
banyak ahli ibadah yang melakukannya“.
“Dalam
tradisi amal ubudiyah, cinta ( mahabbah ) menempati derajat utama.
Mencintai Allah dan Rasul-Nya, berarti melaksanakan seluruh amanat dan
ajaran Al Quran dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi
rasa mahabbah. Pada mulanya, perjalanan mahabbah seorang hamba menapaki
dejarat mencinta-Nya. Namun, pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba
mendapatkan derajat wahana yang dicintai- Nya,“ demikian antara lain
tutur Abdul Aziz Musthafa dalam buku ‘Mahabbatullah‘.
Kecintaan
kepada Allah SWT hanya bisa dicapai dengan menghilangkan kecintaan
kepada selain-Nya. Itu pula yang terjadi pada Rabi’ah. Ketika Hasan Al
Basri datang melamarnya, Rabi’ah menolak dengan sangat bijak. Ia
bertanya kepada Al Hasan, “Menurut anda, berapa persenkah nafsu
perempuan dibandingkan nafsu lelaki?“ Al Hasan menjawab, “Sembilan puluh
persen nafsu perempuan dan sepuluh persen nafsu lelaki“.
Rabi’ah
melanjutkan, “Berapa perbandingan akal perempuan dan akal lelaki?“
Dijawablah, “Sepuluh persen akal perempuan dan sembilan puluh persen
akal lelaki,“ kilah Al Hasan. Lalu Sufi wanita ini menjawab, “Mengapa
saya yang memiliki akal sepuluh persen dapat mengendalikan sembilan
puluh persen nafsuk, sementara sembilan puluh persen nafsumu tidak bisa
mengenalikan sepuluh persen akalmu?“ Dengan sedih, ulama kharismatik
kota Basrah itu meninggalkan Rabi’ah. Ketika ada seseorang bertanya
kepada Rabi’ah, “Mengapa engkau tolak lamaran Al Hasan? “ Ia menjawab,
”Karena di dalam hatiku hanya ada kecintaan kepada Tuhan, tidak ada
tempat untuk mencintai sesama manusia“. Dalam kaitan ini bukan pula
Rabi’ah tidak mencintai Rasulullah SAW. Kecintaan kepada Allah
diwujudkan dengan kecintaan pada Rasulullah SAW. Karena, sebenarnya di
dalam cinta kepada Allah itu mengandung cinta kepada Rasulullah SAW.
Sebab Rasul SAW bersabda , “Cintailah Allah karena nikmat yang
dianugerahkan-Nya kepadamu. Cintailah aku karena kecintaanmu kepada
Allah. Dan cintailah keluargaku karena kecintaanmu kepadaku“.
Tanpa
disertai Mahabbah, ibadat kita terasa gersang, amal terasa hampa dan
pertumbuhan ruhani tidak tumbuh subur sebagaimana mestinya. Sebab,
ladang jiwa kita telah menjadi wahana persemaian biji keimanan dan
keyakinan, tidak menjadi ladang yang disuburkan oleh peribadatan,
keilklasan, kecintaan dan istiqamah.
Ridha atau senang menurut Imam Ghazali adalah salah satu buah yang dihasilkan oleh cinta..