Assalaamu’alaikum wr. wb.,
Dunia, ALLAH jadikan cantik pada pandangan mata. Ia dihias dengan
pelbagai nikmat, keindahan, dan kebahagiaan - rumah-rumah kediaman,
taman-taman bunga, makanan yang lezat-lezat, anak-anak yang
menghiburkan, dan lain-lain.
Antara seorang dengan seorang yang lain tidak sama kadar dunia yang
dapat dimilikinya. Ada yang dapat memiliki rumah besar, pangkat tinggi,
memperoleh sanjungan manusia, bisa bertukar ganti pakaian selalu, makan
makanan yang enak-enak. Tapi ada juga yang hanya duduk di pondok buruk,
dipandang hina oleh orang dan makan sekedar untuk mengganjal perut.
Apakah maksud ALLAH tidak memberi dunia sama banyak dan sama rata kepada
setiap hamba-Nya?
Sebenarnya tentulah setiap hamba itu mendapat kasih sayang serta rahmat
ALLAH, karena setiap yang ALLAH jadikan, ALLAH kasihi melebihi kasih
seorang ibu kepada anaknya. Tapi takdir yang ditentukan ALLAH tetap
tidak sama dan seringkali berbeda, bahkan sebagiannya di luar kehendak
hamba itu sendiri. Kasih sayang ALLAH akan dimiliki oleh hamba-hamba-Nya
yang dapat tunduk kepada takdir ALLAH. Baik dia ditakdirkan untuk jadi
orang yang senang, atau sebaliknya ditakdirkan menjadi miskin, dia tetap
rela dan tidak merengut suatu apa pun.
Dia
tahu bahwa sesungguhnya ALLAH tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Kalaulah
takdir yang ditentukan itu baik, maka disinilah peluangnya untuk
menjadi hamba yang bersyukur, yang dapat memanfaatkan kebaikan yang
diperolehnya itu bukan untuk dirinya seorang, tapi agar dapat dirasakan
bersama oleh orang lain.
Kalaulah
ditakdirkan kaya, dengan kekayaan itu dia akan dapat membantu orang
susah, anak-anak yatim, janda dan fakir miskin serta melakukan lain-lain
kebajikan. Sehingga dia menjadi lebih dekat kepada ALLAH dan mendapat
rahmat serta kasih sayang-Nya. Sebaliknya orang yang ditakdirkan
menerima nasib yang kurang baik, tetapi dia sanggup bersabar walaupun
dalam seribu kepahitan, maka ALLAH akan balas dengan rahmat-Nya. ALLAH
akan hiburkan dengan mengaruniainya kekayaan hati.
Hati
yang kaya adalah hati yang senantiasa berbahagia dengan kebaikan. Hati
senantiasa merasa ringan menghadapi kesusahan atau kemiskinan. Nasib
malang yang menimpa dirinya sedikit pun tidak menyusahkan hatinya.
Sebaliknya, segala kejadian dan keadaan yang ada itu membuat dia terus
bergantung hati, bertawakkal, dan berserah diri pada ALLAH. Dia yakin
ALLAH itu Maha Bijaksana.
Maha
Suci ALLAH dari salah dalam menentukan takdir dan perjalanan hidup
hamba-Nya. ALLAH Maha Adil. Karena itu, apa saja nasib yang menimpa
dirinya tentulah hasil dari sifat adil-Nya. Justru itu akan membuat
hatinya makin ridha, merendah diri, dan semakin dekatlah hatinya dengan
ALLAH. Seorang hamba yang tidak ridha dengan takdir atau nasib yang
menimpa dirinya, seolah- olah dia tidak yakin pada keadilan dan
kebijaksanaan ALLAH. Seolah-olah menganggap ALLAH tidak tahu kehendak
hatinya. Padahal karena Maha Tahu- nya ALLAH, yang ilmu-Nya meliputi
segala sesuatu, maka ALLAH pasti memutuskan takdir yang sebaik-baiknya
untuk hamba-Nya. Walaupun pada pandangan si hamba takdir itu tidak baik,
tetapi kalau dia betul-betul berserah diri pada ALLAH dia akan mendapat
keuntungan dari takdir itu. Sebaliknya, kalau seseorang setelah diberi
rezeki dengan takdir yang baik dalam hidup ternyata membuat dia terlalu
gembira dan bangga, hingga dia lalai dan lupa kepada Yang Memberi, maka
takdir yang dia anggap baik itu sebenarnya sudah tidak menguntungkan
dirinya lagi. Dia sudah berada jauh dari ALLAH disebabkan kelalaiannya.
Janganlah merasa iri hati atau dengki melihat nasib atau takdir yang
baik yang telah ALLAH tentukan terhadap orang lain sehingga kita
berusaha untuk mendapatkannya.
Karena apa yang diperuntukkan ALLAH kepada seorang hamba-Nya itu pasti
tidak sama dan tidak dimiliki oleh hamba-Nya yang lain, yang tidak
tertulis sebagai penerima takdir itu, meski dia berusaha mati-matian
untuk menggapai, mencapai dan mendapatkannya. Apa yang patut dilakukan
oleh setiap hamba ialah ridha menerima segala ketentuan atau takdir
ALLAH, baik yang dianggap baik atau tidak.
Karena, pada hakikatnya, setiap yang ditakdirkan dan ditentukan oleh
ALLAH itu adalah yang baik-baik (the God is not common mistake). Cuma,
yang membedakan baik atau tidak itu (menurut manusia) ialah hawa nafsu
manusia sendiri. Mana-mana yang sesuai dengan kehendak nafsu dan hatinya
dianggap baik. Sebaliknya yang menyusahkan dan nafsunya merasa tidak
senang, dikatakan tidak baik. Janganlah kita mengukur takdir dengan
mengikuti hawa nafsu yang hanya mengajak kita menjadi ingkar dan
memusuhi ALLAH. Ikutilah penilaian dan ukuran ALLAH. Kalau kita dapat
menghadapi setiap takdir dengan banyak berserah, berharap, dan takut
pada kemurkaan-Nya, tentulah setiap takdir itu akan menguntungkan kita.
Untungnya, karena ia bisa lebih mendekatkan diri kita dengan ALLAH.
Orang yang dekat dengan
ALLAH akan diberi ketenangan hati, rasa aman dan sentosa serta
anugerah-anugerah lain yang hanya dirasakan oleh manusia itu sendiri
sehingga menambah rasa syukur kita. Karena sesungguhnya sebagian besar
dari anugerah Allah itu tidak dapat dilihat oleh mata tapi hanya dapat
dirasakan oleh hati terlebih lagi yang benar-benar memahami Sang Illahi
Rabbi.
Wassalaam…