Dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah subhanahu wa ta`ala.
Inilah yang disebut dengan rububiyyah Allah. Tauhid rububiyyah adalah
sebuah keyakinan yang diakui bahkan oleh kaum musyrikin. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Katakanlah: Siapakah yang
memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa
(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan
menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa
(kepada-Nya)?” (Yunus:31)
Oleh sebab itu, selayaknya manusia hanya menyembah kepada Allah subhanahu wa ta`ala saja. Allah subhanahu wa ta`ala
telah menciptakan untuk manusia berbagai prasarana berupa alam semesta
ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadatan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala
juga membantu mereka untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan
limpahan rezeki. Sedangkan Allah tidak membutuhkan imbalan apa pun dari
para makhluk-Nya.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak
menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi
rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzaariyaat:56-58)
Sesungguhnya tauhid tertanam
pada jiwa manusia secara fitroh. Namun asal fitroh ini dirusak oleh
bujuk rayu syaithan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke
dalam syirik. Para syaithan baik dari kalangan jin dan manusia
bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan demikianlah Kami
jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari
jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan
kepada sebahagian yang lain perkataan-pekataan yang indah-indah untuk
menipu manusia” (Al-An’aam:112)
Tauhid adalah asal yang
terdapat pada fitroh manusia sejak dilahirkan. Sedangkan kesyirikan
adalah sesuatu yang mendatang dan merasuk ke dalam pikiran manusia.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu
dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitroh Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitroh itu. Tidak ada perubahan pada
fitroh Allah.” (Ar-Ruum:30)
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap anak yang lahir, dilahirkan atas fitroh, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi” (HR.Al-Bukhari)
Berarti asal yang tertanam pada diri manusia secara fitroh adalah bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta`ala.
Kesyirikan adalah Sebab Perselisihan Manusia
Mulai masa Nabi Adam `alaihis-salam sampai kurun waktu yang cukup panjang setelahnya, manusia senantiasa berada di atas Islam sebagai agama tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu. maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”(Al-BaQaroh: 213)
Kesyirikan berawal pada masa kaum Nabi Nuh `alaihis-salam. Maka Allah mengutus Nabi Nuh `alaihis-salam sebagai rasul yang pertama. Allah ta`ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah
memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada
Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.” (An-Nisaa`: 163)
Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh `alaihimas-salam adalah sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas Islam. Sebagaimana penjelasan Ibnu `Abbas radhiyallahu ta`ala `anhu.
Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa ini merupakan pendapat yang benar. (Al-MuntaQao min Ighootsatil Lahafaan hal. 440)
Ubay bin Ka`ab rodiyallahu ‘anhu membaca firman Allah ta`ala dalam surat Al-BaQaroh ayat ke-213 dengan bacaan sebagai berikut,
“Dahulu manusia itu adalah
ummat yang satu, lalu mereka berselisih, maka Allah mengutus para nabi
sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”
Bacaan Ubay bin Ka`ab di atas dikuatkan oleh firman Allah ta`ala:
“Dahulu manusia hanyalah ummat yang satu, kemudian mereka berselisih.” (Yuunus: 19)
Maksud pernyataan Ibnul Qayyim
yang terdahulu bahwa para nabi diutus karena perselisihan manusia.
Mereka telah keluar dari agama yang benar sebagaimana yang mereka
pegangi sebelumnya.
Dahulu bangsa Arab juga berada di atas agama Nabi Ibrahim `alaihis salam yaitu at-tauhid. hingga datang `Amr bin Luhai Al-Khuza`i lalu merubah agama Nabi Ibrahim `alaihis-salam. Melalui orang ini tersebar penyembahan terhadap berhala di bumi Arab, terlebih khusus wilayah Hijaz. Maka Allah subhanahu wa ta`ala mengutus Nabi kita Muhammad shallallohu `alaihi wa sallam menjadi nabi yang terakhir.
Rasulullah shallallohu `alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama tauhid dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim `alaihis-salam.
Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya. Sampai tegak
kembali agama tauhid dan runtuh segala penyembahan terhadap berhala.
Saat itulah Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi alam semesta.
Selanjutnya generasi yang
terbaik dari umat ini berjalan di atas ajaran tauhid. Namun setelah masa
mereka berlalu umat ini kembali didominasi oleh berbagai kebodohan.
Mereka terkungkung dengan berbagai pemikiran baru yang mengembalikan
kepada syirik. Bahkan pengaruh dari agama-agama lain cukup kuat mewarnai
semangat keagamaan yang mereka miliki.
Sejarah penyebaran syirik
terulang pada umat ini disebabkan para penyeru kesesatan. Sebab lain
yang tak kalah penting adalah pembangunan kuburan-kuburan dalam rangka
pengagungan terhadap para wali dan orang-orang shalih secara berlebihan.
Dengan demikian maka kuburan
menjadi tempat pengagungan lantas menjadi berhala yang disembah selain
Allah. Berbagai amalan diperuntukkan bagi kuburan baik berupa doa,
penyembelihan, nadzar dan yang selainnya. (lihat Kitabut-tauhid karya DR.As- Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 6-7)
Itulah fenomena sejarah
perjalanan agama umat manusia sampai zaman ini. Hari-hari belakangan
kesyirikan telah sedemikian dahsyat melanda kaum muslimin. Sedikit
sekali di antara mereka orang yang mengerti tentang tauhid dan bersih
dari syirik. As-Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu As-Syaikh pernah
berkata: “Di awal umat ini jumlah orang yang bertauhid cukup banyak
sedangkan di masa belakangan jumlah mereka sedikit”. (Qurratul-`Uyuun hal.24)
Kita mendapatkan perkara tauhid
sebagai barang langka di kehidupan sebagian masyarakat muslimin. Tidak
dengan mudah kita menemuinya walaupun mereka mengaku sebagai muslimin.
Maka perlu untuk membangkitkan kembali semangat bertauhid di tengah umat
ini. Karena tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan
oleh manusia.
Tauhid, Hak Allah atas Segenap Manusia
Sesungguhnya tauhid adalah hak
Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Allah tidaklah
menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Ad-Dzaariyaat: 56)
Sebagian ulama menafsirkan kalimat:
“supaya menyembah-Ku”
dengan makna:
“supaya mentauhidkan-Ku”
(Lihat Al-Qaulul Mufiid karya Syaikh Ibnu `Utsaimin jilid 1 hal. 20)
Jika peribadahan kepada Allah
tidak disertai dengan bertauhid maka tidak akan bermanfaat. Amalan mana
pun akan tertolak dan batal bila dicampuri oleh syirik. Bahkan bisa
menggugurkan seluruh amalan yang lain bila perbuatan syirik yang
dilakukan dalam kategori syirik besar. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al-An`aam:88)
“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)
Dua ayat ini merupakan peringatan Allah ta`ala
kepada para nabi-Nya. Lalu bagaimana dengan yang selain mereka? Tentu
setiap amalan yang mereka lakukan adalah sia-sia bila tanpa tauhid dan
bersih dari syirik.
Tauhid adalah hak Allah subhanahu wa ta`ala
sebagai Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta ini. Langit dan
bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam keduanya terwujud karena
penciptaan Allah subhanahu wa ta`ala.
Allah menciptakan seluruhnya
dengan hikmah yang sangat besar dan keadilan. Maka layak bagi Allah
subhanahu wa ta`ala untuk mendapatkan hak peribadahan dari para
makhluk-Nya tanpa disekutukan dengan sesuatu apa pun.
Allah telah menciptakan manusia
setelah sebelumnya mereka bukan sesuatu yang dapat disebut. Keberadaan
mereka di alam ini merupakan kekuasaan Allah yang disertai dengan
berbagai curahan nikmat dan karunia-Nya.
Allah telah melimpahkan sekian
kenikmatan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya, melewati
proses kehidupan di dalam tiga kegelapan. Pada fase ini tidak ada
seorang pun yang bisa menyampaikan makanan serta menjaga kehidupannya
melainkan Allah subhanahu wa ta`ala. Ibunya sebagai penghubung untuk mendapatkan rezeki dari Allah ta`ala.
Tatkala lahir ke dunia, Allah ta`ala telah mentakdirkan baginya kedua orang tua yang mengasuhnya sampai dewasa dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.
Itu semua adalah rahmat dan keutamaan Allah ta`ala
terhadap segenap makhluk yang dikenal dengan nama manusia. Jika seorang
anak manusia lepas dari rahmat dan keutamaan Allah walaupun sekejap
maka dia akan binasa. Demikian pula jika Allah ta`ala mencegah rahmat dan keutamaan-Nya dari manusia walaupun sedetik, niscaya mereka tidak akan bisa hidup di dunia ini.
Rahmat dan keutamaan Allah yang
sedemikian rupa menuntut kita untuk mewujudkan hak Allah yang paling
besar yaitu beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala tidak pernah meminta dari kita balasan apa pun kecuali hanya beribadah kepada-Nya semata.
Peribadahan kepada Allah
bukanlah sebagai balasan setimpal atas segala limpahan rahmat dan
keutamaan Allah bagi kita. Sebab perbandingannya tidak seimbang. Dalam
setiap hitungan nafas yang kita hembuskan maka di sana ada sekian rahmat
dan keutamaan Allah yang tak terhingga dan ternilai.
Oleh karenanya nilai ibadah
yang kita lakukan kepada Allah tenggelam tanpa meninggalkan bilangan di
dalam lautan rahmat dan keutamaan-Nya yang tak terkejar oleh hitungan
angka. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Kami tidak meminta rezeki
kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang
baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)
Ketika manusia beribadah kepada
Allah tanpa berbuat syirik maka kemaslahatannya kembali kepada dirinya
sendiri. Allah akan membalas seluruh amal kebaikan manusia dengan
kebaikan yang berlipat ganda dan seluruh amal keburukan mereka dengan
yang setimpal.
Peribadahan manusia tidaklah akan menguntungkan Allah dan bila mereka tidak beribadah tidak pula akan merugikan-Nya.
Manusia yang sadar tentang
kemaslahatan dirinya akan beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya
dengan sesuatu apa pun. Itulah tauhid yang harus dibersihkan dari
berbagai noda syirik. Kesyirikan hanya menjanjikan kesengsaraan hidup di
alam akhirat.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga, dan tempat kembalinya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang dzolim itu seorang penolong pun.” (Al-Maaidah: 72)
Sementara mentauhidkan Allah dalam beribadah menghantarkan kepada keutamaan yang besar di dunia dan akhirat.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman
dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzoliman, bagi mereka
keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)
Kedzoliman yang dimaksud dalam ayat ini ialah kesyirikan sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas`ud. (HR. Bukhari)
Sebagai penutup kami mengajak
kepada segenap kaum muslimin untuk beramai-ramai menyambut keberuntungan
ini. Jangan kita lalai sehingga jatuh ke dalam lubang kebinasaan yang
mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Allah subhanahu wa taala berfirman:
“Katakanlah: “Sesungguhnya
orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka
sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu
adalah kerugian yang nyata.” (Az-Zumar: 15)
Wallohu a`lam bish-shawaab.
Menggapai Keutamaan Tauhid
Dalam tulisan yang lalu telah
dijelaskan tentang keharusan manusia untuk beribadah kepada Allah semata
tanpa berbuat syirik sedikit pun. Itulah yang disebut dengan tauhid
uluhiyyah. Seorang muslim adalah yang mengamalkan tauhid uluhiyyah
setelah mengakui tauhid rububiyyah. Sehingga tauhid ini menjadi tema
pembahasan kita.
Tauhid adalah ajaran
keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi pun melainkan
menyeru umatnya kepada tauhid. Sebab tauhid merupakan inti ajaran agama
samawi. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)
“Dan Kami tidak mengutus
seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya:
‘Bahwasannya tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka
beribadahlah kamu sekalian kepadaku.” (Al-Anbiyaa`: 25)
Para nabi menyeru umatnya
kepada tauhid karena memiliki keutamaan yang sangat besar. Nasib baik
umat manusia di dunia dan akhirat bergantung kepada perealisasian
tauhid. Demikian pula keselamatan hanya bisa diraih dengan bertauhid.
Allah telah menjanjikan kepada
orang-orang yang bertauhid berbagai keutamaan. Semua itu sebagai pelecut
bagi kaum muslimin untuk menggapai keutamaan tauhid tersebut.
Rasa Aman dan Petunjuk bagi Penganut Tauhid
Setiap penganut tauhid akan
mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah berupa rasa aman dan
petunjuk. Hal ini membuktikan betapa penting bagi sekalian manusia untuk
memiliki tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman
dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedzoliman, mereka
itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)
Yang dimaksud dengan kedzoliman di sini adalah syirik besar. Karena Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhu pernah berkata:
“Tatkala ayat ini turun,
mereka bertanya: Siapa diantara kami yang tidak mendzolimi dirinya?Maka
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: (Ayat ini) bukan
seperti yang kalian fahami. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman:
Sesungguhnya syirik adalah kedzoliman yang besar.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian berarti seorang yang tidak menjauhi syirik besar akan nihil perolehan rasa aman dan petunjuk secara mutlak.
Sebaliknya seorang yang bersih
dari syirik besar akan mendulang rasa aman dan petunjuk sesuai dengan
tingkat keislaman dan keimanan yang tertanam pada dirinya. Maka rasa
aman dan petunjuk yang sempurna hanya akan diraih oleh seorang yang
bertauhid dan bertemu dengan Allah tanpa membawa dosa besar yang
dilakukan secara terus-menerus.
Seorang yang bertauhid akan
menggapai rasa aman dan petunjuk sesuai dengan nilai tauhid dan akan
hilang sesuai dengan kadar maksiat. Ini apabila dia memiliki dosa-dosa
dan tidak bertaubat darinya.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Kemudian kitab itu Kami
wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami,
lalu di antara mereka ada yang mendzolimi dirinya sendiri, dan di antara
mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang bersegera
berbuat kebaikan dengan seizin Allah. Yang demikian itu adalah karunia
yang amat besar.” (Faathir: 32)
Orang yang mendzolimi dirinya
adalah orang yang mencampur adukkan amalan baik dengan amalan buruk.
Golongan ini berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka
diampuni dosanya. Bila tidak maka Allah akan menyiksanya akibat dosanya
pula. Namun Allah selamatkan dari kekalan dalam api neraka sebab dia
memiliki tauhid. Sedangkan golongan yang pertengahan adalah orang yang
hanya mengamalkan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram. Ini
adalah keadaan Al-Abror (orang-orang yang berbuat kebaikan).
Adapun golongan yang bersegera
kepada kebaikan adalah orang yang memiliki kesempurnaan iman dengan
mengerahkan seluruh kemampuannya untuk taat kepada Allah, baik dalam
berilmu maupun beramal.
Dua golongan yang terakhir akan
memperoleh keamanan dan petunjuk yang sempurna di dunia dan akhirat.
Karena sebuah kesempurnaan akan memperoleh kesempurnaan pula. Dan sebuah
kekurangan akan memperoleh kekurangan pula. Oleh sebab itu kesempurnaan
iman akan mencegah pemiliknya dari berbagai maksiat dan siksanya.
Hingga dia berjumpa dengan Rabbnya tanpa membawa satu dosa pun yang bisa
mengundang siksa. Sebagaimana Allah ta`ala berfirman:
“Mengapa Allah akan mengadzab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman?” (An-Nisaa`: 147)
Penjelasan di atas adalah
pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
rahimahumallah dan juga merupakan pendapat Ahlus-sunnah wal Jama`ah.
(lihat Qurratul `Uyuun karya Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alus- Syaikh hal. 12-13, dinukil dengan sedikit perubahan)
Rasa aman dan petunjuk yang
dimaksud dalam pembahasan ini adalah rasa aman dan petunjuk di dunia dan
akhirat. Ini pendapat yang benar menurut Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-`Utsaimin. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid 1 hal. 58)
Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang bertauhid rasa aman yang langgeng di dalam mengarungi kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan Allah telah berjanji
kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal
shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
di ridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan
mereka), sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan Aku dengan
sesuatu apa pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
maka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nuur:55)
Dalam kehidupan akhirat
seseorang yang bertauhid dengan sempurna akan menikmati rasa aman dari
kekalan dalam api neraka dan ancaman adzab. Sementara orang yang tidak
menyempurnakan tauhid karena melakukan dosa besar tanpa bertaubat akan
mengecap rasa aman dari kekalan dalam api neraka tetapi tidak merasa
aman dari ancaman adzab. Nasibnya tergantung pada kehendak Allah. Apakah
Allah mau mengampuninya atau justru mengadzabnya. Allah ta`ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah
tidaklah mengampuni dosa syirik terhadap-Nya dan akan mengampuni yang
lebih ringan dari itu bagi orang yang Dia kehendaki.” (An-Nisaa`: 116)
Seorang yang bertauhid akan
menggapai petunjuk kepada syari`at Allah, baik yang berupa ilmu maupun
amal dalam menapaki kehidupan dunia. Ketika di akhirat mereka akan
memperoleh petunjuk ke jalan menuju surga. Allah ta`ala berfirman:
“(kepada malaikat
diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta teman
sejawat mereka dan sesembahan-sesembahan yang selalu mereka sembah,
selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (Ash-Shaaffaat: 22-23)
Ayat ini menerangkan bahwa
orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka akan digiring ke
jalan menuju neraka Al-Jahim di alam akhirat. Dipahami dari sini bahwa
orang-orang yang beriman (baca: bertauhid) akan diarahkan ke jalan
menuju surga An-Na`im. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid 1 hal. 57-58)
Bertauhid kepada Allah
merupakan modal pokok untuk menggapai segala keberuntungan di dunia dan
akhirat. Itulah rahmat Allah yang sangat luas bagi para pemeluk tauhid.
Hak timbal balik ini merupakan ketetapan Allah bukan paksaan dan
kehendak seorang pun. Allah membentangkan keutamaannya bagi siapa yang
mau merealisasikan tauhid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,
“Wahai Mu’adz! Tahukah engkau hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?”
Mu’adz menjawab: “Allah dan rasul- Nya yang lebih mengetahui.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,
“Hak Allah atas hamba-Nya
adalah beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun, dan hak hamba-Nya atas Allah adalah tidak menyiksa barangsiapa
yang tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa
Allah tidak menyiksa seorang yang beribadah kepada-Nya tanpa berbuat
syirik. Maka tidak berbuat syirik belum cukup untuk menghindarkan dari
adzab Allah. Akan tetapi harus disertai dengan peribadahan kepada Allah.
Allah akan menyiksa seorang
yang tidak mau beribadah kepada-Nya walaupun tidak berbuat syirik. Ini
berarti ibadah kepada Allah dan tidak syirik harus dilaksanakan oleh
seorang hamba secara berbarengan guna menggapai keutamaan ini. Sebab hak
Allah atas hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya dan terlepas dari
berbagai noda syirik. Demikian pula status sebagai hamba Allah tidak
akan melekat pada dirinya sampai dia mewujudkan peribadahan kepada Allah
semata.
(lihat Al-Qaulul Mufid karya As-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/ 42-43)
Tentu setiap muslim
berkeinginan masuk surga disamping selamat dari adzab Allah. Masuk surga
merupakan perkara yang sangat mereka idamkan. Surga adalah tempat
kesudahan yang baik bagi mereka. Syarat memasukinya adalah dengan
bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Tauhid sangat berpengaruh dalam
menentukan nasib seorang muslim guna menggapai keutamaan ini.
Pelaksanaan tauhid secara murni dan tidak berbuat syirik sama sekali
dapat memudahkan jalan menuju surga tanpa penghalang. Maka tingkat
keberhasilan ini diukur dengan nilai tauhid yang telah dicapai oleh
masing-masing personil dalam menjalaninya.
Namun siapapun orangnya selama
dia memiliki tauhid maka tempat perhentian terakhirnya adalah surga. Ini
perkara pasti yang bersifat mutlak. Walaupun sebagian mereka harus
terlebih dahulu melalui kenyataan pahit yaitu merasakan siksa neraka.
Yang demikian dikarenakan nilai
tauhidnya tidak sempurna akibat bercampur dengan perbuatan dosa besar
tanpa bertaubat kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata,
tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, ‘dan
Isa adalah hambanya, rasul-Nya, kalimat yang dianugrahkan-Nya kepada
Maryam dan ruh dari sisinya, dan bersaksi bahwa (perihal) surga dan
neraka itu adalah benar, Allah memasukkannya kedalam Surga walau
bagaimana amalnya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu)
Al-Hafidz ‘Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,
“Makna sabda Rasulullah (…
walau bagaimana amalnya) yaitu (amalnya) yang baik maupun yang buruk.
Karena ahli tauhid mesti masuk surga. Mungkin pula maknanya: penduduk
surga memasukinya sesuai dengan amalan masing-masing dari mereka dalam
(menempati) tingkatan-tingkatannya.”
Sedangkan menurut Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang tertera dalam hadist ‘Ubadah khusus bagi seorang yang mengucapkan hal-hal yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Lalu menggandengkan dua kalimat syahadat dengan hakikat keimanan dan
tauhid yang terlampir dalam haditsnya. Sehingga dia memperoleh pahala
yang bisa memperingan timbangan dosa-dosanya, serta mengundang
keampunan, rahmat dan masuk surga pada tahapan yang pertama”.
(lihat Fathul Majid karya Asy-Syaikh Abdurrahman Alus Syaikh hal. 60)
As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Masuk surga terbagi menjadi dua jenis:
Pertama, masuk yang sempurna. Tidak didahului dengan siksa bagi seorang yang menyempurnakan amalan.
Kedua, masuk yang kurang sempurna. Didahului dengan siksa bagi seorang yang kurang beramal.
Maka seorang mukmin bila
dosa-dosanya mengalahkan kebaikan-kebaikannya, Allah akan menyiksanya
sesuai dengan kadar perbuatannya dan bisa pula tidak menyiksanya jika
berkehendak. Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni perbuatan syirik kepada-Nya dan mengampuni yang lebih ringan
dari itu bagi orang yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisa: 116)”
(lihat Al-Qaulul Mufid 1/ 72)
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah
mengharomkan api neraka bagi orang yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’
(Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah), dengan hal
itu dia mencari wajah Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Itban bin Malik radhiallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Abdurrohman bin
Hasan Alu Syaikh menjelaskan hadits ini, “Sabdanya, (..dengan hal itu
dia mencari wajah Allah) merupakan hakikat makna yang ditunjukkan oleh
kalimat La Ilaha Illallah. Yaitu berupa memurnikan peribadahan kepada Allah dan meninggalkan syirik.
Sikap jujur dalam
mengucapkannya dan keikhlasan (memurnikan ibadah) adalah dua perkara
yang saling terkait erat. Tidak didapati salah satu dari keduanya tanpa
yang lain. Maka barangsiapa yang tidak ikhlas (memurnikan ibadah)
berarti dia seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak jujur dalam
mengucapkannya berarti dia seorang munafik.
Orang yang ikhlas dalam
mengucapkannya adalah yang memurnikan ibadah kepada Zat Yang Berhak
yaitu Allah bukan kepada yang selain-Nya. Inilah yang disebut dengan
tauhid dan merupakan pondasi Islam. (lihat Qurratul Uyun halaman 18)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
memaparkan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ‘Sesungguhnya
seorang yang mencari wajah Allah harus menyempurnakan sarana-sarana yang
mendukung pencariannya. Apabila dia menyempurnakannya maka neraka
diharamkan atasnya secara mutlak.
Demikian pula jika dia
melakukan kebaikan-kebaikan dengan sempurna maka neraka diharamkan
atasnya secara mutlak. Namun jika dia kurang menyempurnakannya maka
nilai pencariannya juga menjadi kurang. Sehingga kadar pengharoman
neraka atasnya juga berkurang. Hanya saja tauhidnya mencegah dari
kekekalan di dalam api neraka. Barangsiapa yang berzina, minum khomr
atau mencuri, lalu dia mengucapkan persaksian bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak diibadahi selain Allah, dalam rangka mencari wajah Allah,
berarti dia berdusta dalam persaksiannya. Karena nabi shallallahu‘alaihi wasallam bersabda
“Tidaklah seseorang yang berzina sebagai mukmin ketika berzina”. (HR Bukhari-Muslim dari hadits Abu Huroiroh)
Apalagi bila persaksiannya itu ingin dianggap dalam rangka mencari wajah Allah.”
(lihat Al-Qaulul Mufid halaman 1/74).
Pengetahuan tentang
keutamaan-keutamaan tauhid bukan hanya sekedar sekilas info. Hendaknya
berbagai keutamaan tauhid ini mampu membangkitkan semangat kita untuk
lebih tekun mempelajari tauhid dan mengamalkannya. Merugilah orang-orang
yang ilmunya tidak membuahkan amal.
Perumpamaannya ibarat sebuah
pohon yang tidak menghasilkan buah. Bahkan lebih dari pada itu, orang
yang tidak mewujudkan tauhid baik secara ilmu maupun amal niscaya akan
sengsara di dunia sebelum akhirat.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam
mengungkap keutamaan tauhid dengan tujuan untuk membangkitkan semangat
umatnya bertauhid secara benar dan sungguh-sungguh. Bukan dengan maksud
agar mereka berpangku tangan dan merasa puas terhadap kelemahan dan
kekurangan dalam bertauhid. Keutamaan tauhid merupakan anugerah besar
yang Allah curahkan bagi orang yang bisa menggapainya dengan segala daya
dan upaya mewujudkan tauhid.
Selain keutamaan tauhid yang
telah kita utarakan dalam pembahasan lalu masih terdapat keutaman tauhid
yang lainnya. Untuk mengetahui lebih jauh, marilah kita menyimak
hadits-hadits berikut ini,
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bahwasanya Nuh ‘alaihis
salam pernah berkata kepada anaknya saat akan wafat ‘Aku perintahkan
engkau (berpegang) dengan laa ilaaha illallah. Karena langit yang tujuh
dan bumi yang tujuh jika diletakan pada satu anak timbangan dan La
ilaaha illallah pada satu anak timbangan yang lain, niscaya La ilaha
illallah lebih berat daripada yang lainnya. Dan jika langit yang tujuh
beserta bumi yang tujuh membentuk lingkaran yang tak diketahui tempat
sambungannya, niscaya Laa ilaaha illallah akan memutuskannya’.” (HR.Ahmad dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkan sanadnya dalam As-Shahihah 1/210. Lihat takhrij Fathul Majid karya Asy-syaikh ‘Ali Sinan hal. 68)
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Allah ta’ala berfirman,
‘Wahai Anak Adam jika seandainya engkau mendatangiku dengan sepenuh bumi
kesalahan sedangakan engkau tidak berbuat syirik sedikit pun niscaya
aku akan mendatangaimu dengan sepenuh bumi keampunan”. (HR. Turmudzi
dan beliau menghasankannya, Imam Muslim meriwayatkannya dari hadits
Ibnu Abbas dan Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhuma).
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Pada hari kiamat nanti,
seorang dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk. Lalu dibentangkan
sembilan puluh sembilan gulungan miliknya. Setiap gulungan sejauh mata
memandang.
Lalu dikatakan, ‘Adakah
sesuatu yang engkau ingkari dari gulungan-gulungan ini? Apakah para
pencatatku yang menjaga amalmu telah mendzolimimu?’
Dia menjawab, ‘Tidak ada wahai Rabbku’
Lalu dikatakan, ‘Apakah engkau memiliki sebuah udzur atau kebaikan?’
Maka orang ini merasa segan lantas menjawab, tidak ada.
Lalu dikatakan, ‘Benar, sesungguhnya engkau memiliki sebuah kebaikan dan engkau tidak akan didzolimi pada hari ini.’
Kemudian dikeluarkan satu
kartu miliknya yang bertuliskan, Asyhadu an La ilaaha illallah wa anna
Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan utusannya).
Maka dia berkata, ‘Wahai Rabbku apa nilai kartu ini dibanding gulungan-gulungan itu?’
Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didzolimi.’
Kemudian diletakkan
gulungan-gulungan itu pada satu anak timbangan dan kartu ini pada anak
timbangan yang lain. Ternyata timbangan gulungan-gulungan itu ringan dan
timbangan kartu ini berat”.
(HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, beliau berkata, shahih atas syarat Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Syaikh Albani dalam As-Shahihah 1 / 213 berkata, ‘Hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya’. Lihat takhrij Fathul Majid hal.69)
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata ketika menerangkan hadits ini, “Amal-amal perbuatan tidaklah
berbeda-beda keutamaannya dikarenakan bentuk dan bilangannya. Hanya saja
keutamaannya berbeda-beda sebab perbedaan keyakinan dalam hati sehingga
dua amalan bisa memiliki bentuk yang satu namun nilai perbedaan di
antara keduanya sejauh antara langit dan bumi.”
Selanjutnya beliau berkata,
“Perhatikan hadits tentang sebuah kartu yang diletakkan pada satu anak
timbangan lalu diimbangi dengan timbangan sembilan puluh sembilan
gulungan yang masing-masingnya sejauh mata memandang ternyata timbangan
kartu itu berat dan timbangan gulungan-gulungan itu ringan. Maka
pemiliknya tidak diadzab. Merupakan perkara yang dimaklumi bahwa setiap
orang yang bertauhid memiliki kartu ini. Akan tetapi kebanyakan mereka
masuk mereka dengan sebab dosa-dosanya”. (Lihat Fathul Majid hal 69)
Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin
Hasan Alus Syaikh menjelaskan, “Dalam mengucapkan dua kalimat syahadat
harus memilki ilmu dan keyakinan tentang maknanya. Selanjutnya serta
mengamalkan kandungannya sebagaimana firman Allah ta’ala,
“Berilmulah engkau bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah” (Muhammad:19).
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedangkan mereka mengetahui (berilmu tentang yang dipersaksikan). (Az-Zukhruf:86)
Mengucapkan dua kalimat
syahadat tanpa mengerti maknanya atau tidak meyakininya maka hal itu
tidak bermanfaat. Begitu pula jika tidak mengamalkan kandungannya yaitu
sikap berlepas diri dari syirik dan memurnikan ucapan serta amalan untuk
Allah. Maka tidak bermanfaat baik ucapan hati maupun lisan demikian
pula amalan hati serta anggota badan. Hal yang dikemukakan di atas
adalah kesepakatan para ulama”. (Lihat Fathul Majid hal 51).
Kita tutup pembahasan ini dengan menukilkan keterangan Asy-Syaikh Abdurrohman As-Sa’di dalam kitabnya Al-Qaulus Sadid
halaman 16-19. Di sini kita akan memaparkannya dengan lengkap mengingat
bahwa penjelasan beliau sangat gamblang dan rinci tentang
keutamaan-keutamaan tauhid.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Termasuk dari keutamaan tauhid adalah:
Dapat menghapuskan dosa-dosa.
Merupakan sebab yang paling
besar untuk melonggarkan kesusahan-kesusahan serta bisa menjadi
penangkal dari berbagai akibat buruk dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Mencegah kekekalan dalam api
neraka meskipun dalam hatinya hanya tertanam sebesar biji sawi keimanan.
Juga mencegah masuk neraka secara mutlak bila dia menyempurnakannya
dalam hati. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling mulia.
Memberi petunjuk dan rasa aman yang sempurna di dunia dan akhirat kepada pemiliknya.
Merupakan sebab satu-satunya
untuk menggapai ridho Allah dan pahala-Nya. Orang yang paling bahagia
yang memperoleh syafaat Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah yang
mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya.
Penerimaan seluruh amalan dan
ucapan, baik yang tampak dan yang tersembunyi tergantung kepada tauhid
seseorang. Demikian pula penyempurnaannya dan pemberian ganjarannya.
Perkara-perkara ini menjadi sempurna dan lengkap tatkala tauhid dan
keikhlasan kepada Allah menguat. Ini termasuk keutamaan tauhid yang
paling besar.
Memudahkan seorang hamba untuk
melakukan kebaikan- kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran.
Serta menghiburnya tatkala menghadapi berbagai musibah. Seorang yang
ikhlas kepada Allah dalam beriman dan bertauhid merasa ringan untuk
melakukan ketaatan-ketaatan. karena dia mengharapkan pahala dan
keridhoan Rabbnya. Baginya terasa ringan meninggalkan hawa nafsu yang
berupa maksiat. karena dia takut terhadap kemurkaan dan siksa Rabbnya.
Bila tauhid sempurna dalam hati
seseorang, Allah menjadikan pemiliknya mencintai keimanan serta
menghiasinya dalam hatinya. Selanjutnya Allah menjadikan pemiliknya
membenci kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Lalu Allah memasukkannya
ke dalam golongan orang-orang yang terbimbing.
Meringankan segala kesulitan
dan rasa sakit bagi seorang hamba. Semuanya itu sesuai dengan
penyempurnaan tauhid dan iman yang dilakukan oleh seorang hamba. Sesuai
pula dengan sikap seorang hamba saat menerima segala kesulitan dan rasa
sakit dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, pasrah dan ridho
terhadap ketentuan-ketentuan Allah yang menyakitkan.
Melepaskan seorang hamba dari
perbudakan, ketergantungan, rasa takut, pengharapan dan beramal untuk
makhluq. Inilah keagungan dan kemulian yang hakiki. Bersamaan dengan itu
dia hanya beribadah dan menghambakan diri kepada Allah. tidak
mengharap, takut dan kembali kecuali hanya kepada allah. Dengan demikian
sempurna keberuntungannya dan terbukti keberhasilannya. Ini termasuk
keutamaan tauhid yang paling besar.
Bila tauhid sempurna dalam hati
seseorang dan terealisasi lengkap dengan keikhlasan yang sempurna,
amalnya yang sedikit berubah menjadi banyak. Segenap amal dan ucapannya
berlipat ganda tanpa batas dan hitungan. Kalimat ikhlas (Lailaha illallah)
menjadi berat dalam timbangan amal hambanya ini sehingga tak terimbangi
oleh langit-langit dan bumi beserta seluruh makhluq penghuninya.
Perkara ini sebagaimana tertera dalam hadits Abi Sa’id dan hadits
tentang sebuah kartu yang bertuliskan La ilaha ilallah tapi mampu mengalahkan berat timbangan sembilan puluh sembilan gulungan catatan dosa dan setiap gulungan sejauh mata memandang.
Yang demikian karena keikhlasan
orang yang mengucapkannya. Berapa banyak orang yang mengucapkannya
tetapi tidak mencapai prestasi ini. Sebab di dalam hatinya tidak
terdapat tauhid dan keikhlasan yang sempurna seperti atau mendekati yang
terdapat dalam hati hamba-Nya ini. Ini termasuk keutamaan tauhid yang
tak bisa tertandingi oleh sesuatu apapun.
Allah menjamin kemenangan dan
pertolongan di dunia, keagungan, kemuliaan, petunjuk, kemudahan,
perbaikan kondisi dan situasi, serta pelurusan ucapan dan perbuatan bagi
pemilik tauhid.
Allah menghindarkan orang-orang
yang bertauhid dan beriman dari keburukan-keburukan dunia dan akherat.
Allah menganugerahkan atas mereka kehidupan yang baik, ketenangan
kepada-Nya dan kenyamanan dengan mengingat-Nya.
Cukup banyak dalil yang menguatkan keterangan-keterangan ini baik dari Al-Quran maupun As-sunnah. Wallahu a’lam“
Dengan demikian, rasanya cukup
besar dan banyak keutamaan yang Allah limpahkan bagi para hambanya yang
bertauhid. Sangat beruntung orang yang bisa menggapai seluruh
keutamaannya. Namun keberhasilan total hanya milik orang-orang yang
mampu menyempurnakan tauhid dengan sepenuhnya. Tentunya manusia
bertingkat-tingkat dalam mewujudkan tauhid kepada Allah ta’ala.
Mereka tidak berada pada satu level. Masing-masing menggapai keutamaan
tauhid sesuai dengan prestasinya dalam menerapkan tauhid. Allah
berfirman:
“Itulah keutamaan Allah,
Dia berikan kepada orang yang dikehendakinya. Dan Allah adalah dzat yang
maha memliki keutamaan yang besar.” (Al-Jumuah:4)
Merealisasikan Tauhid
Pembahasan ini merupakan tema
yang cukup menarik bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. Tentunya orang yang beriman ingin membuktikan keimanannya.
Dengan demikian dia dinobatkan sebagai seorang mu’min sejati. Tidak ada
jalan untuk mewujudkan harapan yang mulia ini melainkan dengan
merealisasikan tauhid kepada Pencipta Langit dan Bumi, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.
Merealisasikan tauhid secara
sempurna adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari campuran
syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Peribadahan
yang dilakukan harus terbebas pula dari kebid’ahan dan dosa besar yang
dilakukan dengan terus menerus. Maka seorang yang berkemauan untuk
merealisasikan tauhid secara sempurna harus memenuhi kriteria
sebagaimana yang diutarakan tadi.
Merealisasikan tauhid artinya
menunaikan dua kalimat syahadat dengan sebaik-baiknya. Yang dimaksud
yaitu mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyah, uluhiyyah, serta nama
dan sifat-Nya. Termasuk pula mentauhidkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkara mengikutinya. Pengertiannya adalah dia tidak mengikuti kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah yang disebut dengan tauhid mutaba’ah.
Seorang yang mengucapkan dua
kalimat syahadat hendaknya membersihkan tauhid dari berbagai jenis
kesyirikan dan dosa besar yang tidak disertai dengan bertaubat. Ini
merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid La ilaha ilallah. Di samping itu dia harus berlepas diri dari segala kebid’ahan (urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).
Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid Muhammadur Rasulullah.
Maka demikianlah makna merealisasikan tauhid secara sempurna.
Di samping terbebas dari
berbagai jenis syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau
tersembunyi, seorang yang bertauhid harus terlepas pula dari segala
kebid’ahan dan dosa besar yang diperbuat dengan terus menerus tanpa
bertaubat. Karena melaksanakan sebuah kebid’ahan berarti mempersekutukan
Allah dengan hawa nafsu. Demikian pula makna yang terkandung dalam
memperbuat sebuah dosa besar. (Penjelasan ini diterangkan oleh
Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh di kaset pelajaran Kitabut-Tauhid).
Tingkatan Merealisasikan Tauhid
Merealisasikan tauhid dapat dibagi menjadi dua tingkatan:
1. Tingkat yang Wajib
Yaitu seseorang merealisasikan
tauhid dengan membersihkan dan memurnikannya dari berbagai jenis
kesyirikan, kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan dengan
terus-menerus. Ini merupakan tingkat yang wajib bagi orang yang ingin
merealisasikan tauhid dengan sempurna.
2. Tingkat yang Mustahab
Tingkat ini digapai setelah
menunaikan tingkat yang pertama. Oleh sebab itu tingkat ini lebih tinggi
derajatnya dari tingkat yang pertama. Seorang yang ingin menduduki
tingkat ini harus melepaskan seluruh wujud penghambaan diri, keinginan,
dan tujuan yang menghadap kepada selain Allah. Sehingga dirinya tidak
menghadap, berkeinginan dan bertujuan untuk selain Allah sedikit pun dan
sekecil apapun. Maka hawa nafsu menjadi budaknya, sedangkan dirinya
menjadi hamba Allah secara total dan utuh.
Dengan demikian, seorang yang
menempati tingkat ini tidak hanya meninggalkan berbagai jenis
kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Namun dia juga meninggalkan
perkara-perkara yang makruh, bahkan sebagian perkara mubah yang
dikhawatirkan menggiring kepada perkara harom. Inilah yang diungkapkan
oleh sebagian ulama dengan pernyataan
“Mereka meninggalkan perkara yang tidak mengandung dosa karena khawatir terdapat dosa di dalamnya”.
Tingkatan kedua ini adalah
wujud maksimal untuk merealisasikan tauhid secara sempurna dalam meraih
derajat yang setingi-tingginya ketika masuk surga. Sedangkan tingkat
yang pertama adalah standar untuk masuk surga tanpa adzab dan
perhitungan amal.
Tentunya kedua tingkatan di atas memiliki perbedaan pula dalam mengibadahi Allah subhanahu wat’ala. Jika tingkat pertama hanya mengibadahi Allah dengan perkara-perkara yang wajib saja.
Beda halnya dengan tingkat
kedua. Pada tingkat ini peribadahan kepada Allah tidak hanya sebatas
dalam perkara-perkara yang wajib saja tetapi juga dalam perkara-perkara
yang mustahab. Tingkat pertama disebut dengan Al-Muqtasid sedangkan tingkatan kedua disebut dengan As-Saabiq bil Khairot. Wallahu a’lam.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Profil Muwahhid Sejati
Allah berfirman dalam Al-Quranul Karim,
“Sesungguhnya Ibrahim
adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah
dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang
berbuat syirik.” (QS. An-Nahl: 120)
Di sini Allah memberitakan tentang profil Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
yang merealisasikan tauhidnya secara sempurna. Beliau adalah seorang
pemimpin dan teladan dalam kebaikan-kebaikan terutama perkara tauhid.
Beliau adalah seorang yang tunduk dan patuh kepada Allah dengan
terus-menerus dalam seluruh situasi, kondisi dan tempat.
Sifat lain yang beliau miliki
yaitu menghadapkan diri kepada Allah dengan sepenuhnya tanpa berpaling
sedikit pun kepada yang selain-Nya. Seluruh sifat beliau ini merupakan
hakikat penerapan tauhid yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Pada ayat di atas diterangkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan orang-orang yang berbuat syirik (musyrikin). Kandungan ayat ini mencakup dua makna:
1. Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
tidak termasuk dari golongan musyrikin secara fisik. Artinya beliau
‘alaihis salam berlepas diri, tidak bergabung dan berkumpul bersama-sama
kaum musyrikin dengan jasadnya.
2. Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan musyrikin secara sifat dan perilaku. Artinya beliau ‘alaihis salam berlepas diri dan tidak melakukan kesyirikan sama sekali. Demikian pula beliau ‘alaihis salam tidak mengikuti adat kebiasaan kaum musyrikin yang bergelimang dengan kebid’ahan dan kemaksiatan di samping kesyirikan.
(Seluruh keterangan yang lalu disampaikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alus Syaikh di kaset Kitabut Tauhid).
Pada ayat di atas dinyatakan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
disebut sebagai satu umat padahal beliau sendirian. Maksudnya agar
orang-orang yang menempuh jalan tauhid tidak merasa ngeri karena jumlah
penganutnya sedikit.
Selanjutnya beliau ‘alaihis salam dikukuhkan oleh Allah sebagai seorang yang tunduk dan patuh kepada-Nya. Berarti beliau ‘alaihis salam
bukan seorang yang tunduk kepada penguasa atau orang kaya yang punya
harta dan yang selain mereka. Maka tidak ada yang selain mereka.
Maka tidak ada yang bisa menguasai beliau ‘alaihis salam selain Allah, baik dari golongan para penguasa maupun para orang kaya yang punya harta dan yang selain mereka. Beliau ‘alaihis salam
tidak bisa dibelai dengan kekuasaan, harta atau yang selainnya. Karena
pendirian beliau ini Allah menyebutnya sebagai seorang yang patuh dan
tunduk kepada-Nya.
Berikutnya beliau ‘alaihis salam disifatkan sebagai seorang yang hanif. Maksudnya beliau ‘alaihis salam
seorang yang hanya menghadap kepada Allah dan berpaling dari yang
selain-Nya tanpa menyimpang ke kanan dan ke kiri. Demikianlah Asy-Syaikh
Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menjelaskan tentang sifat-sifat Nabi Ibrahim
‘alaihis salam sebagaimana pada ayat di atas.
Kriteria Orang-orang Yang Bertauhid
Allah berfirman dalam Al-Qur’anul Karim,
“Sesungguhnya orang-orang
yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka, Dan orang-orang
yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, Dan orang-orang yang tidak
mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang
yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut,
(karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb
mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan
merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mu’minun:57-61)
Ayat-ayat di atas menyebutkan kriteria orang-orang yang beriman dan bertauhid dengan baik.
Tentang firman Allah,
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka
Ibnu Katsir rahimahullah
berkata, “Mereka berbuat baik dan beramal shalih karena takut terhadap
Rabb mereka dan khawatir ditimpa oleh sesuatu yang mereka tidak
inginkan. Inilah kondisi seorang mukmin, berbuat kebaikan karena takut
kepada Allah dan khawatir tidak memperoleh apa yang mereka inginkan”.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah
menyatakan, “Seorang mu’min mengumpulkan antara perbuatan baik dan rasa
takut kepada Allah. Sedangkan seorang munafik mengumpulkan antara
perbuatan jelek dan rasa aman dari siksa Allah.”
Tentang firman Allah,
“Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka”
Perlu diketahui bahwa beriman dengan ayat-ayat Allah mencakup dua hal:
1. Beriman dengan ayat Allah Al-Kauniyyah.
Maksudnya beriman bahwa segala yang terjadi di alam ini dengan taqdir dan ketentuan Allah.
2. Beriman dengan ayat Allah Asy-Syar’iyyah.
Maksudnya beriman kepada syariat yang Allah turunkan melalui Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Ayat Allah Asy-Syar’iyyah mengandung tiga hal:
a. Perintah Allah yang disyariatkan. Ini adalah perkara yang dicintai Allah.
b. Larangan Allah yang disyari’atkan. Ini adalah perkara yang dibenci Allah.
c. Kabar yang diberitakan oleh
Allah dalam syari’at-Nya. Kabar ini adalah benar dan tidak mungkin dusta
sebab datangnya dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
Tentang firman Allah,
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”
Perlu diketahui bahwa tidak
berbuat syirik yang dimaksud dalam ayat ini adalah makna yang menyeluruh
dan mencakup semua jenisnya. Artinya tidak berbuat syirik besar maupun
kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Ini adalah sifat seorang yang
merealisasikan tauhid secara sempurna.
Jika dinyatakan “tidak berbuat
syirik” sedikit pun, berarti terlepas pula dari perbuatan bid’ah dan
maksiat. Sebab berbuat bid’ah dan maksiat merupakan realisasi menjadikan
hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut dengan
syirik. Coba perhatikan firman Allah ta’ala,
“Apakah engkau tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan)-nya.” (Al-Jatsiyah:23)
Wallahu a’lam bishshawaab.