Janganlah engkau berjalan dari satu alam ke alam lain, sehingga seperti
binatang himar yang berputar, mengitari gilingan. Tempat ia berangkat
adalah tempat yang ia tuju. Namun berangkatlah dari satu alam menuju
pencipta alam, : (Dan kepada Tuhanmulah tempat tujuan akhir). Renungkan
sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasulNya,
maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya demi
dunia, ia akan meraihnya, atau kepada wanita, ia dapat menikahinya.
Hijrah seseorang tergantung apa yang dijadikan tujuan hijrahnya.
Pahamilah sabda Nabi itu, bahwa hijrah itu tergantung apa yang dijadikan
tujuan hijrahnya. Renungilah persoalan ini, jika anda punya pemahaman
yang benar.�?
Tidak ada kehidupan yang sia-sia, ibadah yang hampa, melainkan jika anda
berjalan dari alam ke alam lain, sama sekali tidak menuju kepada
Pencipta alam semesta. Kenapa diibaratkan pada himar itu? Sebab yang
dicari himar tidak lebih dari upahnya, yaitu bisa makan dan minum dari
tuannya. Apakah kita beribadah juga hanya mencari upah dari Allah? Bukan
menuju kepada Allah dan menghadap kepadaNya?
Fakta menunjukkan mayoritas orang beribadah kepada Allah, bukan demi dan
menuju Allah, tetapi demi kepentingan dirinya, demi kepentingan
dunianya, bahkan demi akhirat. Padahal demi diri, demi dunia dan demi
akhirat, semuanya itu termasuk alam, yaitu ciptaan Allah Ta’ala. Jika
demikian kita akan mengalami kesulitan Liqa’ Allah (bertemu allah),
karena kita tidak menuju kepadaNya.
Mestinya kita menyadari bahwa kita ini berasal dari Allah, dan kemana lagi kalau bukan menuju kepada Allah?
Hikmah ini sungguh menegur kita. Betapa banyak yang kita lakukan atas
nama Allah, atas nama agama, atas nama perjuangan, tetapi tidak tertuju
kepada Allah, namun demi kepentingan hawa nafsu kita sendiri.
Seluruh ubudiyah kita harus kita hijrahkan kepada Allah dan RasulNya.
Kepada Allahlah orientasi amal ibadah kita, dengan cara mengikuti jejak
Rasulullah SAW, demi cintaNya dan cinta KekasihNya itu.
Segala hal selain Allah dan RasulNya sungguh sia-sia dan hampa. Selama
ini barangkali ada ketakutan dan kekawatiran jika orientasi anda adalah
Allah dan RasulNya, kemudian anda kehilangan pekerjaan dan rizki Allah.
Padahal sebaliknya, jika kita kerja, berbuat apa saja, demi Allah dan
membela Rasulullah SAW, justru akan terbuka pintu rizkiNya.
Namun jangan seperti suatu gerakan yang membela Allah dan RasulNya,
tetapi ujungnya adalah sikap-sikap radikal dan jauh dari orintasi jiwa
yang menghadap Allah. Tetapi orientasinya menang, bangga, dan
kesombongan yang penuh arogan,. Justru ia semakin jauh dari Allah, walau
pun berpakaian, seakan-akan seperti Ahlullah, ahli ibadah.
Manusia yang bisa berhijrah kepada Allah, adalah manusia yang pergi
menuju CahayaNya. Bukan kembali ke alam kegelapan dunia. Manusia inilah
yang kelak bisa memandang dunia dengan kecamata Ilahiyah, bukan dengan
kacamata dunia yang gelap.