Dakwah yang kita emban tegak di atas dua pondasi utama: quwwah al
iman (kekuatan iman) dan quwwah al hubb (kekuatan cinta). Quwwah al iman
(kekuatan iman) terwujud melalui shihhah al i’tiqad (aqidah yang benar)
dan penyerahan diri kepada Allah swt.
Sedangkan quwwah al hubb (kekuatan cinta) akan terwujud melalui shidq
al ittiba’ (mengikuti Rasul). Allah berfirman, “Katakanlah, “Jika kamu
kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali Imran 3:31)
Yang dimaksud dengan cinta kepada Allah adalah melakukan perbuatan
yang diperintahkan-Nya, meninggalkan yang dilarang-Nya, bersabar ketika
menerima ketentuan dari-Nya, bersyukur atas segala karunia-Nya, bersabar
atas cobaan dari-Nya, ber-istighfar kepada-Nya jika berbuat dosa, ridha
dengan segala apa yang diputuskan-Nya, dan qana’ah dengan segala
pemeberian-Nya.
Apabila Anda telah dapat merealisasikan semua itu, Allah akan
memanggil Malaikat Jibril, ”Wahai Jibril, Aku mencintai si fulan, maka
cintailah ia olehmu.”
Kemudian, Jibril menyeru seluruh malaikat Allah, ”Wahai Malaikat
Allah, sesungguhnya Allah mencintai si fulan. Oleh karena itu cintailah
ia oleh kalian semua.”
Kemudian, Allah menerima kejujuran cinta Anda dengan turun ke bumi
sebagai bukti firman-Nya, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam
(hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS Maryam 19:96)
Pada saat itulah, Anda termasuk ke dalam golongan orang-orang yang
shalih. ”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang
yang saleh.” (QS Ql Ankabut 29:9)
Allahlah yang menentukan kriteria keshalihah dan akan memberikan
kepada orang-orang yang mencintai-Nya. Allah berfirman, ”Allah mencintai
mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (QS
Al Ma’idah 5:54)
Atas dasar kecintaan inilah, masyarakat yang shalih tumbuh. Kecintaan
kepada Allah telah mengikat manusia dalam sebuah jamaah muslim. Ikatan
yang dilandasi dengan kecintaan karena Allah akan semakin menguat dan
tidak akan mudah lepas. Allah berfirman, ”dan Yang mempersatukan hati
mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan
hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Anfal 8:63)
Apabila mereka telah memiliki barisan yang kuat, di hadapan Allah
mereka akan mengatakan, ” Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya
kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS Al Fatihah 1:5)
Kemudian, dilanjutkan dengan sebuah harapan agar mendapatkan jalan
yang lurus, ”(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat. “ (QS Al Fatihah 1:7)
Di dunia, mereka akan terus bersama-sama dalam kebaikan, ketakwaan,
dan kecintaan. Sedang di akhirat sana, mereka akan bersama-sama dengan
para nabi, shiddiqin (orang-orang jujur), syuhada (orang-orang yang mati
syahid), dan shalihin (orang-orang shalih). Mereka akan menjadi
pendamping yang baik di surga kelak. ”Mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi,
para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.
Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. “ (QS An Nisa 4:69)
Berdasarkan keterangan tersebut, mencintai, menghormati, dan memuji
orang-orang shalih merupakan bentuk ibadah seorang hamba untuk
ber-taqarrub kepada Allah.
Di antara tanda keimanan yang tersimpan dalam dada adalah, ”Bukanlah
bagian dari kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan
menyayangi yang lebih kecil daripadanya serta mengetahui hak para ulama
kami.” (HR. Ahmad)
Allah swt telah mengajarkan kepada kita agar menyanjung orang-orang
shalih karena Dia telah menyanjung mereka, bahkan memerintahkan kita
agar mengikuti akhlaq dan perilaku mereka. Allah berfirman,
”Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran)
ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang
Nabi.” (QS Maryam 19:41)
”Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang
tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar
janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam 19:54)
Demikian pula yang terjadi dengan kaum Anshar, mereka telah mengikuti
manhaj Al Qur’an dengan memberikan sanjungan kepada saudara-saudara
mereka dari kalangan Muhajirin. ”mereka (Anshor) mencintai orang yang
berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada
mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin),
atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS Al
Hasyr 59:9)
Suasana cinta ini mereka wariskan kepada generasi setelahnya, ”Mereka
berdoa, ”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang
telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb
kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al
Hasyr 59:10)
Abdullah bin Umar mengatakan, ”Demi Allah, kalaulah aku berpuasa pada
siang hari, pasti aku akan berbuka. Kalaulah aku sholat malam, aku
tidak akan tidur. Aku akan infakkan hartaku sedikit demi sedikit di
jalan Allah. Aku akan mati di mana kematianku telah ditetapkan bagiku.
Namun, jika aku tidak memiliki rasa cinta kepada orang-orang yang
melakukan ketaatan dan tidak ada rasa benci kepada orang-orang
kemaksiatan, semua yang telah aku lakukan tidak akan membawa manfaat
sedikitpun.” Wallahu'alam bish showab.