Bismillahhirrahmanirrahim: بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم – Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ – ...

Kamis, 26 Mei 2011

Membangun Kekuatan Cinta

Dakwah yang kita emban tegak di atas dua pondasi utama: quwwah al iman (kekuatan iman) dan quwwah al hubb (kekuatan cinta). Quwwah al iman (kekuatan iman) terwujud melalui shihhah al i’tiqad (aqidah yang benar) dan penyerahan diri kepada Allah swt.
Sedangkan quwwah al hubb (kekuatan cinta) akan terwujud melalui shidq al ittiba’ (mengikuti Rasul). Allah berfirman, “Katakanlah, “Jika kamu kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali Imran 3:31)
Yang dimaksud dengan cinta kepada Allah adalah melakukan perbuatan yang diperintahkan-Nya, meninggalkan yang dilarang-Nya, bersabar ketika menerima ketentuan dari-Nya, bersyukur atas segala karunia-Nya, bersabar atas cobaan dari-Nya, ber-istighfar kepada-Nya jika berbuat dosa, ridha dengan segala apa yang diputuskan-Nya, dan qana’ah dengan segala pemeberian-Nya.
Apabila Anda telah dapat merealisasikan semua itu, Allah akan memanggil Malaikat Jibril, ”Wahai Jibril, Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia olehmu.”
Kemudian, Jibril menyeru seluruh malaikat Allah, ”Wahai Malaikat Allah, sesungguhnya Allah mencintai si fulan. Oleh karena itu cintailah ia oleh kalian semua.”
Kemudian, Allah menerima kejujuran cinta Anda dengan turun ke bumi sebagai bukti firman-Nya, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS Maryam 19:96)
Pada saat itulah, Anda termasuk ke dalam golongan orang-orang yang shalih. ”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.” (QS Ql Ankabut 29:9)
Allahlah yang menentukan kriteria keshalihah dan akan memberikan kepada orang-orang yang mencintai-Nya. Allah berfirman, ”Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (QS Al Ma’idah 5:54)
Atas dasar kecintaan inilah, masyarakat yang shalih tumbuh. Kecintaan kepada Allah telah mengikat manusia dalam sebuah jamaah muslim. Ikatan yang dilandasi dengan kecintaan karena Allah akan semakin menguat dan tidak akan mudah lepas. Allah berfirman, ”dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Anfal 8:63)
Apabila mereka telah memiliki barisan yang kuat, di hadapan Allah mereka akan mengatakan, ” Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS Al Fatihah 1:5)
Kemudian, dilanjutkan dengan sebuah harapan agar mendapatkan jalan yang lurus, ”(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. “ (QS Al Fatihah 1:7)
Di dunia, mereka akan terus bersama-sama dalam kebaikan, ketakwaan, dan kecintaan. Sedang di akhirat sana, mereka akan bersama-sama dengan para nabi, shiddiqin (orang-orang jujur), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang shalih). Mereka akan menjadi pendamping yang baik di surga kelak. ”Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. “ (QS An Nisa 4:69)
Berdasarkan keterangan tersebut, mencintai, menghormati, dan memuji orang-orang shalih merupakan bentuk ibadah seorang hamba untuk ber-taqarrub kepada Allah.
Di antara tanda keimanan yang tersimpan dalam dada adalah, ”Bukanlah bagian dari kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih kecil daripadanya serta mengetahui hak para ulama kami.” (HR. Ahmad)
Allah swt telah mengajarkan kepada kita agar menyanjung orang-orang shalih karena Dia telah menyanjung mereka, bahkan memerintahkan kita agar mengikuti akhlaq dan perilaku mereka. Allah berfirman, ”Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.” (QS Maryam 19:41)
”Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam 19:54)
Demikian pula yang terjadi dengan kaum Anshar, mereka telah mengikuti manhaj Al Qur’an dengan memberikan sanjungan kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. ”mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS Al Hasyr 59:9)
Suasana cinta ini mereka wariskan kepada generasi setelahnya, ”Mereka berdoa, ”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hasyr 59:10)
Abdullah bin Umar mengatakan, ”Demi Allah, kalaulah aku berpuasa pada siang hari, pasti aku akan berbuka. Kalaulah aku sholat malam, aku tidak akan tidur. Aku akan infakkan hartaku sedikit demi sedikit di jalan Allah. Aku akan mati di mana kematianku telah ditetapkan bagiku. Namun, jika aku tidak memiliki rasa cinta kepada orang-orang yang melakukan ketaatan dan tidak ada rasa benci kepada orang-orang kemaksiatan, semua yang telah aku lakukan tidak akan membawa manfaat sedikitpun.” Wallahu'alam bish showab.