Bismillahhirrahmanirrahim: بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم – Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ – ...

Minggu, 19 Juni 2011

Memelihara Sikap Muraqabah

Memelihara Sikap Muraqabah PDF Print E-mail
Allah SWT berfirman (yang artinya): Dia selalu bersama kalian di mana pun kalian berada (QS al-Hadid: 4); Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di mata Allah, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi  (QS  Ali  Imran:  6);  Allah  mengetahui  mata  yang berkhianat [yang mencuri pandang terhadap apa saja yang diharamkan] dan apa saja yang tersembunyi di dalam dada (QS Ghafir: 19).
Sebagian ulama mengisyaratkan, ayat-ayat ini merupakan tadzkirah (peringatan) bahwa: Allah Maha Tahu atas dosa-dosa kecil, apalagi dosa-dosa besar; Allah Mahatahu atas apa saja yang tersembunyi di dalam dada-dada manusia, apalagi yang tampak secara kasat mata.
Di  sinilah  pentingnya  muraqabah. Muraqabah (selalu merasa ada dalam pengawasan Allah SWT) adalah salah satu maqam dari sikap ihsan, sebagaimana yang pernah diisyaratkan oleh Malaikat Jibril as. dalam hadits Rasulullah SAW, saat kepada beliau ditanyakan: apa itu ihsan? Saat itu Malaikat Jibril as sendiri yang menjawab, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Dia. Jika engkau tidak melihat Allah maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” (HR Muslim).
Demikian pula sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits penuturan Ubadah bin ash-Shamit, bahwa Baginda  Rasulullah  SAW  pernah  bersabda,  “Iman
seseorang yang paling utama adalah dia menyadari bahwa Allah senantiasa ada bersama dirinya di manapun.” (HR al-Baihaqi, Syu'ab aI-Iman, I/470).
Dalam hadits lain Baginda Rasulullah bersabda, “Bertakwalah engkau dalam segala keadaanmu!” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi).
Dalam Tuhfah al-Awadzi bi Syarh Jâmi' at-Tirmidzi, disebutkan  bahwa  frase  haytsumma  kunta  (dalam keadaan  bagaimanapun)  maksudnya  dalam  keadaan lapang/sempit,  senang/susah,  ataupun  riang-gembira/saat tertimpa bencana (Al-Mubarakfuri, VI/104). Haytsumma kunta juga bermakna: di manapun berada, baik saat manusia melihat Anda ataupun saat mereka tak melihat Anda (Muhammad bin 'Alan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin, I/164).
Terkait dengan sikap muraqabah atau ihsan ini, ada riwayat bahwa Umar bin al-Khaththab pernah menguji seorang anak gembala. Saat itu Umar membujuk sang gembala agar menjual domba barang seekor dari sekian ratus ekor domba yang dia gembalakan, tanpa harus melaporkannya  ke  majikan  sang  gembala.  Toh  sang majikan tak akan mengetahui karena banyaknya domba yang digembalakan. Namun, apa jawaban sang gembala. ”Kalau  begitu,  di  mana  Allah?  Majikanku  mungkin memang tak tahu. Namun, tentu Allah Maha Tahu dan Maha Melihat,” tegas sang gembala.
****
Jujur  harus  kita  akui,  sikap  muraqabah  (selalu merasa  dalam  pengawasan  Allah  SWT),  sebagaimana yang ditunjukkan oleh sang gembala dalam kisah di atas, makin jauh dari kehidupan banyak individu Muslim saat ini. Banyak Muslim yang berperilaku seolah-olah Allah SWT tak pernah melihat dia. Tak ada lagi rasa takut saat bermaksiat. Tak ada lagi rasa khawatir saat melakukan dosa. Tak ada lagi rasa malu saat berbuat salah. Tak ada lagi rasa sungkan saat berbuat keharaman. Setiap dosa, kemaksiatan keharaman dan kesalahan 'mengalir' begitu saja dilakukan seolah tanpa beban. Banyak Muslim saat ini yang tak lagi merasa risih saat korupsi, tak lagi ragu saat  menipu,  tak  lagi  merasa  berat  saat  mengumbar aurat,  tak  lagi  merasa  berdosa  saat  berzina,  tak  lagi merasa malu saat selingkuh, dll. Semua itu terjadi akibat mereka gagal 'menghadirkan' Allah SWT di sisinya dan melupakan  pengawasan-Nya  atas  setiap  gerak-gerik dirinya. Mengapa gagal? Karena banyak individu Muslim yang  awas  mata  lahiriahnya,  tetapi  buta  mata batiniahnya. Mereka hanya mampu melihat hal-hal yang kasat  mata,  tetapi  gagal  'melihat'  hal-hal  yang  gaib: pengawasan  Allah  SWT;  Hari  Perhitungan,  surga  dan neraka, pahala dan siksa, dst. Yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan dunia yang sedikit dan kesenangan sesaat. Tentu,  kondisi  ini  harus  diubah,  agar  seorang Muslim kembali memiliki sikap muraqabah.
****
Adanya  sikap  muraqabah  pada  diri  seorang Muslim paling tidak dicirikan oleh dua hal. Pertama: selalu berupaya menghisab diri, sebelum dirinya kelak dihisab oleh Allah SWT. Kedua: sungguh-sungguh beramal shalih sebagai bekal untuk kehidupan sesudah mati. Dua hal inilah  yang  disabdakan  oleh  Rasulullah  SAW,  ”Orang cerdas adalah orang yang selalu menghisab dirinya dan beramal shalih untuk bekal kehidupan setelah mati. Orang lemah adalah orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah dan al-Hakim).
Ketiga:  meninggalkan  hal-hal  yang  sia-sia sebagaimana  sabda  Nabi  SAW,  ”Di  antara  kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tak  berguna.”  (HR  at-Tirmidzi).  Jika  yang  tak  berguna saja—meski halal—ia tinggalkan, apalagi yang haram.
Itulah di antara wujud sikap muraqabah. Semoga kita adalah pelakunya.