Bismillahhirrahmanirrahim: بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم – Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ – ...

Sabtu, 11 Juni 2011

Mendekat di Kala Butuh

Sepakatkah Anda, bahwa saat terdekat dengan Sang Pencipta justru ketika kita sedang berada dalam keadaan terhimpit? Kalau iya, berarti tak selamanya yang baik itu datang dengan wujud yang sempurna menurut pandangan kita.
Seseorang ketika dirundung gelisah, cemas atau khawatir dengan suatu masalah. Secepat kilat ia kembali kepada Rabbnya. Namun ketika kegelisahan itu lenyap, setelah ia menangis sejadi-jadinya memohon kepada Rabbnya, iapun kembali lari meninggalkan semuanya. Melupakan rasa ketakutan yang dulu ia rasakan, melupakan tempat pengaduan terakhir yang ia bersujud dihadapan-Nya dan membuat dirinya larut dalam tiap-tiap untaian doa yang ia panjatkan.
Selepas itu ia dapat kembali bernafas lega, wajahnya cerah,serasa di dunia ini hanya dirinyalah yang paling beruntung. Permintaannya terkabulkan. Tapi ia tak sadar. Bila pengharapan yang ia kejar-kejar ternyata adalah sebuah ujian. Dalam kacamata dirinya, apa yang ia dapat itulah yang terbaik, sehingga iapun lengah akan tipu daya dunia. Namun pada hakekatnya ia sedang diperhatikan, benarkah ia telah menjadi hamba-Nya yang bersyukur? Tetesan air mata penghambaan yang kini telah mengering, akankah kembali ia ulang?
Teringat dengan dialog Sang Qudwah, Rasulullah Saw. dengan Aisyah. Ketika beliau sibuk menghidupkan malam dengan tahajud yang panjang hingga kaki beliau bengkak. Aisyah bertanya, “bukankah telah diampunkan dosamu yang lalu dan yang akan datang oleh Allah Swt.?” Dengan penuh ketawadluan beliau menjawab, “tidak patutkah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”
Bersyukurlah kepada Sang Pencipta kapan dan dimanapun berada, baik dalam kondisi sempit maupun lapang. Islam mengajarkan bertahmid. Memuji Allah dalam setiap kesempatan. Contoh kecil ketika menyolatkan orang yang wafat. Lepas takbir pertama kita diwajibkan membaca Al Fatihah. Ayat keduanya berbunyi, Alhamdullillahirabbil alamin (segala puji bagi Allah rabb semesta alam). Padahal kita dalam kondisi sangat sedih, Allah telah mencabut nyawa saudara kita dan memisahkan kita darinya. Tapi mengapa kita tetap diperintahkan untuk bersyukur? Tidak lain adalah sebagai pengajaran, bahwa kita hanyalah makhlukNya yang lemah, apa yang di atas muka bumi adalah milikNya, apapun dan bagaimanapun kondisinya kita harus ikhlas menerima keadaan dan mensyukuri segala nikmat karuniaNya.
Sabar dan terus bersabar sembari memanjatkan doa untuk diberikan yang terbaik dalam hidup ini. Bila memang yang kita impikan itu yang terbaik, pada saatnya ia akan menghampiri. Namun bila tidak, yakinlah, di kondisi saat inilah yang terbaik buat kita. Bisa jadi impian yang diharapkan kelak jusrtu membuat kita lalai untuk mengingatNya, tapi kehimpitan yang mendera saat ini membuat kita lebih dekat dan tenang bersama-Nya. Kalau kita diperkenankan memilih, maka di posisi manakah kita jatuhkan pilihan?
Dalam petikan ayatnya Allah Swt. berfirman,” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, pada hal ianya amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah : 216)