Ikhlas
adalah memurnikan niat dalam ibadah semata-mata hanya demi mendapatkan
keridhoan Allah. Apabila hanya Allah yang jadi tujuan, bukan untuk
tujuan lain, bukan untuk mendapatkan sesuatu di dunia, bukan agar dipuji
manusia, maka itulah yang namanya ikhlas.
Dalam setiap ibadah, Allah memerintahkan agar kita berlaku ikhlas. Dia berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’aam:162-163)
Hanya ibadah yang demikian itulah yang akan diterima oleh-Nya.
Kebalikan dari ikhlas adalah riya’. Maksudnya, selain ingin mendapatkan keridhoan Allah, dia juga mempunyai tujuan lain dalam ibadahnya tersebut, misalnya ingin agar dipuji manusia.
Riya’ merupakan bagian dari syirik (menyekutukan Allah). Allah tidak menerima amal yang demikian. Semua amalan tersebut adalah sia-sia belaka, bisa sebagian, bisa seluruhnya. Allah hanya akan menerima suatu amal yang ditujukan untuk Dia semata, bersih dari tendensi apapun.
Tanpa kita sadari, kadang-kadang kita telah melakukan riya’. Contohnya adalah memberitahukan kepada orang tentang shodaqoh yang pernah kita lakukan. Saat menceritakan, dalam hati kita terbersit keinginan agar orang memuji kita atau kagum atas perbuatan kita. Apalagi jika dengan sengaja kita memamer-mamerkan suatu amal kebaikan agar orang menganggap kita orang yang sholih dan dermawan.
Padahal, tak perlu semua itu orang tahu, cukup Allah yang menyaksikan seluruh perbuatan kita, karena semata-mata hanya pahala Allah saja yang kita harap. Bukan yang lain.
Tidak Sekedar Ikhlas
Kadang kita mendengar seorang berkata, “Ah yang penting ikhlas.” Atau, “Semua itu kan tergantung niatnya.” Memang benar! Semua perbuatan tergantung pada niatnya. Kalau niatnya karena Allah, jadilah amal yang sholih. Kalau niatnya bukan karena Allah, jadilah amal yang tidak sholih. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diingat, hanya perbuatan baik sajalah yang dengan niat ikhlas bisa menjadi amal sholih.
Perbuatan yang haram, meskipun dengan niat yang ikhlas, tetap tidak akan diterima dan tetap haram. Misalnya mencuri harta orang-orang kaya untuk membangun masjid. Amal yang seperti itu tentu saja akan ditolak oleh Allah subhanahu wata’ala.
Cara Menjadi Ikhlas
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar seseorang bisa berlaku ikhlas.
Yang pertama adalah ilmu. Tanpa ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan ikhlas, mustahil seseorang mampu menjadi hamba yang mukhlis. Ilmu itu meliputi: pengertian ikhlas, pentingnya ikhlas, hal-hal yang merusak keikhlasan, serta buah dari sikap ikhlas.
Yang kedua adalah bergaul dengan orang yang ikhlas. Sebagaimana kata Nabi, seseorang itu tergantung agama kawannya. Kalau dia berkawan dengan orang yang baik, maka insya Allah diapun akan turut menjadi baik.
Yang ketiga adalah membaca kisah orang-orang yang ikhlas. Dengan itu akan banyak pelajaran yang dapat diambil. Dengan mengenali kehidupan mereka, maka seseorang akan terdorong untuk mengikuti jejaknya.
Yang keempat adalah senantiasa berusaha melawan hawa nafsu. Ini adalah faktor yang sangat menentukan, sekaligus sebagai faktor yang paling berat. Untuk dapat ikhlas, seseorang dituntut untuk bisa menundukkan berbagai macam nafsu, nafsu ingin terkenal, ingin disanjung, ingin kaya, ingin kedudukan atau kekuasaan, serta nafsu-nafsu lain yang mengotori keikhlasan.
Yang kelima adalah senantiasa berdoa memohon pertolongan Allah agar bisa menjadi hamba yang ikhlas. Hanya dari Allahlah datangnya pertolongan dan kekuatan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk tidak menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya, dan aku minta ampun atas sesuatu yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad dan lainnya)
Mari kita koreksi kembali semua yang akan kita lakukan. Jangan sampai semua sia-sia hanya karena salah niat. Sepele nampaknya, namun fatal akibatnya.
